ridwan-mukti-punya-misi-pembangunan-yang-kuat-minBENGKULU, PB – Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti menyatakan era pasar bebas ASEAN atau yang lebih dikenal dengan istilah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) harus dihadapi dengan serius. Salah satu langkah agar bisa bersaing di era liberal itu adalah dengan meningkatkan ketrampilan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Bengkulu.

“Dalam menyikapi MEA, tidak ada kata lain selain meningkatkan ketrampilan melalui peningkatan pendidikan, tidak hanya pendidikan tinggi tapi juga seperti tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),” kata Ridwan Mukti, ditemui di SMKN 1 Kota Bengkulu, Jumat (26/2/2016).

Baca juga: Kadin Sudah Siapkan Pelaku Usaha Tangguh di Era MEA dan Perhotelan Bengkulu Siap Hadapi MEA

Dia menyampaikan, dalam MEA ini kompetisi akan dilaksanakan secara terbuka. Artinya, tanpa penyiapan skill yang tepat terhadap masyarakat maka Bengkulu akan kalah dengan 10 negara ASEAN lainnya yang juga menerapkan kebijakan tersebut.

“Penetrasi SDM dari negara lain akan jadi persaingan terbuka di pasaran,” ungkapnya.

Dalam MEA ini, menurut mantan Bupati Musirawas itu, teknologi dan ilmu pengetahuan SDM Bengkulu juga harus terus ditingkatkan dan diseimbangkan. Hal ini agar mampu bersaing dengan SDM dari negara lain dipastikan sudah lebih siap untuk bersaing.

“Kita harus siap untuk menghadapi MEA ini dan kita harus memenangkan perang pasar dalam MEA ini,” jelasnya.

Lihat juga: MEA, Pemda Harus Mampu Berkompetisi dan Rakyat Tidak Siap Hadapi MEA

Sebelumnya, Akademisi Universitas Bengkulu Azhar Marwan sempat menyatakan bila masyarakat Bengkulu saat ini belum sepenuhnya siap berkompetisi dalam MEA. Karena itu, ia minta agar pemerintah berbenah dan mengoptimalkan Balai Pelatihan Kerja (BLK) untuk memperkuat SDM Bengkulu dalam menghadapi persaingan global tersebut.

“Saat ini masyarakat belum siap untuk berkompetisi, untuk itu kita minta pemerintah menguatkan ekonomi lemah. Langkah yang bisa diambil adalah memperbanyak BLK agar masyarakat kita lebih terampil dan punya kualitas daya saing,” ungkapnya.

Bila pemerintah lambat, ia khawatir ketahanan ekonomi Bengkulu akan kalah dengan dengan SDMnegara tetangga yang lebih sigap untuk menguasai pasar di Indonesia. “Misal, kalau kita tidak bisa memberikan pelayanan rumah sakit yang baik, bisa saja ada rumah sakit yang dibuat oleh orang Singapur atau Malaysia yang pelayanannya lebih bagus. Soal pendidikan juga seperti itu,” paparnya memberi contoh. [IC]