IST/Umar Bin Abdul Aziz

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Yoo, kawanmuda. Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan dalam sehat wal’afiat. Sungguh, suatu rezeki dan nikmat yang tiada bandingan. Bahkan, bilangang angka yang terbesar dalam matematika tidak bisa menghasilkan jumlah dari nikmat dan kasih sayang yang telah, Allah Subhanahu wa ta’ala limpahkan.

Cukup untuk muqadimahnya ya, kawanmuda. Jikalau terlalu panjang, pastinya kawanmuda akan bosan dan jadi dongkol sendiri deh. He, he, he.

Kali ini, pedomanbengkulu.com akan menghidangkan sepenggal artikel tentang Zuhudnya Khulafahurasyiddin yang ke-lima, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Selain itu, artikel yang bercerita mengenai sejarah Islam ini mengajak kawanmuda dan kawanhijrah, mengambil pelajaran baik yang ‘insya-allah’ bermanfaat guna berikhtiar dalam menjalani kehidupan dunia sementara ini.

Dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri, sebagaimana tercantum dalam kitab Sunan Abu Daud. Umar bin Adul Aziz adalah Khulafahurasyiddin yang ke-lima, bagi kaum muslimin.

Umar bin Abdul Aziz lahir di Hulwan, sebuah desa di Mesir. Dalam kisahnya, beliau tumbuh dan besar di Kota Madinah.

Ketika kecil, Umar bin Abdul Aziz kerap berkunjung ke rumah paman dari ibunya, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab. Setiap kali pulang, ia selalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin mengikuti jejak kakeknya.

Lalu, sang Ibunda pun langsung menanamkan semangat (jazbah) dalam dirinya. Bahwa nanti, ia akan hidup seperti kakeknya yang merupakan seorang ulama yang wara’.

Hal itu, terbukti ketika dia di anugerahi oleh Allah menjadi Khalifah Bani Umayyah. Keadilan, kesejahteraan dan kebijaksanaan bersatu-padu dalam setiap kebijakan yang diterapkannya.

Umar juga dikenal sebagai pribadi yang zuhud (sederhana), pada masa kepemimpinannya sebagai khalifah. Mulai dari cara berpakaian hingga kebijakan-kebijakan yang dibuat.

Dari Maslamah bin Abdul Malik berkata; “Saya datang menjenguk Umar bin Abdul Aziz saat dia sedang sakit. Saya melihat pada tubuhnya menempel baju yang sangat kotor.

Kemudian, saya katakan pada Fathimah binti Abdul Malik (istri Umar bin Abdul Aziz). “Tidakkah kau cuci bajunya?”, Dia berkata, “Demi Allah, dia tidak memiliki pakaian lain selain pakaian tersebut,”.

Di samping itu, Umar sang khalifah pun pernah ditanya perihal kezuhud-annya. Dengan kewibawaan, Umar menjawab dengan jawaban yang cerdas.

Dari Sa’id Suwaid berkata; “Umar bin Abdul Aziz melakukan shalat Jum’at di masjid bersama orang banyak dengan baju yang bertambal di sana-sini. Salah seorang yang hadir berkata, “‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah mengaruniakan kepadamu kenikmatan. Mengapa tidak kau pergunakan walau sekadar untuk berpakaian?”.

Umar bin Abdul Aziz tertunduk sesaat, lalu mengangkat kepalanya seraya berkata. “Sesungguhnya berlaku sederhana yang paling baik adalah pada saat kita kaya dan sebaik-baik pengampunan adalah saat kita berada dalam posisi kuat,”.

Walaupun sang khalifah itu memiliki jabatan tertinggi dalam dinastinya, hal itu tak menjadikannya mencintai harta yang berlebihan. Hal itu, terbukti dalam suatu moment yang diperlihatkan oleh Allah Subhanahu Wa ta’ala.

Pada suatu saat, anaknya yang bernama Abdul Aziz berkata. “Abu Ja’far Al-Manshur bertanya pada saya, “Berapa jumlah kekayaan ayahmu saat diserahkan padanya kendali khilafah ?.
“Saya katakan, “Empat puluh ribu dinar?”.
Dia bertanya, “Lalu berapa kekayaan ayahmu saat dia meninggal dunia?”.
Saya katakan, “Empat ratus dinar. Itupun kalau belum berkurang,”.

Dari Yusuf bin Ya’qub Al-Kahil berkata. “Umar bin AbdulAziz memakai pakaian dari bulu unta yang pendek. Sedangkan penerangan rumahnya terdiri dari tiga bambu yang di atasnya ada tanah,”.

‘Atha’Al-Khurasani berkata. “Umar bin Abdul Aziz memerintahkan pelayannya untuk memanaskan air untuknya. Pelayannya itu memanaskan air di dapur umum. Kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkannya untuk membayar setiap satu ruas kayu dengan satu dirham,”.

Dilihat dari pribadinya yang zuhud, pantaslah dia dinobatkan sebagai khulafaurrasyiddin yang ke-lima.

Demikian, sepenggal cerita tentang Umar bin Abdul Aziz yang dapat dihidangkan pedomanbengkulu.com, kepada pembaca setia. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisah khalifah sederhana tersebut.

Sumber : Facebook Sejarah Islam.

Kurnia Al-Fatih