Ilustrasi

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Yoo, kawanmuda. Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa ta’ala masih mempertemukan dalam kondisi sehat wal’afiat. Sungguh, suatu rezeki dan nikmat yang tiada banding dari Allah Subhanahu wa ta’ala dalam menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada hamba-hambanya.

Buktinya, allah masih memperkenankan paru-paru memompa udara dan berbagi ilmu pengetahuan seputar sejarah Islam di Dunia ini. Bahkan, nikmat itu tidak bisa diukur dengan bilangan angka terbesar dalam matematika sekalipun.

Cukup untuk muqadimahnya ya, kawanmuda. Jikalau terlalu panjang, pastinya kawanmuda jadi bosan dan dongkol. Sehingga, mengakibatkan kawanmuda bergumam sendiri deh. He, he, he.

Kali ini, pedomanbengkulu.com akan menghidangkan sepenggal cerita tentang usaha Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam (SAW), dalam menyampaikan Agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT). Yaitu, ajaran Islam kepada umat manusia.

Sembilan tahun sejak masa kerasulan, Nabi Muhammad SAW telah berusaha dengan segenap hati dan jiwa. Menyampaikan ajaran Islam dan mengusahakan hidayah, demi perbaikkan kaumnya di Kota Makkah.

Namun, bukannya sambutan baik malah Rasulullah SAW mesti mendapati penolakan yang begitu hebat. Saat itu, kebanyakan orang-orang Makkah selalu menyakiti, memperolok-olok dan berbuat semena-mena (suatu hal tidak wajar) kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Kecuali, sebagian kecil orang-orang yang telah memeluk Islam dan beberapa orang yang selalu membantu, walaupun belum mengucap kalimah syahadat.

Paman Baginda Rasulullah SAW, Abu Thalib termasuk orang yang baik hati, meskipun belum memeluk Islam. Ia selalu membantu Rasulullah SAW, dalam segala bentuk.

Memasuki dekade pertama perjuangan dakwah, ketika Abu Thalib meninggal dunia. Kaum kafir seakan mendapat kesempatan untuk memcegah perkembangan Islam dan menyakiti, kaum muslimin secara leluasa.

Kemudian, Rasulullah SAW pun bertolak ke Negeri Thaif yang didiami kabilah Tsaqif yang berjumlah besar. Dengan harapan apabila kabilah tersebut masuk Islam, kaum muslimin akan terbebas dari penderitaan dan Thaif akan menjadi pondasi penyebaran agama.

Setibanya di Thaif, Baginda Rasulullah SAW langsung menemui tiga orang tokoh yang dihormati. Dengan kerendahan hati, beliau berbincang sembari mengajak mereka kepada agama Allah SWT dan mau membantu menyebarkan Agama Islam.

Akan tetapi, bukannya menerima atau setidaknya berprilaku sopan kepada seorang tamu. Sebagaimana adat Bangsa Arab yang terkenal, sangat memuliakan tamu. Malah, tanpa basa-basi mereka menyambut Rasulullah dengan sikap dan akhlak yang sangat buruk.

Bahkan, sangkin biadabnya mereka tidak rela atau memperkenankan Rasulullah tinggal atau setidaknya istirahat disana. Padahal, menurut adat mereka. Orang yang dianggap sebagai tokoh wajib berbicara dengan sopan dan berakhlak mulia.

Salah seorang dari mereka berkata, “Oh, kamukah orang yang diutus oleh Allah sebagai Nabi ?,”. Kemudian, orang kedua melanjutkan, “Apakah Allah tidak menemukan selain kamu untuk diutus sebagai rasul ?,”. Lalu, orang ketiga menyahut, “Aku tidak mau berbicara dengan kamu. Sebab, jika kamu seorang nabi seperti pengakuanmu, lalu aku menolakmu, tentu aku tidak lepas dari musibah. Jika kamu pembohong, maka aku tidak mau berbicara dengan pembohong,”.

