PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Kakak-kakak perempuan atau yang dalam bahasa Minang dikenal dengan sebutan uni-uni bertekad memenangkan pasangan calon gubernur-wakil gubernur Bengkulu Helmi-Muslihan. Pasangan nomor urut satu tersebut dinilai sebagai pasangan serasi harapan mande.

“Uni bersama uni-uni yang lain tadi sudah sama-sama sepakat akan keliling Bengkulu untuk mensosialisasikan pasangan harapan mande agar nanti dicoblos tanggal 9 Desember 2020, Helmi-Muslihan nomor urut satu,” kata peraih Anugrah Kharisma Wanita Kartini 2004 Hj Asmiar Amir SSos.I, Sabtu (17/10/2020).

Tokoh perempuan Ikatan Keluarga Pandan Maninjau itu menjelaskan, Helmi-Muslihan dinilai uni-uni sebagai pemimpin yang akan membawa Bengkulu maju, sejajar dengan provinsi-provinsi hebat di Asia.

“Alhamdulillah lihat Kota Bengkulu sekarang dibandingkan 10 tahun yang lalu. Pembangunan pesat. Masjid-masjid rame. Bahagia dan religius,” ungkap Asmiar.

Angota DPRD Kota Bengkulu 1999-2004 ini mengimbau ibu-ibu di Bengkulu untuk sama-sama mewujudkan Bengkulu yang bahagia dan religius dengan cara mencoblos nomor urut satu Helmi-Muslihan pada 9 Desember 2020.

“Semua anak yatim harus punya orangtua asuh, semua janda berhak bahagia, semua orang sakit harus disembuhkan dengan rumah sakit yang memanusiakan manusia. Semoga Allah rida dan menolong usaha kita bersama, jadikan Helmi-Muslihan sebagai gubernur-wakil gubernur,” tutup Asmiar Amir.

Silaturahmi uni-uni Bengkulu difasilitasi Dewan Pimpinan Wilayah Perempuan Amanat Nasional (PUAN) Bengkulu, Jumat (16/10/2020).

Silaturahmi digelar di Kantor DPD PAN Kota Bengkulu pimpinan Ketua Teuku Zulkarnain.

Terlansir di laman BengkuluEkspress.com, nama Asmiar Amir SSos I tidak asing bagi warga Kota Bengkulu, khususnya bagi para kaum hawa yang tergabung dalam kelompok-kelompok pengajian. Sebagai ustadzah, ibu dengan 5 anak ini dinilai oleh lingkungannya sebagai sosok yang pandai bergaul, ramah, lurus, rendah hati dan sederhana.

Karakternya yang demikian itulah membuat banyak organisasi perempuan mendorong ibu 57 tahun ini untuk menjadi pimpinan, meskipun tidak semua ia terima.

Terlahir di Baturaja, 15 Juli 1955 di Rumah Sakit Belanda, awal mulanya Asmiar Amir hanya  seorang ibu rumah tangga. Sebagai istri dari Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kebun Dahri Almarhum H Yesmi Sutan Pamenan, ia juga berperan membantu suaminya mengembangkan Muhammadiyah di daerah sekitar rumahnya. Kemudian pada tahun 1990,  ia diminta oleh seorang pemuka Muhammadiyah Hj Nurjanah Ismail untuk memberikan ceramah rutin setiap Jum’at di Masjid Babussalam di Jalan P Natadirdja km 8. Disinilah ia memulai karirnya sebagai juru ceramah atau ustadzah.

Meledaknya reformasi 1999 yang menghasilkan sistem politik baru di Indonesia, ikut merubah karir Asmiar Amir secara drastis. Sebagai salah satu pimpinan Aisyiah ia ikut terlibat dalam mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) di Bengkulu. Dengan posisinya itu, ia lantas diberikan amanah sebagai anggota legislatif kota dari PAN periode 1999-2004.

Selama menjabat sebagai wakil rakyat selama 5 tahun, Asmiar dikenal gigih membela  hak-hak kaum pinggiran. Ia membuka pintu rumahnya 24 jam sehari untuk menampung keluh kesah dan aspirasi masyarakat.

Pernah suatu kali sekitar pukul 11 malam, Asmiar didatangi oleh seorang pemilihnya yang meminta agar Asmiar memperjuangkan tanahnya yang diserobot oleh salah satu pejabat. Setelah persoalan tersebut dibawanya ke ranah hukum, tanah itupun kembali kepada pemiliknya yang sah.

Ia juga pernah tercatat membantu kenaikan gaji penyapu jalanan. Hal ini dilakukannya karena perasaan senasib dengan para penyapu jalanan yang  umumnya adalah kaum perempuan.

Selain menekuni profesinya sebagai ustadzah, Asmiar juga masih terus aktif dalam banyak  organisasi sosial khususnya yang beranggotakan kau perempuan.

Baginya, organisasi merupakan rumah semesta tempat dimana ia dapat memperluas persaudaraan dan  kekerabatan. Dalam penilaiannya, perempuan Bengkulu cukup aktif dalam banyak pengajian dan majlis taklim. Hanya menurutnya, keimanan mereka harus terus dipupuk. Sebab, ia  sangat yakin bila masa depan suatu kaum terletak pada kaum perempuan. [Muhammad Qolbi]