100_9381BENGKULU, PB – Surat Edaran Menteri Perhubungan Ignasius Jonan agar dilakukan penyesuaian tarif sebesar 3 persen, sepertinya dianggap angin lalu. Tarif Angkutan Kota (Angkot) masih menggacu pada tarif lama.

Diketahui, sejak tanggal 1 April lalu, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami penurunan. Untuk  harga BBM non subsidi turun sebesar Rp 200 per liter, sedangkan BBM subsidi seperti premium dan solar turun Rp 500 per liter.

Padahal, ketika harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan, secara otomatis tarif Angkot juga ikut naik. Pihak sopir beralibi bila mereka sengaja mempertahankan tarif lama karena mengingat harga bahan pokok juga tidak kunjung turun. (Baca juga: BBM Turun, Jokowi: Tarif Transportasi Harus Turun)

“Surat edaran tarif angkutan umum sudah ada diedarkan, namun karena harga bahan pokok belum diturunkan maka kami juga belum menurunkan tarif Angkot, masih menggunakan tarif lama,” kata Gondro (34) sopir angkutan di Pasar Minggu Kota Bengkulu, Rabu (6/4/2016).

Saat ini, tarif lama untuk penumpang umum dikenakan biaya Rp 4000 per orang, untuk mahasiswa Rp 3000 per orang, sedangkan pelajar Rp 2000 per orang. (Baca juga: BBM Turun, Dishubkominfo Panggil Organda).

Lanjut Gondro, bila harga bahan-bahan pokok tetap sama di pasaran, sedangkan penumpang semakin sepi maka saran penurunan harga tarif Angkot sulit dilakukan. Lain halnya dengan kota-kota besar dimana penumpang cukup ramai sehingga bisa mengikuti penyesuaian tarif.

“Inti di sopir angkot ini adalah bahan pokok dan BBM jika keduanya sama-sama turun, tarif angkutan juga akan mengikuti turun. Apalagi penghasilan saat ini sudah tidak menentu, karena masyarakat sudah banyak yang memiliki kendaraan pribadi. Setoran harian kepada bos sebesar Rp 70.000, dan BBM juga diisi sopir,” terang Gondro.

Zubaidah, warga pengguna Angkot mengatakan tarifnya masih menggunakan tarif lama. Belum ada penurunan dan pengumuman selebaran juga belum ada ditempel, padahal BBM sudah turun. “Kalau menuntut kenaikan tarif sopir angkutan umum cepat, namun ketika penurunan seolah tidak tahu mereka,” ungkap Zubaidah dengan raut kecewa. [Zefpron Saputra]