Usman YasinBENGKULU, PB – Perhelatan Bengkulu ‘Tempoe Doeloe’ yang direncanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu diharapkan dapat melibatkan banyak unsur dan elemen masyarakat. Sehingga minat para wisatawan untuk datang ke Bengkulu bisa meningkat.

Baca juga: Bengkulu Tempo Doeloe; Menggairahkan Ekonomi, Memperkuat Jati Diri

“Bagus, jika dirancang secara baik. Ada keterlibatan masyarakat, sanggar, maupun kelompok-kelompok adat. Apalagi jika bertujuan untuk membangun Bengkulu,” kata Ketua Yayasan Lembak Usman Yasin saat ditemui dikediamannya di Jalan Danau kota Bengkulu, Selasa (23/2/2016).

Kendati mengapresiasi, Usman menilai hingga saat ini komunikasi serta koordinasi dengan suku-suku yang ada di Bengkulu masih minim dilakukan oleh pihak pemerintah. Karena itu, ia minta seluruh stakeholder harus dilibatkan dalam agenda besar ini.

“Sampai saat ini belum ada konfirmasi untuk keterlibatan di acara Festival Bengkulu Tempoe Doeloe kepada saya selaku Ketua Yayasan Lembak. Dengan adanya keterlibatan sanggar, dibutuhkan space waktu untuk anggota sanggar berlatih. Tidak bisa tiba-tiba, lalu diturunkan ke acara,” paparnya.

Lihat juga: Festival Bengkulu Tempo Doeloe Butuh Rencana Matang

Tak hanya itu, pengurus PMI Kota Bengkulu ini juga berharap agar kegiatan ini dirancang dengan baik. Baik itu dari sisi pendanaan, kebutuhan peralatan, serta pendukung kesuksesan kegiatan. Misalnya, sanggar harus dibina sebelum tampil. Sebab, seni itu bukan hanya sebatas seni. Seni itu juga untuk menghasilkan profit.

“Bagaimana mungkin orang dapat hidup, bisa berkarya jika tidak di suport. Mereka hanya diperas saja untuk tampil namun tidak pernah disuport secara langsung baik moril maupun materil. Anggota Sanggar harus latihan, sebelum tampil di pentas, membutuhkan waktu, tenaga, dan fikiran agar kesusksesan acara dapat tercapai,” jelasnya.

Lihat juga: Festival Bengkulu Tempo Doeloe Digelar Akhir Februari

Usman menilai budaya Bengkulu sesungguhnya sangatlah potensial untuk mendatangkan wisatawan baik domestik maupun dari luar. Contohnya, para wisatawan tentu lebih senang ikut terlibat dalam tarian, semisal ikut menari, ikut melakukan gerakan.

“Bengkulu harus ada kebudayaan yang ditonjolkan. Ketika pelaku budaya tidak fokus, maka untuk memajukan budaya Bengkulu akan sulit,” ucapnya.

Baca juga: Bengkulu Tempo Doloe Dijadikan Festival Tahunan

Lebih lanjut, ia menceritakan suku Lembak yang memiliki beberapa tradisi. Diantaranya sarapal anam, pencak silat, barong landong, bubu gila, bermacam kuliner, dan lainnya. Namun bila semua kesenian tersebut tidak diperhatikan, tak menutup kemungkinan sepuluh sampai dua puluh tahun yang akan datang tradisi maupun budaya tersebut hilang dari peradaban.

“Midset berfikir perlu diubah agar budaya itu tidak hanya sebatas pawai lalu selesai. Potensi wisata yang ada di Bengkulu sesungguhnya sangatlah luar biasa,” tutupnya. [Zefpron Saputra]