Ciri sosok keluarga yang memboyong seluruh anggota keluarganya ke surga adalah dia yang menghidupkan suasana agama di rumahnya hingga semua anggota keluarga menyadari bahwa semua yang ada di alam raya adalah tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kalau sosok itu adalah ayah, maka dia senantiasa memberitahukan kepada istri dan anak-anaknya bahwa langit yang begitu luas, bintang yang milirian bahkan tidak tahu jumlahnya, matahari terbit dari barat, gunung, tumbuhan, laut, seluruh warna-warna, rasa-rasa, bumbu-bumbu, merica, pala, cabe, semua adalah bukti kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sang ayah biasa menasehati anaknya bahwa adanya siang dan malam termasuk tanda kebesaran Allah. Laki-laki, perempuan, kambing, ayam, semua adalah tanda keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan setetes air juga merupakan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebutir pasir pun tanda keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.

Manusia pintar, bukti kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala.

Sosok tersebut mendorong keluarganya untuk tak pernah takjub dengan makhluk, takjubnya cukup kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan makhluk.

Sosok tersebut menghidupkan dakwah di rumahnya dan mendorong seluruh ahli keluarganya hafal dan amal Al-Qur’an.

Sang ayah akan selalu mengingatkan anaknya, nak kamu hamba Allah, diciptakan Allah, taatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga seluruh anggota keluarga menghiasi hari-harinya di rumah dengan amalan agama dan membawa agama kemana-mana.

Kalau sosok itu sang ibu, maka dia senantiasa berpikir bagaimana anaknya bisa ikut dakwah. Suaminya didorong untuk dakwah. Seluruh ahli keluarganya didorong untuk berdakwah. Dia akan hidup sederhana agar suami dan anak-anak bisa ikut dakwah dan istikamah dalam dakwah.

Sang ibu menyadari bahwa hidupnya hanya sekali, setelah dunia hidup di akhirat. Kalau ada satu saja anggota tidak pernah dakwah, semua anggota keluarga akan rugi.

Namun ketika suami dakwah, anak dakwah, istri dakwah, maka akan dapat pahala, dapat berkah, pahala akan mengalir dari mana-mana.

Tapi kalau sang ibu hanya memikirkan dunia saja, mengajak untuk keduniaan saja, duit akan habis sementara di akhirat akan dihisab. [**]

Disarikan dari tausiah KH Uzairon Thoifur Abdillah