Oleh: Alian Suhendra, S.Ps.Gr.,M.Pd (Sekretaris IGI Kabupaten Kaur)

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah.

Sebagai pendidik profesional guru sudah sewajarnya diberikan kesejahteraan yang layak, itikad baik memang sudah ada dari pemerintah. Hal ini ditandai dengan pemberian tunjangan profesi guru bagi yang memiliki sertifikat pendidik. Namun ini belumlah cukup, bagaimana dengan guru yang belum sertifikasi? Belum lagi kewajiban yang dibebankan kepada guru penerima tunjangan sertifikasi, terkesan pemerintah belum sepenuhnya ikhlas untuk memberikan kesejahteraan kepada guru. Seharusnya kesejahteraan seperti halnya tunjangan ini sudah menjadi hak bagi guru yang telah bekerja mencerdaskan anak bangsa.

Beban yang harus dipenuhi guru salah satunya adalah jam mengajar minimal 24 jam dalam seminggu. Padahal ini sangatlah menyulitkan guru, beban hidup yang sudah berat ditambah lagi dengan beban mengajar yang juga berat.

Pertama, dengan jumlah jam wajib yang sebanyak ini. Tentu banyak mengorbankan waktu dan akan mengabaikan tugas utama guru lainnya. Yang perlu diingat guru tugas utamanya bukan hanya mengajar. Kapan lagi waktunya guru melatih, membimbing atau mengarahkan peserta didik untuk menjadi lebih baik?

Kedua, alasan lain sebetulnya bukan hanya karena fokus ke tugas mengajar saja. Beban mengajar ini akan menyulitkan guru itu sendiri. Kenyataannya banyak sekolah dengan jumlah rombel yang terbatas membuat ketersediaan jam mengajar memang kurang. Akibatnya sesama guru dalam mata pelajaran yang sama akan berebut jam mengajar. Bahkan, ada guru yang rela mencari-cari jam mengajar ke sekolah lain. Itupun kalau masih tersedia.

Ketiga, saat ini guru sangat tertekan dengan banyaknya tugas lain yang diluar tugas utama. Setumpuk administrasi dan persiapan mengajar juga perlu disiapkan. Mulai dari menyusun silabus, RPP, menyiapkan instrumen tes dan lainnya. Dalam pelaksanaannya pun masih banyak yang harus diselesaikan, saat mengajar perlu menyiapkan dukungan sarana prasarana terutama berkaitan teknologi misalnya laptop, infocus dan lainnya. Pelaksanaan tes juga perlu diawasi, dikoreksi, dianalisis atau bahkan dibuat pemetaan untuk perbaikan pembelajaran anak. Setumpuk administrasi seperti ini juga perlu diselesaikan, bukan soal mengajar saja yang dilihat melainkan tugas turunan yang rinci sekali. Semua demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Keempat, guru saat ini juga diminta membuat karya tulis ilmiah. Padahal dalam tugas utama guru dalam Undang-undang tidak ada redaksi menyebutkan guru tugas utama menulis karya ilmiah. Ini jelas membuat guru kesulitan. Input guru saat ini yang masih aktif tidak semuanya tamatan kampus yang terbiasa menulis karya ilmiah. Kebanyakan guru senior adalah produk dari Inspres zaman orde baru. Namanya juga senior untuk upgrade pengetahuan juga pasti susah, karena usia salah satunya apalagi tidak didukung dengan kesejahteraan memadai dan insentif dalam penulisan karya tulis tersebut.

Kelima, pendek kata jam mengajar yang dibebankan, ditambah tuntutan menulis karya ilmiah, ini semua mengesankan bahwa pemangku kebijakan mempersulit guru untuk memperoleh hak dalam meningkatkan kesejahteraannya. Sudah selayaknya para guru menikmati buah dari perjuangan, tidak akan ada pejabat kalau bukan karena jasa guru. Jadi pejabat tidak perlu iri dengan penghasilan yang diterima guru. Ikhlaskan saja guru memiliki penghasilan yang layak. Sudah sepatutnya guru dijadikan profesi mulia, terhormat dan dihargai, jangan terlalu diidentikkan dengan guru pahlawan tanpa tanda jasa. Guru juga butuh kesejahteraan, agar bisa fokus mencerdaskan anak bangsa hingga tidak lagi kita temui guru sambilan jadi tukang ojek atau profesi lainnya.

Setiap guru memiliki tantangan yang berbeda sesuai kondisi dan situasi masing-masing. Tidak adil apabila tugas guru dilihat hanya dengan mengajar saja, guru juga butuh istirahat yang cukup, mengurus keluarga dan bercengkrama dengan anak di rumah. Sudah cukup mendeskreditkan profesi guru, saatnya membahagiakan guru dengan penghargaan yang sepantasnya.

Memberikan kesejahteraan bagi setiap guru. Apapun itu, ntah guru PNS ataupun guru Honorer semua berhak memiliki kesempatan untuk dihargai. Pada suatu saat kita berharap Guru menjadi profesi yang “sangat mulia”, bukan hal yang egois jika berharap guru menjadi salah satu profesi teratas dari profesi yang ada di kehidupan ini. Selayaknya seperti profesi di Negara asing, guru sangat dihargai, dari sisi kesejahteraan ataupun penghargaan. Karenanya tidak semua orang mampu dan mau menjadi guru. Semoga guru bahagia tanpa beban kehidupan.

Wallahualam.