PedomanBengkulu.com, Lebong – Senin (28/9/2020) sekitar Pukul 14.10 WIB, Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Lebong menggelar rekonstruksi atau reka ulang, kasus pembunuhan Alit Suhendar (30) warga Kampung Jawa Kecamatan Lebong Utara. Yang dilakukan oleh tersangka RF (41) warga Nangai Tayau Kecamatan Amen di TPU Kampung Jawa pada 28 Agustus 2020 lalu. Reka ulang tersebut, menampilkan 37 adegan, yang diperankan tersangka dan melibatkan 6 orang saksi-saksi. Namun mengingat faktor keamanan, reka ulang dilakukan di halaman Gedung Satreskrim Polres Lebong.

Sejumlah adegan diperagakan mulai dari komunikasi via telepon seluler hingga kejadian pembunuhan, tergambarkan dalam reka ulang yang dipimpin Kanit Pidum Satreskrim Polres Lebong Ipda Albeth Salomo Sinulaki dan disaksikan Kasi Pidum Kejari Lebong, M Adyansyah.

Untuk adegan pembunuhan dimulai saat pertemuan korban bersama saksi dengan tersangka di Jembatan Kampung Jawa pada adegan 16 hingga adegan ke 26. Persisnya pada adegan ke 26 dengan TKP di TPU Kampung Jawa disaat korban terjatuh saat berusaha melarikan diri dari tersangka. Dimana dalam reka ulang adegan 26 ini terlihat jelas bagaimana tersangka berulang-ulang mengayunkan parah kearah tubuh korban. Pertama kearah perut, kepala bagian wajah sebelah kiri, kearah punggung bagian atas kiri, punggung bawah, pinggang belakang bagian bawah, pangkal paha sebelah kiri bagian belakang dan kearah lutut bagian atas kiri.

Usai reka ulang, Kanit Pidum Satreskrim Polres Lebong Ipda Albeth Salomo Sinulaki menyampaikan bahwa kegiatan reka ulang dilaksanakan untuk melengkapi sejumlah data, sekaligus untuk mencocokkan hasil visum dan keterangan tersangka dan saksi-saksi.

“Untuk reka ulang ada 37 adegan, berdasarkan hasil rekonstruksi yang kita lakukan tadi, untuk tersangka akan kita masukan pasal 340 KUHPidana. Karena unsur perencanaannya memang sudah masuk dan terlihat dari adegan reka ulang dari rumah tersangka sudah membawa parang khusus, dari situ sudah terlihat dia memang merencanakan untuk membunuh korbannya. Ancaman hukumannya maksimal seumur hidup,” singkat Kanit.[Supriyadi]