pohon-karetBENGKULU, PB – Tanaman tumpang sari bisa menjadi solusi bagi petani karet yang saat ini sedang terpuruk oleh jatuhnya harga komoditas karet. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Bengkulu, Ricky Gunawan saat berada diruang kerjanya.

Baca juga: Harga Komoditi Turun, Pemda Diminta Siapkan Dana Penyangga Komoditi

Dia menyarankan agar para petani karet segera mencari solusi tanaman alternatif seperti tanaman tumpang sari dilahan karet. Misalnya tanaman lada putih maupun lada hitam, karena harganya ditingkat pasaran lumayan tinggi dan ini peluang bagi para petani karet untuk beralih ke tanaman lada.

“Tujuannya agar pendapatan petani bisa bertambah sehingga tidak semata mengandalkan harga karet yang belum menentu ini. Bayangkan bila harga lada dipasaran per kilogram bisa mencapai Rp100 ribuan,” katanya kepada awak media.

Saat ini, lanjut Ricky perkebunan karet diberbagai belahan dunia telah mengalami stagnasi. Tiga negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) sepakat mengurangi ekspor karet alam sebanyak 615.000 ton untuk periode 1 Maret hingga 31 Agustus 2016.

“Ada tiga negara anggota ITRC, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand. ITRC juga sepakat tidak ada perluasan lahan penanaman karet dan hanya ada replanting (peremajaan),” papar Ricky saat ditemui di Kantor Gubernur Bengkulu, Kamis (11/2/2016).

Meski demikian, ia berharap pemerintah turut andil dalam membangun industri dalam negeri sehingga permintaan karet dalam negeri juga meningkat. Misalnya pembuatan bahan dock kapal, bahan aspal, dan bahan olahan industri lainnya. “Jatuhnya harga karet di pasar ekspor dunia ini dapat diikuti dengan upaya pembangunan industri dalam negeri,” tutupnya. [Theo Jati Kesumo]