Ilustrasi

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Yoo, kawanmuda. Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa ta’ala masih mempertemukan dalam kondisi sehat wal’afiat. Sungguh, suatu rezeki dan nikmat yang tiada banding dari Allah Subhanahu wa ta’ala dalam menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada hamba-hambanya.

Buktinya, allah masih memperkenankan paru-paru memompa udara dan berbagi ilmu pengetahuan seputar sejarah Islam di Dunia ini. Bahkan, nikmat itu tidak bisa diukur dengan bilangan angka terbesar dalam matematika sekalipun.

Cukup untuk muqadimahnya ya, kawanmuda. Jikalau terlalu panjang, pastinya kawanmuda jadi bosan dan dongkol. Sehingga, mengakibatkan kawanmuda bergumam sendiri deh. He, he, he.

Kali ini, pedomanbengkulu.com akan menghidangkan sepenggal cerita tentang Duta Islam pertama yang dianggat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW). Beserta, kisah perjalanannya yang syahid dalam medan peperangan dikarenakan, mempertahankan warisan Baginda Rasulullah SAW.

Yuk, kita simak bersama kisah perjalanannya.

Mush’ab Bin Umair. Seorang syuhada Perang Uhud dan Duta Islam yang pertama utusan Rasulullah SAW yang kepada penduduk Yatsrid (Madinah). Sahabat Rasulullah SAW satu ini berparas tampan dan kaya raya.

Mush’ab Bin Umair, seorang pemuda Quraisy terkemukah. Selain gagah, kesehariannya penuh dengan semangat dan jiwa muda. Para ahli sejarah melukiskan ketampanan dan kegagahan Mush’ab dalam kalimat, ‘Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling Harum’.

Mush’ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan. Serta, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat. Mungkin, saat itu tak seorangpun diantara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan kedua orang tuanya,sebagaimana yang dirasakn Mush’ab Bin Umair.

Mush’ab biasa hidup mewah dan menjadi buah bibir, para gadis-gadis kota Makkah dan sekitarnya. Bahkan, menjadi bintang idola para wanita di setiap pesta perayaan kaum Quraisy.

Suatu hari, anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas dikalangan masyarakat Makkah dan sekitarnya. Mengenai Muhammad Al-Amin yang mengatakan, dirinya telah diutus Allah SWT sebagai pembawah berita gembira kepada seluruh mahluk. Sebagai Dai yang mengajak Umat manusia beribadah kepada Allah yang maha esa.

Diantara berita yang didengarnya, Rasulullah SAW bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan disuatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan kaum Quraisy. Saat itu, kaum ini sangat membenci Islam. Dan pertemuan itu diadakan dibukit Shafa dirumah Arqam Bin Abil Arqam.

Pada suatu Senja, terdorong akan rasa penasaran dan kerinduannya. Mush’ab pergi kerumah Arqam, menjumpai rombongan tersebut. Setibanya disana, Rasulullah Saw sedang membacakan Ayat Suci Al-Qur’an kepada sahabatnya dan mengajarkan mereka beribadah kepada Allah.

Khunas Binti Malik, Ibunda Mush’ab, seorang wanita yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. Ia, seorang wanita disegani bahkan dihormati di kalangan masyarakat Makkah. Ketika Mush’ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri.

Bahkan, walau seluruh penduduk Makkah beserta berhala-berhala, para pembesar dan Padang Pasirnya berubah bentuk menjadi kekuatan yang menakutkan serta hendak menyerangnya, tentulah Mush’ab akan menganggap enteng. Namun, tantangan dari ibunya, bagi Mush’ab tidak dapat dianggap kecil. Iapun berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya, hingga terjadi sesuatu atas kehendak Allah Swt.

Demikianlah perjuangan awalnya yang senantiasa bolak-balik menuju rumah Arqam, demi menghadiri majelis Rasulullah SAW. Saat itu, hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan bersedia menebusnya dengan amarah beserta murka ibunya yang belum mengetahui, keislaman Mush’ab.

Tetapi, di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu mata Kaum Quraisy berkeliaran, mengikuti setiap langkahnya. Kebetulan seorang yang bernama Utsman Bin Thalhah, melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi-sembunyi.

Kemudian, pada hari yang lain dilihatnya Mush’ab sholat seperti Rasulullah SAW. Lalu, secepat kilat ia melaporkan hal itu kepada ibunda Mush’ab dan para pembesar Quraisy.

Selanjutnya, dipanggilah Mush’ab menghadap ibu, keluarganya dan para pembesar Makkah yang sudah berkumpul dikediamannya. Dengan Hati yang yakin dan pasti, dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah di sampaikan Rasulullah SAW untuk mencuci hati nurani mereka. Mengisinya dengan hikmah, kemuliaan, kejujuran dan ketakwaan.

Mendengar kalimat itu, sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras. Namun, tiba-tiba tangannya yang terulur hendak memukul. Surut dan jatuh terkulai, saat melihat cahaya yang membuat wajah putranya berseri cemerlang kian berwibawa.

Lantaran rasa keibuannya. Ibunda Mush’ab tak jadi menyakiti putranya. Kemudian, Mush’ab dituntun menuju suatu tempat terpencil dirumahnya. Lalu, ia kurung dan dipenjarakan seorang diri.

Setelah beberapa lama tinggal dalam kurungan, hingga mendengar kabar beberapa orang Muslim hijrah ke Habasyah. Membuat Mush’ab gelisah, hingga mencari cara untuk keluar dan berhasil mengelabui ibu dan para penjaganya.

