Alif Kamal
Wakil Ketua Umun Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA), Alif Kamal.

PedomanBengkulu.com, Jakarta – Jurnalis Tempo, Nurhadi (31) mengalami penganiayaan dan penyekapan yang diduga dilakukan oleh sejumlah orang yang mengaku aparat di Surabaya, Jawa Timur.

Berdasarkan kronologi, aksi kekerasan dialami Nurhadi saat melakukan kerja jurnalistik pada Sabtu (27/3/2021) malam.

Wakil Ketua Umun Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA), Alif Kamal mengutuk tindakan penyekapan tersebut.

“Tindakan penyekapan terhadap jurnalis Tempo di Surabaya tak dapat dibenarkan. Teman-teman jurnalis bekerja dilindungi UU nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” ujar Alif, Senin (29/3/2021).

Ia meminta kepada pihak kepolisian harus mengusut tuntas kasus ini. Jangan biarkan kasus kekerasan terhadap pekerja pers terus terjadi.

“Pers atau media massa adalah satu dari pilar demokrasi. Jangan biarkan tugas-tugas jurnalistik malah terintimidasi oleh kekerasan sebagian pihak. Atau jangan-jangan Indonesia ini bukan tempat yang aman bagi tugas-tugas jurnalistik,” tegasnya.

Sebelumnya, Kekerasan terhadap Nurhadi terjadi saat dia melakukan reportase terkait Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Angin Prayitno Aji.

Pada Sabtu, sekitar pukul 18.25 WIB, Nurhadi tiba di Gedung Samudra Bumimoro yang terletak di Jalan Moro Krembangan, Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya.

Korban mendatangi gedung tersebut untuk melakukan investigasi terkait kasus dugaan suap yang diduga melibatkan Angin Prayitno Aji.

Di lokasi tersebut sedang berlangsung resepsi pernikahan anak Angin Prayitno Aji dan anak Kombes Pol Achmad Yani, mantan Kepala Biro Perencanaan Polda Jatim.

Sekitar pukul 18.40 WIB, korban memasuki Gedung Samudra Bumimoro untuk melakukan investigasi dan memotret Angin Prayitno Aji yang sedang berada di atas pelaminan dengan besannya.

Kemudian, pada pukul 19.57 WIB, korban yang masih berada di dalam gedung kemudian didatangi oleh seorang panitia pernikahan, serta difoto.

Korban yang akan keluar dari gedung, kemudian dihentikan oleh beberapa orang panitia dan ditanya identitas dan undangan mengikuti acara.

Sekitar pukul 20.10 WIB, keluarga mempelai didatangkan untuk mengonfirmasi apakah mengenal Nurhadi. Setelah keluarga mempelai mengatakan tidak mengangenali korban, Nurhadi dibawa ke belakang gedung, dengan cara didorong oleh seorang ajudan Angin Prayitno Aji.
Selama proses tersebut, korban mengalami perampasan ponsel, kemudian mengalami kekerasan verbal, fisik dan ancaman pembunuhan. Sekitar pukul 20.30 WIB, korban dibawa keluar oleh seseorang yang diduga oknum anggota TNI yang menjaga gedung.

Korban kemudian dimasukkan ke dalam mobil patroli dan dibawa ke pos TNI. Tak lama kemudian, korban dimintai keterangan mengenai identitas.
Pada pukul 20.45 WIB, setelah dimintai keterangan mengenai identitas, korban kemudian dibawa ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Belum sampai ke Polres, korban kemudian dibawa kembali lagi ke Gedung Samudra Bumimoro.

Sesampainya di Gedung Samudra Bumimoro, korban kembali diinterogasi oleh beberapa orang yang mengaku sebagai polisi dan beberapa orang lain yang diduga sebagai oknum anggota TNI, serta ajudan Angin Prayitno Aji.

Sepanjang proses interogasi tersebut, korban kembali mengalami tindakan kekerasan (pemukulan, tendang, tampar) hingga ancaman pembunuhan.