Akan tetapi, Baginda Rasulullah SAW memiliki hati yang begitu teguh laksana bongkahan batu karang. Beliau tidak berputus-asa dan terus berusaha mendekati masyarakat umum, sayangnya saat itu tidak ada satu orangpun yang hendak mendengar ucapan beliau.

Jangankan menerima, bahkan mereka menghardik dan meneriakkan. “Tinggalkan segera kota kami !, Dan pergilah kemanapun kamu suka !,”.

Ketika Nabi Muhammad SAW tidak dapat mengharapkan mereka dan bersiap-siap untuk kembali, mereka malah memerintahkan anak-anak Kota Thaif membuntuti perjalanan Rasulullah. Lalu mengganggu, mencaci dan melempari Rasulullah SAW dengan batu.

Sehingga, kedua sendal yang beliau pakai berlumuran dengan darah. Dalam keadaan seperti itulah, Rasulullah SAW meninggalkan Kota Thaif.

Selanjutnya, ditengah perjalanan. Tatkala kondisi dalam keadaan aman dari gangguan anak-anak nakal itu, Rasulullah pun berdoa kepada Allah SWT.

“Ya Allah, aku adukan kepadamu lemahnya kekuatanku, habisnya upayaku dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai yang maha penyayang melebihi sekalian penyayang, engkaulah tuhan orang-orang tertindas. Dan engkaulah tuhanku. Kepada siapakah engkau serahkan diriku ?. Kepada orang asing yang akan memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang engkau kuasakan kepadanya segala urusanku ?. Tiada keberatan bagiku, asalkan engkau tidak mutka kepadaku. Perlindunganmu sudah cukup bagiku. Aku berlindung kepadamu dengan nur dzatmu yang menyinari segala kegelapan dan dengannya, menjadi baik segala urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari turunnya kemarahanmu kepadaku atau kemurkaanmu kepadaku. Aku sanggup berbuat apa saja, hingga engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan denganmu,”.

Lalu, Allah SWT pun memperlihatkan keperkasaannya dengan mengutus Malaikat Jibril Alaihis Salam memberi salam kepada Rasulullah dan berkata. ” Allah Subhanahu Wa Ta’ala mendengar ucapanmu dan jawaban kaummu. Dan dia mengutus kepadamu malaikat penjaga gunung agar siap melaksanakan apapun perintahmu kepadanya,”.

Kemudian, melebihi kecepatan kilat malaikat penjaga gunung pun datang dan memberi salam, kepada Rasulullah SAW seraya berkata. “Apapun yang engkau perintahkan akan kulaksanakan. Bila engkau sukai, akan aku benturkan gunung-gunung yang ada disekitar kota ini sehingga siapa saja yang tinggal diantaranya akan hancur binasa. Atau apapun hukuman yang engkau inginkan,”.

Lalu, Baginda Rasulullah SAW yang bersifat penyayang dan mulia menjawab. “Aku hanya berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seandainya saat ini mereka tidak menerima Islam. Semoga kelak diantara keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,”.

Adapun faidah dari kisah tersebut. Yaitu, akhlak Baginda Rasulullah SAW yang mulia. Patut dicontoh dan lebih baik lagi diamalkan, dalam berikhtiar mengarungi kehidupan di Dunia sementara ini.

Saat ini, kita mengaku sebagai pengikut Rasulullah SAW namun ketika sedikit kesulitan dan celaan menimpa, kita langsung marah bahkan menuntut balas seumur hidup. Kezhaliman dibalas dengan kezhaliman, sambil kita terus mengaku sebagai umat Baginda Nabi Muhammad SAW. Meskipun, mengalami penderitaan dan kesusahan yang berat, Baginda Rasulullah SAW tidak berdoa buruk dan tidak menuntut balas.

Demikian sepenggal cerita penjalanan dakwah Baginda Rasulullah SAW, dalam usahanya menyebarkan agama Allah SWT. Semoga dari kisah ini, kita semua bisa mengambil pelajaran dan menambah ilmu pengetahuan yang baik dalam kehidupan fana ini.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Sumber : Kitab Fadhilah Amal

Kurnia Al-Fatih