PedomanBenglulu.com, Jakarta – Pertemuan antara Dewan Pimpinan Pusat Partai Rakyat Adil Makmur (DPP PRIMA) yang dipimpin Agus Jabo Priyono dan DPP Perkumpulan Syarikat Islam Indonesia (PSII) pimpinan Chalif Ibrahim, Rabu, 10 Maret lalu mendapat beragam tanggapan. Banyak apresiasi tetapi tidak lepas pula ada kritik.

Tanggapan sedikit bernada kritik datang dari Aulia Tahkim Tjokroaminoto, cicit HOS Tjokroaminoto yang juga salah seorang Wakil Ketua Ormas Syarikat Islam.

Willy, demikian sapaan Aulia Tahkim, mengapresiasi inisiatif Agus Jabo dan partainya untuk menjadikan gagasan HOS Tjokroaminoto sebagai inspirasi gerakan politik. Namun Willy keberatan jika sosok eyang buyutnya dijadikan ikon partai politik. Menurut Willy, Tjokroaminoto adalah milik semua golongan, milik bangsa Indonesia.

Willy pun meminta Agus Jabo dan PRIMA tidak menjadikan sosok HOS Tjokroaminoto sebagai ikon partainya.

Menanggapi keberatan keturunan HOS Tjokroaminoto, Agus Jabo memberi keterangan kepada sejumlah media pada Minggu, 14/3. Ia menyatakan menghormati permintaan tersebut. Namun menurut Jabo terdapat kesalahpahaman terhadap niat dirinya dan PRIMA.

Jabo menyatakan, dirinya dan PRIMA sama sekali tidak hendak mengklaim sosok HOS Tjokroaminoto sebagai milik kelompoknya. Justru PRIMA mengangkat kembali, memperkenalkan kembali gagasan HOS Tjokroaminoto agar bisa menjadi gagasan bersama bangsa Indonesia, gagasan yang mempersatukan unsur-unsur progresif dalam memperjuangkan Indonesia adil makmur.

Jabo menceritakan, PRD sebagai inisiator PRIMA dalam dekade terakhir berupaya menggali pemikiran para tokoh bangsa.

“Kami belajar bagaimana tokoh-tokoh bangsa kita dahulu, para perintis kebangkitan nasional, tidak menelan bulat-bulat filsafat progresif dan teori perjuangan dari bangsa-bangsa Barat, tetapi berupaya membangun sintesis, mendudukkan filsafat dan teori-teori perjuangan itu ke dalam konteks masyarakat Indonesia,” kata Jabo.

“Kami belajar dari Sukarno, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Johanes Leimena, Amir Syarifuddin, dan tentu saja HOS Tjokoraminoto dan para tokoh bangsa lainnya. Dari pemikiran mereka kami sadar bahwa sosialisme, bahwa corak kehidupan ekonomi, politik, dan sosial budaya berbasis gotong royong itu adalah sejatinya jiwa orang Indonesia yang relijius. Jadi gagasan itu bukanlah barang asing,” sambung Jabo.

Jabo menyampaikan, maksud dirinya dan PRIMA mengangkat kembali gagasan-gagasan HOS Tjokroaminoto dan para tokoh bangsa lain memiliki dua tujuan. Yang pertama untuk mengingatkan bangsa Indonesia bahwa sejatinya jiwa bangsa kita bukanlah liberal kapitalistik.

Tujuan yang kedua adalah mengajak insan politik Indonesia untuk kembali mengedepankan politik gagasan. Menurut Jabo, salah satu sebab politik Indonesia kian transaksional dan bersandar kepada pembiayaan oleh para oligark adalah karena para politisi sudah meninggalkan pentingnya gagasan-gagasan besar sebagai landasan berpolitik.

Di akhir keterangannya, Jabo menegaskan dan memberi jaminan bahwa PRIMA tidak akan mengklaim sosok HOS Tjokroaminoto sebagai milik kelompoknya. PRIMA akan menyebarluaskan gagasan dan keteladanan perjuangan Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan tokoh bangsa lainnya agar menjadi kesadaran dan sumber keteladanan bersama kekuatan-kekuatan politik di Indonesia dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. (*)