Ilustrasi plagiarism, freepik.com

PedomanBengkulu.com, Seluma – Pendirian portal media online (daring) di Bengkulu, terus bermunculan sejak lima tahun terakhir. Meski tak seluruhnya memenuhi persyaratan berupa verifikasi dewan pers, namun media online yang bermunculan saat ini sudah mempublikasikan berita, dan dibagikan di media sosial. Namun banyaknya media online yang bermunculan ini, bukan tanpa masalah.

Tindak salin tempel atau copy paste, menjadi permasalahan di masa perkembangan jurnalisme siber saat ini. Seringnya jurnalis media online yang telah melakukan peliputan, dan menulis beritanya sendiri, terkejut ketika melihat berita yang ia tulis juga naik di media online lain dengan bentuk tulisan yang sama persis, ataupun hanya disunting di beberapa bagian.

“Saya terkejut, saat saya baca tulisan di media online tersebut ternyata tulisan saya sama persis. Ada juga yang diubah ubah sedikit, tetapi saya kenal itu tulisan saya. Fotonya pun sama,” ujar jurnalis media online warnabengkulu.com, Yayan Hartono (27/1/2021).

Kekesalan Yayan bukan tanpa alasan, pasalnya ia setiap hari harus datang ke Kabupaten Seluma dari tempat tinggalnya di Kota Bengkulu untuk mencari berita. Wawancara langsung ke narasumber pun ia lakukan ke berbagai tempat, mulai dari Pemerintah Daerah, Kepolisian, Kejaksaan, hingga ke daerah terpencil.

“Apalagi sekarang masa pandemi, saya harus hati hati dalam mencari berita agar tak terpapar Covid-19. Berita di copy paste itu sangat tidak menghargai profesi jurnalis,” ujar Yayan yang kerap pulang hingga larut malam karena mencari berita.

Ketua PWI Kabupaten Seluma, Erlin Marfiansya menyatakan, tindakan copy paste berita merupakan pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik. Ia mengatakan tindakan copy paste tak ubahnya merupakan tindakan pencurian.

“Wartawan yang professional itu turun ke lapangan, dan menulis beritanya sendiri. Bukan hanya menunggu di rumah, dan menyalin berita wartawan lain, ini bukan tindakan yang terpuji,” tegasnya. [IT2006]