PedomanBengkulu.com, Bengkulu Tengah – Dalam mewujudkan pendidikan berlalu lintas, Polres Bengkulu Tengah (Benteng), menjalin kerja sama atau MoU dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Benteng. Dengan adanya MoU ini, Dispendik akan memasukkan pelajaran lalu lintas dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarga Negaraan (PPKN), Selasa (20/10/2020).

Dirlantas Polda Bengkulu, Kombes Pol. Budi Mulyanto didampingi Kapolres Benteng, AKBP, Andjas Adipermana menjelaskan, tujuan adanya kerja sama antara kepolisian dengan pemerintah daerah ini untuk menyelamatkan generasi 15-19 tahun dari korban kecelakaan lalu lintas yang bersifat fatal, seperti luka berat hingga meninggal dunia.

“Karena dalam data sudah jelas, se Indonesia ini pada tahun 2017-2018 setiap harinya ada 100 orang yang berusia 15 – 19 tahun yang terlibat kecelakaan lalu lintas, baik itu sebagai pelaku maupun korban. Memang untuk tahun 2020 kasus kecelakaan tersebut menurun, namun menurun yang dikarenakan sekolah tidak masuk melaksanakan KBM tatap muka,” jelasnya.

Budi menambahkan kepolisian ingin tetap mempertahankan data kecelakaan ini tetap menurun, dan tidak meningkat kembali. Karena itu pihaknya ingin bekerja sama dengan Dinas Dikbud untuk memasuki mata pelajaran lalu lintas ini dan memberikan pengetahuan kepada para siswa, sebab menyelamatan generasi muda merupakan tugas bersama.

“Langkah strategis yang kita ambil dalam memanajemen dan memberikan mata pelajaran lalu lintas ini, kita bersama Dinas Dikbud akan menyiapkan anggaran, baik itu penggunaan anggaran dana BOS atau dana lainnya, yang dipergunakan untuk memperbanyak modul, metodenya dan sarana prasarana penunjang lainnya,” ungkapnya.

Lanjut Budi, tidak hanya kepada usia 15 – 19 tahun, namun nantinya sosialisasi ini akan diberikan hingga ke orangtua. “Sehingga orangtua nantinya bisa berkontribusi dalam menyelamatan anak-anak mereka, dengan meningkatkan kesadaran keselamatan berlalu lintas,” ujar Budi.

Di tempat sama, Kepala Dinas Dispendik Benteng, Saidirman, SE, MM sangat mendukung dan setuju sekali adanya kerjasama untuk memasukkan mata pelajaran lalu lintas ke mata pelajaran siswa SD, SMP dan SMA. Mengenai kesiapan guru dalam memberikan mata pelajaran ini, semua guru akan dibekali modul setiap mereka memberikan mata pelajaran lalu lintas kepada setiap siswa.

“Jadi dalam memberikan materi lalu lintas ini kepada siswa, kita merasa tidak ada masalah karena sudah dibekali dengan modul. Nantinya untuk modul ini akan diperbanyak. Saat ini juga mengenai sosialisasi mata pelajaran lalu lintas sudah dimulai, dan sudah masuk dalam kurikulum pelajaran siswa SD, SMP dan SMA,” terangnya.

Saidirman berharap dengan adanya mata pelajaran ini bisa menurunkan angka kecelakaan lalu lintas yang menimpa anak usia 15 – 19 tahun. “Selain itu dengan adanya mata pelajaran ini kita sama-sama tahu bahwa betapa pentingnya keselamatan nyawa kita dan betapa pentingnya kita dalam disiplin berlalu lintas,” tutup Sadirman. [Hendri Suwi]