Hj Riri Damayanti John Latief

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu merilis tertekannya perekonomian global dan nasional sebagai dampak pandemi covid-19 mengakibatkan kondisi ekonomi Bengkulu diperkirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Di tengah masih terus meningkatnya jumlah warga yang terinfeksi covid-19, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengaku prihatin dengan kondisi perekonomian Bumi Rafflesia tersebut.

“Belum terlalu lama ini saya dapatkan informasi dari Rejang Lebong kalau harga karet anjlok. Lebih dari separuh dari rata-rata Rp7.500 per kilogram jadi Rp3.000 per kilogram. Sehingga banyak yang beralih ke usaha lain,” kata Riri Damayanti, Kamis (15/10/2020).

Anak pertama pasangan John Latief dan Leni Haryati ini menuturkan, tak hanya para pekebun karet, keluhan juga ia dengar dari para petani biji kopi yang pada awal 2020 lalu harganya sempat bertahan dikisaran Rp20.000 per kilogram namun turun menjadi Rp16.000 sampai Rp17.000 per kilogram.

“Kalau kondisi ini terus berlanjut, petani harus ditolong agar dapurnya tetap bisa berasap, bisa memenuhi kebutuhan pokok atau mengembangkan usahanya. Pemerintah daerah punya peran bagus dalam soal ini jika pemerintah pusat kekurangan duit,” ujar Riri Damayanti.

Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Provinsi Bengkulu ini juga meminta kepada kementerian terkait untuk menggelontorkan stimulan untuk peningkatan produksi, produktivitas nilai tambah dan mutu perkebunan sawit, karet, dan kopi untuk para petani Bengkulu.

“Ini momennya pas sekali untuk kementerian memperbanyak bagi-bagi benih, pupuk, alat untuk panen, alat transportasi, mesin, bangun jalan, bangun semua yang diperlukan masyarakat untuk meningkatkan produksi hasil-hasil perkebunan. Saat pandemi berakhir, tinggal panen raya,” tandas Riri Damayanti.

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur ini menekankan, krisis ekonomi yang kian parah akibat pandemi covid-19 seharusnya mendorong pemerintah untuk memperkuat fundamental perekonomian dengan memperkuat ekonomi petani dan masyarakat yang berkerja di perdesaan melalui perluasan perkebunan rakyat.

Menurut perempuan berparas manis itu, pembatasan sosial sempat membuat produktifitas masyarakat jauh menurun dan kondisi ini, kata dia, bisa saja terus terjadi bila tidak ada upaya untuk mengubahnya.

“Menurut saya langkah terbaik yang bisa diambil dalam kondisi seperti ini adalah mengerahkan banyak sumber daya untuk menghidupkan lahan-lahan nganggur. Di Bengkulu lahan nganggur ini banyak sekali dan semua bisa diberdayakan sebagai ladang dan kebun,” demikian Riri Damayanti. [Muhammad Qolbi]