IMG_1884BENGKULU, PB – Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bengkulu menggelar konsolidasi penguatan penghayatan ideologi Pancasila bagi guru-guru Kota Bengkulu di Dwinka Hotel, Jum’at (27/11/2015).

Kepala Kesbangpol Kota Bengkulu, Taufik Mantan, mengatakan, penguatan penghayatan ideologi Pancasila bagi guru-guru Kota Bengkulu ini ditujukan agar nilai-nilai Pancasila dapat disosialisasikan kepada para remaja di Kota Bengkulu.

“Nilai-nilai Pancasila saat ini mulai luntur. Agar kembali dihayati sebagai ideologi bangsa, guru-guru diharapkan dapat menancapkannya di kalangan remaja,” kata Taufik kepada Pedoman Bengkulu.

Taufik menjelaskan, di tengah gempuran globalisasi, para remaja yang gemar mencari identitas diri harus dibentengi dengan nilai-nilai Pancasila sejak dini.

“Makanya seluruh guru yang berkumpul ini adalah para guru Sekolah Menengah Pertama,” paparnya.

Hadir sebagai narasumber diantaranya Asesor Kompetensi Aparatur di Provinsi Bengkulu, Buchardy Barkah dan pakar komunikasi dari Universitas Bengkulu, Jarto Tarigan.

Dalam penyampaiannya, Buchardy Barkah menyebutkan, potret bangsa saat ini menunjukkan adanya gejala separatisme dan primordialisme yang bisa menyulut konflik politik, khususnya dalam pemilihan kepala daerah.

“Perbedaan daerah kaya dan miskin semakin melebar. Konflik antar agama mengancam. Pembangunan tidak merata mengakibatkan kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan,” urainya.

Buchardy mengungkapkan, Pancasila sebagai ideologi terbuka menunjukkan bahwa Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman.

“Pancasila memberikan orientasi ke depan mengharuskan bangsanya untuk selal menyadari situasi kehidupan yang sedang dan akan dihadapinya terutama menghadapi globalisasi dan era keterbukaan dalam segala bidang,” tegasnya.

Buchardy menerangkan, globalisasi tidak dapat dielakkan. Namun bagi dia, globalisasi harus disikapi dengan bijak.

“Karenanya aktualisasi nilai-nilai Pancasila merupakan hal penting dengan cara membangun komunikasi yang parisipatoris antara pemerintah, swasta dan masyarakat menuju cita-cita bangsa,” demikian Buchardy. [RH]