IMG_0844BENGKULU, PB – Belum optimalnya penggunaan artis-artis pribumi dalam panggung kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Provinsi Bengkulu menuai kritikan dari penggiat seni Bengkulu, Nico Ardi Putra.

Ia menilai minimnya panggung yang disediakan bagi artis-artis pribumi ini secara tidak langsung dinilai dapat mengancam kelestarian kesenian di Bengkulu.

“Untuk menumbuhkan minat seni masyarakat, harusnya kandidat kepala daerah dapat menggunakan artis-artis pribumi. Tidak melulu menyediakan panggung kampanye untuk artis-artis nasional,” kata Nico, Sabtu (28/11/2015).

Bujang Bengkulu 2014 ini menjelaskan, Bengkulu tidak kekurangan artis. Ia menyebutkan, dikalangan kesenian lokal, Bengkulu memiliki Nokawita, artis Bengkulu Utara yang telah berhasil menggebrak dunia seni khususnya tarik suara.

“Sementara dikalangan aktris dan model, kita punya Arumi Bachsin. Arumi juga ahli dalam memandu acara karena pernah menjadi presenter,” jelasnya.

Sementara dikalangan pemuda, lanjut Nico, Bengkulu memiliki Febri ‘Bintang Pantura’ dan Yofi Emei Lia Sari ‘Bintang Kontes Dangdut Indonesia’, termasuk group musik fenomenal Cholesterol Band.

“Kenapa para kandidat kepala daerah justru lebih banyak menyediakan panggung untuk artis nasional kalau Bengkulu tidak kekurangan artis,” kritiknya.

“Padahal kalau dipikirkan dalam aspek yang lebih strategis, artis Bengkulu bisa memobilisasi suara pemilih untuk sang kandidat. Karena keluarga dan kerabatnya pasti menyebar di Bengkulu. Sementara artis nasional belum tentu memilih di Bengkulu, apalagi mau diharapkan dapat membolisasi suara,” sambungnya.

Ke depan, Nico berharap para penyelenggara Pilkada dapat lebih peka terhadap masalah ini. Menurutnya, panggung-panggung kesenian di Bengkulu masih jarang diciptakan selain pada saat moment Pilkada atau hari ulang tahun daerah. [Revolusionanda]