Para pemuda hijrah mengabadikan kenangan di Pantai Appoho saat berkunjung ke salah satu pulau terluar Indonesia tersebut, baru-baru ini.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Yo, kawanmuda. Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan kita dalam kondisi sehat wal’afiat. So, jangan lupa untuk tetap bersyukur ya, kawanmuda.

Kali ini, pedomanbengkulu.com bermaksud menghidangkan penggalan cerita selingan dibalik perjalanan Wisata Umatnya Rasulullah, yaitu Khuruj Fi Sabilillah pemuda hijrah Risma Masjid Al-Manar Kota Bengkulu. Masih senada dengan tema, cerita ini berisikan tentang ungkapan syukur manusia terhadap ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Yaitu, keindahan alam Pulau Enggano yang diibaratkan sayur tanpa garam bila tak dieksplor.

Selain pulau terluar di wilayah Provinsi Bengkulu, Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berada di Samudera Hindia. Sesuai dengan sebutannya, untuk menapakan kaki di pulau ini tidak memakan waktu yang sedikit. Dua belas jam, harus dilewati sembari melawan ganasnya ombak Samudra Hindia yang terkenal ganas.

Benar, jurnalis pedomanbengkulu.com berkesempatan menyaksikan gelombang besar yang mengombang-ambingkan KM Sabuk Nusantara 52, yang ditumpangi dengan tiket seharga Rp 17.000/orang. Saat dini hari, keberangkatan Kapal Perintis dari Dermaga Pulau Baai menuju Dermaga Malakoni, pada Sabtu (26/9/2020).

Pulau Enggano, bila diartikan dalam bahasa Portugis adalah ‘kecewa’. Memiliki luas 397,2 km2[1] km2, dengan titik tertinggi 240 meter atau 787 kaki. Pulau yang berkecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara ini, berpenduduk sekitar 2.691 jiwa. Dengan kepadatan 6.71 jiwa/km2.

Menurut artikel yang bertengger dihalaman web-nya mbah google, ada sepuluh destinasi wisata keindahan alam yang dimiliki Pulau Enggano. Diantaranya, ada Batu Lubang Pantai Koomang dengan air lautnya yang sebening kaca, Tebing Batu Pakiu, Danau Bak Blau, Padang Lamun di Pelabuhan Kahyapu dan Pantai Telapak Kaki Batu Layar yang terkenal eksotis.

Serta, Pantai Taman Berburu di Desa Gunung Nanua, hutan cagar alam Teluk Klowe, Goa Karst, Pantai Ujung Batu dan lokasi Surfing di pantai Desa Kahyapu. Namun, Pedomanbengkulu.com tidak sependapat dengan hal tersebut, lantaran jika dihitung dengan jari. Bilangan sepuluh masih terlalu sedikit, untuk menunjukkan jumlah destinasi wisata di pulau terluar ini.

Sebab, menurut kacamata wisata alam. Setiap sudut Pulau Enggano ini, memiliki daya tarik dan kesan menarik tersendiri yang pantas disebut ‘pojokan surga yang tersembunyi’ di Provinsi Bengkulu. Buktinya saja, setiap desa di Pulau Enggano memiliki pantai dengan keindahan alam yang sulit untuk dilupakan, jika telah dikunjungi secara langsung.

Seperti pantai berselimut pasir kerang yang terletak di Dusun Gunung Botak Desa Banjarsari. Selain menjadi surga bagi pemancing mania, pantai ini juga menyimpan keindahan fatamorgana dan menjadi habitat, bagi umang-umang laut. Serta, laut pantai Desa Banjarsari juga banyak menyimpan keindahan karang-karang yang masih terbilang alami.

Selanjutnya, masih di desa yang sama di Dusun Pikek. Dibalik rimbunnya hutan yang diselimuti perkebunan pisang dan tak jauh dari Bandar Udara (Bandara) Yan Waika Enggano, terdapat laut dengan pantai yang memberi suasana nyaman.

Di pantai ini, selain pengunjung dapat menikmati asrinya cagar budaya alam. Pantai dengan air laut yang jernih, juga menjadi tempat bagi populasinya ikan badut atau Nemo.

Bahkan, di pantai ini juga pedomanbengkulu.com sangat merekomendasikan pengunjung yang hobi menyelam, untuk ber-snorkeling-ria. Lantaran, laut pantai ini menyimpan berbagai bentuk terumbu karang, aneka tumbuhan laut dan jenis-jenis ikan laut yang indah dipandang.

Kemudian, Pantai yang berlokasi di Desa Meok. Secara pribadi, pantai ini sedikit mengingatkan dengan pantai yang terdapat di Nusa Tenggara Barat (NTB), Pantai Maluk yang juga berada di kepulauan. Yaitu, pulau Sumbawa.

Pantai ini, sedikit diselimuti suasana cagar alam hutan. Namun, tetap memberi kenyamanan unik yang tak dimiliki pantai-pantai lain di Indonesia.

Pantai Meok, sangat cocok dijadikan tempat untuk menikmati indahnya senja-jingga dikala matahari akan tenggelam.

Selanjutnya, pantai karang bercampur pasir putih di Desa Apoho. Sama seperti Pantai Meok, lokasi pantai ini berada dibalik rimbunnya tumbuhan liar yang berdekatan dengan pemukiman warga.

Pantai di Desa Apoho yang lokasinya tak jauh dari Masjid Al-Ghufron dan Polsek Enggano ini, memberi sensasi yang berbeda. Apabila pemerintahan setempat memberi sedikit polesan, sebagai bentuk perhatian pantai ini bakal sempurna bagi penggila wisata pantai dalam menikmati liburan.

Selain, terdapat fatamorgana yang memanjakan mata. Pantai di Desa Apoho juga menjadi, persinggahan bagi burung bangau liar.

Pada satu moment, jurnalis pedomanbengkulu.com mendapati pemandangan burung bangau yang tengah berendam di pantai tersebut di sela-sela terumbu karang dan tumbuhan-tumbuhan, tempat yang menjadi rumah-rumah bagi Nemo berwarna hitam-putih dan orange-putih. Bahkan, di pantai ini juga berdiri kokoh sebatang ‘Pohon Bonsai tunggal’ yang berjarak sekitar 15 meter dari bibir pantai.

Nah, kawanmuda. Sepertinya kita telah sampai dipenghujung cerita selingan dari perjalanan pemuda hijrah yang melakukan Khuruj Fi Sabilillah selama 40 hari. Apabila terdapat, salah huruf dalam pengetikan cerita ini. Itu, berasal dari kesalahan dan kebodohan penulis.

Apabila terjadi, ketidaksamapahaman penulis juga meminta maaf. Lantaran, cerita ini diterbitkan hanya sebagai bentuk mensyukuri ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Al-Fatih