Oleh: Olly Benkoelen, Pemerhati

Perkembangan agama Islam di Bengkulu merupakan sebuah proses panjang dan melibatkan banyak para Tokoh hebat, para raja maupun masyarakat yang berinteraksi melalui perdagangan maupun jasa perburuhan, hal ini juga dapat diketahui melalui catatan pemerintah kolonial Inggris ketika pertama kali mendarat di Bengkulu pada tahun 1685.

Tulisan Ismail menurut laporan Benyamin Bloome, disebutkan, bahwa ketika Inggris pertama kali tiba di Bengkulu bertepatan dengan bulan Ramadhan (bulan puasa).

Keterangan lain menyebutkan bahwa ketika terjadi proses perjanjian antara pihak Inggris dengan pihak rajo-rajo pedalaman dan Rajo Tuo, mereka meyakinkannya dengan mengangkat sumpah di atas kitab suci Al-Qur’an. Artinya, agama Islam sudah berkembang di Bengkulu sejak abad XVII.

Beberapa naskah kuno sebagai sumber sejarah juga memeperjelas bahwa agama Islam sudah masuk di Bengkulu jauh sebelum orang-orang Inggris datang ke Bengkulu tahun 1685.

Disebutkan juga dalam naskah Melayu maupun Tembo Bangkahoeloe bahwa keempat Pasirah Bangkahoeloe telah mengangkat sumpah kesetiaan di atas Al-Qur’an dihadapan Sultan Sri Maharaja Diraja dari Kerajaan Pagarruyung.

Menurut catatan G.F. Pijper bahwasanya hubungan keagamaan di Bengkulu masih
sangat sederhana, dalam arti, tidak ada tingkatan ulama yang dianggap tinggi kedudukannya seperti halnya kiyai di Banten ataupun seperti Walisongo yang dihormati oleh kaum masyarakat, akan tetapi elit politik tradisional memiliki peran penting dalam perkembangan keagamaan di Bengkulu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa perkembangan agama Islam di wilayah Bengkulu dianggap unik, dikarenakan topografi daerah Bengkulu yang terdiri dari daratan tinggi berupa bukit barisan di sepanjang wilayah ini, serta daerah dataran rendah yang terhampar di pantai barat yang berhadapan langsung dengan Samudra Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa penduduk tertua yang mendiami wilayah Bengkulu ini adalah suku bangsa Rejang yang berdomisili di Renah Sekalawi yang kemudian berganti nama menjadi Lebong.

Untuk melihat perkembangan Islam di Bengkulu lebih jauh, maka terlebih dahulu harus mengetahui asal kedatangannya.

Ada beberapa opini mengenai awal kedatangannya, menurut Abdullah Siddik dalam Sejarah Bengkulu 1500-1990 yang dikutip Badrul Munir Hamidiy dalam Bunga Rampai Melayu Bengkulu, menyebutkan bahwa masuknya Islam ke daerah Bengkulu melalui enam pintu:

Pintu pertama, melalui Gunung Bungkuk yang dibawa oleh ulama Aceh bernama Tengku Malim Muhidin pada tahun 1417 M.

Pintu kedua, melalui kedatangan Ratu Agung dari Banten yang menjadi raja di Kerajaan Sungai Serut.

Pintu ketiga, melalui pernikahanan Sultan Mudzaffar Syah, raja dari Kerajaan Indrapura dengan Putri Serindang Bulan, Putri Rio Mawang dari Kerajaan Lebong.

Pintu keempat, melalui persahabatn antara Kerajaan Banten dengan Kerajaan Selebar melalui persahabatan antara Kerajaan Banten dengan Kerajaan Selebar dan pernikahanan antara Raja Pangeran Nata Diraja (Jenggalu) dengan Putri Kemayun, Putri Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten.

Pintu kelima, melalui jalan hubungan Kerajaan Palembang Darussalam dengan Raja Depati Tiang Empat di Lebong.

Pintu keenam, melalui daerah Mukomuko yang menjadi Kerajaan Mukomuko.

Penjelasan ini juga diperkuat oleh Badrul Munir Hamidiy, dalam masuk dan berkembangnya Islam di Daerah Bengkulu, ia menjelaskan bahwa Islam masuk ke Bengkulu melalui;

Pertama, Islam datang ke Bengkulu melalui Kerajaan Sungai Serut yang dibawa oleh ulama Aceh bernama Malim Muhidin.

Kedua, melalui pernikahanan Sultan Muzaffar Syah dengan Putri Serindang Bulan pada tahun pertengahan abad ke XVII.

Ketiga, melalui datangnya Bagindo Maharaja Sakti dari Pagaruyung ke Sungai Lemau pada abad ke XVII.

Keempat, melalui dai’i-da’i dari Banten dan hubungan Keranjaan Banten dengan Kerajaan Selebar.

Kelima, melalui daerah Mukomuko yang kemudian menjadi Kerajaan Mukomuko.

Sementara itu, proses masuknya Islam ke Bengkulu juga dipertegas lagi oleh pendapat Ahmad Abas Musofa;

Pertama, teori Aceh, berdasarkan argumentasi bahwa Islam dibawa oleh ulama dari Aceh bernama Tengku Malim Muhidin tahun 1417 Masehi ke Kerajaan Sungai Serut dan melalui dominasi Aceh dalam perdagangan rempah-rempah abad ke-XVII.

Serta ditemukan situs makam Gresik Dusun Kaum Gresik, Desa Pauh Terenjam, Kecamatan Mukomuko ditemukan Sembilan buah makam, dua di antaranya menggunakan nisan tipe Aceh.

Kedua, dengan terbukanya isolasi kerajaan kerajaan di wilayah Bengkulu dengan kerajaan sekitarnya, maka tahap demi tahap agama Islam dapat berkembang pesat.

Penyebaran dan perkembangan agama Islam tersebut antara lain dilakukan oleh tokoh-tokoh sebagi berikut;

K.H. Abdur Rahman, beliau menyebarkan ajaran Islam di wilayah Rejang Lebong, orang-orang Benggali yang berfaham Syiah, para pedagang yang berasal dari Sumatra Barat, para buruh tambang Muslim yang berasal dari daerah Jawa yang didatangkan oleh Belanda ke daerah Lebong, serta para kontraktor/koloni yang menjadi buruh perkebunan besar di wilayah Bengkulu.

Proses demi proses mewarnai perkembangan Agama Islam di Bengkulu, serta menempel juga karakter tradisi dan budaya lokal mengiringi laju penyebarannya hingga saat ini.

Jadi menurut analisa penulis, dengan beragam tempaan sehingga agama Islam meluas di daerah Bengkulu serta pernak pernik trafisi budaya lokal yang mengiringinya sesuai dengan kondisi zamannya maka hal ini perlu menjadi upaya dalam melestarikan ke khasan dan keunikannya sebagai khasanah budaya Islam di bengkulu bagi generasi.