Ilustrasi perempuan yang menutup auratnya secara sempurna.

Kondisi perempuan masa kini benar-benar memprihatinkan. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan sepanjang 2020 kemarin, sebanyak 4.849 perempuan mengalami kekerasan seksual dan bila ditilik dari data pada 2019 dalam 12 tahun terakhir kasus kekerasan perempuan di Indonesia ini mencapat 431.471 atau naik delapan kali lipat.

Di Bengkulu baru-baru ini sebuah kasus yang benar-benar memprihatinkan terjadi. Polres Rejang Lebong mengamankan tiga mucikari prostitusi online yang terdiri dari seorang perempuan serta dua orang perempuan di bawah umur. Mereka diduga telah menjual korban yang rata-rata masih berumur antara 14 hingga 17 tahun dan berstatus pelajar kepada lelaki hidung belang.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, maka sebuah usaha besar harus dilakukan untuk menyelamatkan nasib perempuan di masa yang akan datang. Dari sekian banyak cara, Masturoh atau usaha agama di kalangan perempuan adalah salah satu jalan raya lebar paling datar untuk menjadikan perempuan menuju kemuliaan diri.

Dari kerja Masturoh ini, telah banyak perempuan yang tadinya ahli maksiat sekarang menjadi ahli taat, perempuan yang tadinya ahli dunia sekarang menjadi ahli akhirat, perempuan yang tadinya seakan-akan tidak memakai baju saat keluar rumah menjadi perempuan yang menutup auratnya secara sempurna, perempuan yang tadinya hidup dalam pekatnya dunia malam sekarang menjadi senang bangun malam untuk bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menangisi aib sendiri dan memohon hidayah untuk umat seluruh alam.

Masturoh secara harfiah adalah tertutup di balik hijab. Gerakan ini dimulai oleh sebuah kelompok yang mengusahakan iman wujud dalam diri setiap manusia yang hidup.

Sebagaimana dinukil dari Al-Idarah: Jurnal Manajemen Dan Administrasi Islam Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2017, Masturoh sendiri menjadi usaha untuk menghidupkan amalan agama di dalam rumah, sehingga rumah berfungsi sebagai masjid, sehingga rumah akan dilindungi oleh malaikat akan menjadi rumah taqwa bukan rumah dhararah (rumah yang terpecah belah). Usaha dakwah di kalangan kaum perempuan memiliki aturan dan tata tertib yang ketat, tertutup, di balik hijab, karena seluruh tubuh perempuan adalah aurat, serta programnya dijalankan dengan kehendak mahramnya, berdasarkan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Masturoh adalah usaha dakwah dalam peningkatan iman bagi anggota keluarga, kerabat dan masyarakat dan mampu menggerakkan orang lain untuk melakukan amal ibadah dan meningkatkan amal keseharian. Masturoh dilakukan dengan musyawarah kaum laki-laki dan melalui tata tertib serta syarat-syarat yang dimusyawarahkan lewat muzakarah kaum laki-laki dalam kelompok yang mengusahakan iman wujud dalam diri setiap manusia yang hidup.

Para Rasul yang mendapat dukungan dari istrinya terbukti sukses dalam dakwahnya dan mempunyai banyak pengikut, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihi sallam dan Nabi Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan rasul yang tidak didukung oleh istrinya seperti Nabi Nuh ‘alaihi sallam dan Luth ‘alaihi sallam, sedikit pengikutnya. Karena itu, tugas dakwah bukan hanya tanggung jawab kaum laki-laki tetapi juga kaum perempuan. Ketika Muhammad diangkat menjadi rasul, yang pertama beriman adalah perempuan, yaitu Khadijah radiallahu ‘anha, isterinya sendiri. Pada sisi lain, seorang ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya. Keshalehan seorang ibu akan membawa pengaruh yang besar dalam membentuk manusia yang shaleh dan shalihah.

Target usaha Masturoh adalah agar para perempuan menjadi dai’yah, abidah, muta’alimah, murabbiyah, khadimah dan zahidah.

Menjadi da’iyah maksudnya agar peremuan merasa turut bertanggung jawab atas tegaknya agama secara sempurna di seluruh alam, meneruskan kerja Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajak manusia kepada agama Allah subhanahu wa ta’ala yaitu Islam.

Menjadi abidah maksudnya agar para perempuan menyibukkan dirinya dengan beribadah di dalam rumahnya, berkeinginan kuat untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan menjadikan rumahnya seperti masjid.

Menjadi mutha’alimah maksudnya agar para perempuan semangat kepada ilmu dan menghidupkan suasana belajar dan mengajar di dalam rumah (ta’lim wa ta’alum), sehingga tidak ada kejahilan agama di dalam rumah orang-orang Islam.

Menjadi murabbiyah maksudnya agar perempuan berperan menjadi madrasatul ula (sekolah pertama) bagi ahli keluarga. Menjadi sosok pendidik bagi anak-anaknya di dalam rumah. Sehingga lahir dari keluarga muslim anak-anak yang shalih dan shalihah, hafizh-hafizah dan alim-alimah.

Menjadi khadimah maksudnya agar perempuan dapat melayani suami dan ahli keluarganya dengan sebaik-baiknya, senantiasa menunaikan hak orang lain sehingga timbul kasih sayang dan akhlak yang agung pada penghuni Al-Qur’an.

Menjadi zahidah maksudnya agar perempuan bisa menyederhanakan keperluan hidupnya dan mengarahkan kesibukannya kepada kesibukan agama.

Tentu tulisan ini tidak bisa merangkum tentang tata cara dan tertib Masturoh yang begitu banyak. Namun dari yang sedikit ini dapat disimpulkan bahwa usaha ini layak menjadi usaha semua perempuan di seluruh alam agar terbangun sebuah kehidupan dunia yang bahagia dan kehidupan akhirat yang selamat, tanpa kekerasan dan tanpa penindasan.

Allah lebih tahu yang benar. [**]