Matriani AmranBENGKULU, PB – Sebelum lahan pertanian di Kota Bengkulu benar-benar kian menyempit, Pemerintah Kota Bengkulu mulai menggulirkan program pertanian kota. Anggaran untuk program ini telah ditetapkan dalam anggaran Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan (DP3K) Kota Bengkulu.

Dalam program ini, Pemerintah Kota akan melakukan penanaman tanaman produktif yang bernilai ekonomis bagi warga yang bersedia lahannya digunakan untuk tujuan tersebut. Selain tanaman lokal, DP3K Kota Bengkulu sendiri merencanakan akan melakukan penamanan buah matoa (pometia pinnata), sebuah buah yang khas dari tanah Papua.

“Kalau misalnya mangga atau bahkan kalamansi sudah banyak yang menanam. Makanya kami coba perkenalkan matoa. Pohon matoa kan rata-rata pohonnya besar. Jadi bisa selaras dengan program penghijauan lingkungan,” kata Kepala DP3K Kota Bengkulu, Matriani Amran, kepada Pedoman Bengkulu, Sabtu (28/11/2015).

Matriani mengaku, pihaknya belum menentukan titik kawasan yang akan menjadi tempat ditanamannya pohon matoa tersebut. Namun ia memastikan bahwa warga masyarakat harus terlebih dahulu bersedia lahannya dijadikan sebagai kawasan pertanian kota sebelum program ini digulirkan pada tahun 2016 mendatang.

“Letak kecamatan mana yang menjadi tempat percontohan pertanian kota ini belum diputuskan. Nanti kita sama-sama akan turun dulu sekalian menanyakan kesediaan masyarakat agar lahannya bisa digunakan untuk
program ini,” imbuh Matriani.

Sementara untuk besaran anggaran, Matriana bilang, sejauh ini masih dibahas bersama Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Bengkulu. Instansinya menyerahkan sepenuhnya besaran anggaran tersebut kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Bengkulu.

Diketahui, konversi lahan pertanian di Bengkulu umumnya cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data Serikat Petani Indonesia (SPI) Bengkulu, rata-rata konversi lahan di Bengkulu seluas 6.211 hektare per tahun.

Sementara di negara-negara yang sudah menerapkan program ini seperti Montreal, Kanada, program yang kerap disebut  urban farming ini membuat kawasan kotanya menjadi hijau dan asri. Warga di kota tersebut juga bisa menikmati hasil cocok tanam mereka sendiri.

Program urban farming ini diharapan dapat menjadi sumber pangan keluarga untuk mendukung program-program keatahanan pangan daerah. Selain itu, program tersebut dapat menjadi alternatif penghasilan ekonomi bagi masyarakat kurang mampu yang ada di Kota Bengkulu. [Rudi Nurdiansyah]