Ilustrasi

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Yoo, kawanmuda. Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa ta’ala masih mempertemukan dalam kondisi sehat wal’afiat. Sungguh, suatu rezeki dan nikmat yang tiada banding dari Allah Subhanahu wa ta’ala dalam menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada hamba-hambanya.

Buktinya, allah masih memperkenankan paru-paru memompa udara dan berbagi ilmu pengetahuan seputar sejarah Islam di Dunia ini. Bahkan, nikmat itu tidak bisa diukur dengan bilangan angka terbesar dalam matematika sekalipun.

Cukup untuk muqadimahnya ya, kawanmuda. Jikalau terlalu panjang, pastinya kawanmuda jadi bosan dan dongkol. Sehingga, mengakibatkan kawanmuda bergumam sendiri deh. He, he, he.

Kali ini, pedomanbengkulu.com akan menghidangkan kisah dari Sayyidina Bilal bin Rabah Al-Habsyi. Muadzin pertama yang selalu berada disamping Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam (SAW).

Sayyidina Bilal Al-habsyi, adalah seorang sahabat yang masyhur. Ia, seorang muadzin tetap di Masjid Nabawi Al-munawarah.

Awalnya, Bilal merupakan budak milik seorang kafir bernama Umayyah bin Khalaf. Kemudian, atas kehendak Allah Shubahanahu Wa Ta’ala (SWT) memutuskan memeluk Islam dan menyebabkan, ia banyak menerima siksaan tuannya.

Umayyah bin Khalaf adalah seorang kafir yang sangat membenci Islam, hingga memusuhi kaum muslimin.

Pada suatu hari, Umayyah memerintah Sayyidina Bilal Radhiyallahu anhu untuk berbaring di atas padang pasir, pada siang hari yang teramat panas. Dibawah terik matahari sambil menaruh batu besar di dadanya, sehingga membuat Bilal tak bisa bergerak.

Lalu, Umayyah berkata, “Apakah kamu siap mati seperti ini atau tetap hidup dengan syarat, kamu meninggalkan Islam,”. Dalam kondisi memojokkan itu, Bilal bin Rabah menjawab, “Ahad, Ahad. (Hanya satu yang berhak disembah),”.

Tak hanya itu, Umayyah yang tak puas menyiksa Bilal pada siang hari. Melanjutkan kekejiannya itu, ketika malam tiba. Saat itu, Bilal dirantai dan dicambuk terus-menerus. Sehingga, sekujur tubuhnya dipenuhi luka.

Keesokan harinya, dengan luka yang masih membasahi tubuhnya. Bilal kembali dijemur di padang pasir, sehingga luka cambuk yang ia terima semakin parah.

Dalam hal itu, tuannya berharap Bilal meninggalkan Islam atau menggelepar mati. Bahkan, orang yang diutus melakukan penyiksaan terhadap Bilal sampai keletihan dan bergantian.

Penyiksaan yang diterima Bilal dalam mempertahankan Islam, tak hanya dari Umayyah bin Khalaf saja. Namun, Abu Jahal dan kaum kafir lainnya ikut menyiksa Bilal sekuat tenaga.

Seketika itu, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang tak kuasa menyaksikan penderitaan itu, berinisiatif menebus atau membeli Bilal. Setelah mendapat kesepakatan dari Umayyah bin Khalaf, Abu Bakar Radhiyallahu anhu langsung memerdekakan Bilal bin Rabah Al-habsyi.

Adapun faidah dari sepenggal kisah Bilal bin Rabah, yaitu orang musyrik menjadikan berhala sebagai sesembahan. Sedangkan Islam, mengajarkan tauhid.

Maka itu, dari lisan Bilal Al-habsyi selalu terucap, “Ahad, Ahad,”. Hal itu, dikarenakan hubungan dan cintanya yang sangat tinggi kepada Allah SWT.

Dalam cinta dunia yang palsu, sering terlihat seseorang yang jatuh hati tentu merasa nikmat bila menyebut nama orang yang dicintai. Lalu, bagaimana dengan cinta kepada Allah SWT yang mendatangkan kesuksesan dunia dan akhirat.

Lantaran cintanya kepada Allah SWT itulah, Sayyidina Bilal Radhiyallahu anhu didera dengan berbagai siksaan. Ia pernah diserahkan kepada anak-anak Makkah untuk diarak, ke dalam lorong-lorong atau jalanan.

Akan tetapi, bibirnya selalu mengucapkan, “Ahad, Ahad,”. Dengan pengorbanan itu, ia mendapat kehormatan sebagai muadzin Rasulullah SAW. Baik ketika di Madinah, maupun dalam perjalanan.

Setelah Baginda Nabi Muhammad SAW wafat, Bilal tinggal di Madinah untuk beberapa saat. Namun, lantaran melihat Rasulullah SAW sudah tak ada lagi ditempatnya, sulit baginya untuk terus tinggal di Madinah Thayyibah.

Oleh karena itu, muncul niatnya untuk menghabiskan sisa hidup dalam berjihad di Negeri Syam. Suatu ketika, dalam tidurnya Bilal mimpi berjumpa Rasulullah SAW.

Kemudian, Beliau bersabda, “Wahai Bilal, masihkah kamu setia kepadaku ?. Mengapa kamu tidak pernah menziarahiku,”. Begitu bangun, secepat kilat Bilal pergi ke Madinah.

Setibanya di sana, kedua cucu Rasulullah SAW. Yaitu, Hasan dan Husain meminta Bilal mengumandangkan adzan. Lantaran kecintaannya kepada kedua cucu Rasulullah SAW itu, iapun tak dapat menolaknya.

Ketika suara adzan yang sama seperti pada masa hidup Rasulullah SAW sampai ke telinga penduduk Madinah, kaum muslimin gempar. Para wanita menangis dan keluar dari rumah-rumah mereka.

Setelah tinggal dan istirahat beberapa hari di Madinah, Bilal pun kembali ke Syam. Menjelang tahun 20 Hijriah, Bilal wafat di Damaskus.

Demikian sepenggal kisah Bilal bin Rabah Al-habsyi yang menahan berbagai siksaan, demi mempertahankan Islam. Semoga dari kisah ini, kita semua bisa mengambil pelajaran dan menambah ilmu pengetahuan yang baik dalam berikhtiar di kehidupan fana ini.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Sumber : Kitab Fadhilah Amal

Kurnia Al-fatih