pwi
Panelis dari Akademisi Profesor Herlambang (kiri), Kapolda Bengkulu Brigjen Pol M Gufron (tengah), dan Kajati Bengkulu Ali Mukartono (kanan).

BENGKULU, PB – Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) masih menjadi isu penting untuk dibahas. Pasalnya, kejahatan yang satu ini dianggap menjadi biang kerok rusaknya pembangunan Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkuku, Zacky Anthoni.

Dia mengatakan dialog hari ini mungkin memang tidak menghasilkan sebuah konklusi tapi paling tidak ada sebuah benang merah yang didapatkan sebagai upaya pemberantasan korupsi. Sebab, lanjutnya, korupsi sudah ditetapkan sebagai musuh bersama yang harus diberantas.

“Dialog ini adalah akar budaya bangsa yang sangat Pancasilais. Banyak persoalan yang bisa dituntaskan dengan dialog,” ujarnya, di Pola Bappeda Provinsi Bengkulu, Kamis (31/3/2016).

Terlebih lagi, ia menilai APBD Bengkulu yang sangat minim. Bila ditambah dengan korupsi maka dana untul pembangunan niscaya tidak ada lagi.

“APBD Bengkulu ini cuma Rp 2,2 triliun dan tidak semuanya bisa untuk pembangunan, apalagi bila ditambah dengan korupsi,” ungkapnya.

Hal yang sama disampaikan oleh Wakil Gubernur Rohidin Mersyah. Ia menilai korupsi adalah kejahatan di atas kejahatan atau extraordinary crime sehingga harus dibasmi.

“Semua orang, semua elemen bangsa sudah sepakat dengan itu. Tapi aksinya seperti apa,” tanya Rohidin.

Dia berharap dengan adanya dialog ini maka pengetahuan dan sikap yang harus diambil untuk terkait korupsi ini. “Dengan demikian, Bengkulu bisa bebas dari korupsi,” ujarnya. [IC]