cord_blood_lawPERKEMBANGAN ilmu pengetahun khususnya dibidang kesehatan bisa dibilang sudah mencapai tahap tertinggi. Penemuan akan sel puncah (stem cells) menandai revolusi pengetahuan di Abad 21 ini.

Manfaat sel puncah ini bukan saja dapat mengobati penyakit yang muskil disembuhkan seperti diabetes, jantung, alzheimer, parkinson, kanker dan bahkan HIV/AIDS, tetapi juga tak bisa dibayangkan penuaan manusia bisa ditunda dan umur manusia bisa lebih panjang.

Capaian sel puncah

Pengetahuan tentang sel punca telah lama dikenal dengan sebutan biologi sel. Namun baru belakangan, penggunaan sel punca diketahui dapat digunakan untuk terapi berbagai macam penyakit yang tidak dapat disembuhkan tersebut.

Pada dasarnya, setiap organ dan jaringan tubuh dibentuk oleh sel-sel tertentu yang berasal dari sel punca. Dalam kehidupan kita, sel punca berperan dalam peremajaan (regenerasi) organ dan jaringan yang rusak atau hilang setiap harinya.

Sel ini memiliki ciri mampu membelah diri secara terus menerus, meskipun spesialisasi pembelahannya belum terarah dan dengan induksi yang spesifik, sel punca dapat membelah diri menjadi sel yang diinginkan seperti sel jantung, sel syaraf, sel otot, dan sebagainya.

Boleh dibilang, sel punca adalah sumber dari semua sel di dalam individu atau sel induk yang tidak terbagi-bagi (terdiferensiasi) dan bisa memperbanyak diri. Sel punca terbagi dua tipe, sel puncah emrionik dan sel puncah dewasa.

Sel punca embrionik diperoleh dari tahap paling awal perkembangan manusia yaitu lima hari setelah pembuahan. Sel punca yang digambarkan sebagai pluripotent, mampu jadi semua jenis sel. Dan sel puncah ini diisolasi dari bagian inner cell mass blastosis. Blastosol manusia terdiri dari 70-100 sel.

Sementara itu, sel punca dewasa adalah sel tunas yang diisolasi dari jaringan dewasa seperti sumsum tulang atau darah dan bisa memperbanyak diri, tetapi kemampuan membeladiri (diferensiasinya) terbatas untuk menjadi jenis sel tertentu.

Karena bisa menjadi beragam sel tubuh, sel punca bisa menyediakan jaringan untuk mengganti sel-sel yang rusak dalam terapi pengobatan. Sel puncah dewasa sangat terbatas melakukan diferensiasi karena itu manfaat terbesar ditemukan dari sel puncah embrionik.

Prof Amin Soebandrio, Staf Ahli Kemenristek Bidang Kesehatan dan Obat pernah mengungkapkan penerapan teknologi sel punca memungkinkan sel apapun diubah dan dikembangkan menjadi suatu jaringan atau bahkan organ tubuh.

Misalnya saraf putus, kalau semula tidak mungkin disembuhkan lagi maka dengan sel puncah kondisi itu bisa diperbaiki. Saraf putus karena kecelakaan, sekarang bisa disambung lagi dengan sel puncah. Orang tua yang sendinya mulai keropos, juga bisa dipulihkan. Orang buta juga dapat disebuhkan.

Bahkan, mereka yang mengalami autisme, mongolisme, bentuk ringan dari gangguan intelektual, pengaruh cacat bawaan, dan postencephalitis, kepikunan dapat disembuhkan dengan terapi sel puncah.

Hasil riset Tim Peneliti Sel Punca Universitas Airlangga (Unair) Fedik Abdul Rantam mengatakan dari pengembangan rekonstruksi kardiovaskular dan sistem imun, hasil in vitro (pengujian praklinis di laboratorium) bagus. Dengan sel punca, tubuh bisa membuat sel kekebalan baru pada penderita HIV/AIDS.

Jika usia manusia ditentukan oleh proses regenerasi sel yang melambat dan fungsinya yang menua, maka dengan sel puncah semua sel dapat kembali diremajakan. Hal ini disebabkan karena sel punca akan memperbaiki sel-sel yang mati karena proses penuaan.