Tanpa menunggu waktu lama, Mush’ab pun pergi menuju Habasyah. Setibanya ditempat tujuan itu, demi melindungi diri ia tinggal bersama saudara-saudara kaum musliminnya. Kemudian, pulang lagi ke Kota Makkah. Lalu pergi lagi, untuk hijrah kedua kalinya bersama para sahabat atas perintah Rasulullah SAW.

Pada suatu hari, Mush’ab tampil di hadapan beberapa orang Muslim yang sedang duduk disekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush’ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sementara, beberapa orang sahabat matanya basah oleh air mata, mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang penuh dengan tambalan.

Belum hilang dari ingatan mereka, tentang pakaiannya sebelum masuk Islam. Tak ubahnya, bagai kembang taman berwarna warni dan menghamburkan aroma wangi.

Adapun Rasulullah SAW, menatapnya dengan pandangan penuh arti. Disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya, tersungging senyuman mulia, seraya berkata. “Dahulu aku Lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orangtuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan rasulnya,”.

Diangkat Sebagai Duta Islam Pertama

Suatu hari Rasulullah Saw memilih Mush’ab, untuk melakukan tugas yang maha penting. Saat itu, ia menjadi Duta Rasulullah SAW untuk ke Madinah. Tujuannya, bukan lain untuk mengajarkan Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah, dibukit Aqabah.

Disamping itu, ia juga mempersiapkan Kota Madinah untuk menyambut hijrahnya Rasulullah SAW, sebagai peristiwa besar. Sebenarnya, dikalangan sahabat saat itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat, hubungannya dengan Rasulullah dari pada Mush’ab.

Tetapi Rasulullah, menjatuhkan pilihannya kepada Mush’ab. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah mengembankan tugas amat penting keatas pundak pemuda itu. Serta, menyerahkan tanggung jawab dan nasib agama Islam di kota Madinah.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah swt, berupa pikiran cerdas dan Budi pekerti luhur. Dengan sifat Zuhud (sederhana), kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Yatsrid (Madinah).

Hingga penduduk Kota Madinah berduyun-duyung masuk dan memeluk Islam. Saat tiba di Madinah pertama kali, Mush’ab mendapati kaum muslimin tidak lebih dari dua belas orang. Hanya orang-orang yang berbaiat dibukit Aqabah.

Mush’ab sangat memahami tugas yang ia emban. Hanya menyeru kepada Allah SWT dan mentaati Rasulnya. Mengajak manusia pada kebaikan, kejalan yang lurus dan mencapai hidayah ALLAH SWT.

Dalam kisahnya, akhlak Mush’ab mengikuti pola hidup Rasulullah SAW. Demikianlah Duta pertama Rasulullah SAW itu, mencapai hasil yang gemilang. Suatu keberhasilan yang wajar diperolehnya, karena mengikuti anjuran Rasulullah Saw.

SYAHID Dalam Perang UHUD

Dalam perang Uhud, Mush’ab Bin Umair dipercayakan membawa bendera perang Rasulullah. Ketika situasi mulai berbalik arah dan genting, karena kaum muslimin melupakan perintah Rasulullah SAW. Lantara, sibuk mengumpulkan harta rampasan perang sehingga kaum Kafir Quraisy berbalik menyerang.

Saat itu, Mush’ab muncul mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya. Tanpa gentar, maju menyerang musuh. Misinya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah. Ketika itu, musuh mengira Mush’ab adalah Nabi Muhammad SAW, karena memiliki wajah yang tampan.

Tiba tiba, musuh yang bernama Ibnu Qumaiah datang dengan menunggang kuda. Lalu, menebas tangan Mush’ab hingga putus. Sementara, Mush’ab berteriak “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul yang sebelumnya, telah didahului oleh beberapa rasul,”.

Enggan patah-arang, Mush’ab memegang bendera dengan tangan kirinya. Sambil membungkuk melindunginya, musuh kembali menebas tangan kirinya hingga putus. Kemudian, Mush’ab membungkuk ke arah bendera, dengan kedua pangkal lengan meraihnya kedada sambil berucap.
“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul,dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul,”.

Selanjutnya, orang berkuda itu kembali menyerang untuk ketiga kalinya dengan tombak. Serta, menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’ab Bin Umair pun gugur sebagai syuhada, ia syahid sebagai bintang dan mahkota para syuhada.

Setelah perang usai, Rasulullah SAW bersama para sahabat datang meninjau Medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Setiba di tempat terbaringnya jasad Mush’ab, air mata Rasulullah SAW pun menyucur dengan deras.

Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya, selain sehelai burdah. Andai di taruh diatas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutup kakinya, terbukalah kepalanya.

Maka Rasulullah Saw bersabda, “Tutuplah kebagian kepalanya, sedangkan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir,”.

Kemudian sambil memandang Burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya. “Ketika di Makkah dulu, tak seorangpun aku liat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi, sekarang ini dengan rambutmu yang kusut masai, hanya di balut sehelai burdah,”.

Setelah melayangkan pandangan ke arah medan pertempuran, serta para syuhada dan kawan-kawan Mush’ab yang tergeletak di atasnya. Rasulullah SAW berseru, “Sungguh aku (Nabi Muhammad) akan menjadi saksi nanti dihari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada disisi Allah SWT,”.

Kemudian, sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup. Rasulullah SAW kembali bersabda, “Hai Manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam. Demi Allah yang menguasai nyawaku. Tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya,”.

Demikianlah, sepenggal kisah Duta Islam Pertama yang dapat pedomanbengkulu.com sajikan kepada pembaca setia. Semoga dengan kerendahan hati, baik pembaca maupun penulis mendapat pengetahuan baik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam berikhtiar, menjalani kehidupan dunia sementara ini.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Sumber : EdoRusdian/SejarahIslam

Kurnia Al-Fatih