Pengembangan sel puncah mirip dengan teknologi kloning atau menggandakan makhluk hidup tanpa melalui proses perkawinan. Bedanya, kloning dibuat dari stem cell berjenis totipoten sedangkan sel puncah untuk terapi biasanya menggunakan jenis pluripoten atau multipot.

Saat ini, penggunaan terapi sel puncah banyak digunakan untuk memperoleh kesehatan (health), Kecantikan (aesthetic), peremajaan (rejuvenation), dan bahkan umur panjang (longevity). 

Terapan sel puncah

Penemuan sel puncah disebut sebagai terobosan yang dianggap bisa mematahkan teori-teori sebelumnya. Sesuatu yang dianggap mustahil kini atau semula tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Mereka yang cacat fisik (difabel) dan mental bahkan dapat disembuhkan.

Dengan penemuan sel puncah, manusia yang unggul secara genetik dapat diciptakan. Manusia bisa seperti mutan, ketika tangannya terputus maka organ tangannya dapat disambung kembali. Katie Piper seperti dikutip dari The Sun, Selasa (21/2/2012) lalu, dapat melihat kembali setelah mengalami kebutaan 3,5 tahun.

Penemuan yang mencengangkan ini pertamakali dilakukan tim peneliti James Thompson dari Universitas Wisconsin Madison dan Shinya Yamanaka dari Universitas Kyoto Jepang. an dunia kesehatan ketika berhasil membuat metode untuk memprogram ulang sel punca dewasa jadi pluripotent pada November 2007.

Sel-sel ini disebut iPS Cells yang secara genetik dimodifikasi dengan memasukkan empat faktor transkripsi DNA penting dalam sel embrionik ke genom sel punca dewasa dengan memakai virus.

Tak lama kemudian, pada Desember lalu, George Daley dari Harvard Medical School di Boston, Massachusetts, dan rekan juga menunjukkan sel iPS dapat dibuat dari beragam sel dewasa. Riset ini menggunakan biopsi kulit untuk menstabilkan sel pluripoten.

Untuk mendapatkan sel puncah tak perlu lagi dilakukan pembadahan. Sel iPS dari keratinosit atau lapisan sel terluar dan protein pembuat rambut, kulit dan kuku dapat dikembangkan sebagai sel puncah sesuai riset tim ilmuwan Juan Carlos Izpisua Belmonte di Salk Institute for Biological Studies di La Jolla, California.

Ini merupakan terbosoan termutakhir dalam dunia medis. Bisa jadi kedepan obat-obatan kimia (eksternal) tak lagi dibutuhkan karena interaksinya dengan tubuh  yang dapat menyebabkan healing crisis atau gangguan penyembuhan.

Di Indoensia, riset tentang sel puncah sudah dilakukan sejak tahun 2007  oleh Universitas Airlangga (Unair) maupun Universitas Gajah Mada (UGM).   Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip).

Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Medistra juga sudah menerapkan pennggunaan sel puncah dalam pengobatannya seperti kanker dan infrak jantung.

Terbentur etika kedokteran

Di negara maju seperti Australia, penggunaan sel puncah memang telah populer. Ribuan pasien telah ditangani dengan penggunaan sel puncah.

Meski demikian penerapan sel puncah masih sangat dibatasi karena kekhawatiran akan resiko jangka panjang yang belum dapat diketahui. Sejauh ini pasien dengan sel puncah mendapat pengawasan ketat untuk melihat perkembangannya.

Selain penggunaan sel punca alogenik (donor), pasien autologu (penggunaan sel puncah sendiri) masih terus diawasi untuk melihat efeknya terhadap penerimaan tubuh. Selain itu juga, resiko penularan virus atau bakteri yang dibawah saat penggunaan sel puncah.

Tantangan paling berat adalah penggunaan sel puncah embrio. Sel puncah embrio merupakan sel puncah terbaik untuk pengobatan segala jenis penyakit dibadingkan sel puncah dewasa. Namun terbentur etika.

Sel punca embrio hanya bisa didapat saat janin baru berusia beberapa hari. Pengambilan sel punca embrio akan sama dengan mematikan janin. Setiap dokter terikat sumpah untuk menyelamatkan nyawa, bukan menghilangkannya. Dinisilah tantangannya, memungkinkan menyelamatkan nyawa (pasien) tanpa menghilangkan nyawa lain (janin). [RPHS]