Andi WBENGKULU, PB – Jelang Musyawarah Wilayah (Muswil), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bengkulu menggelar lokakarya pengkaderan dan pembinaan HMI Cabang Bengkulu di Mess Universitas Bengkulu (UNIB), Jum’at (29/4/2016).

Baca juga : Muswil KAHMI Bengkulu Banjir Hadiah

Seluruh kader Cabang dan Komisariat HMI Bengkulu ikut serta dalam lokakarya ini. Kepada kader, KAHMI Bengkulu memberikan sejumlah masukan dan rekomendasi yang diharapkan dapat diimplematasikan dalam pengembangan organisasi.

Ketua Steering Committee (SC) Muswil KAHMI Bengkulu, Andi Wijaya, mengatakan, manfaat lokakarya ini mungkin tidak bisa dirasakan dengan instan. Namun ia optimis, bila rekomendasi yang mereka rumuskan dilaksanakan, dalam satu atau dua bulan ke depan hasilnya bisa dirasakan.

“Harapan kita setelah ini, terjadi perbaikan dan pembenahan terhadap proses pengkaderan di HMI. Yang ikut disini merupakan kader-kader HMI dengan harapan dari sini mereka bisa menularkan ke teman-teman mereka yang lain,” kata Andi Wijaya.

Secara prinsip, lanjutnya, apa yang ditanamkan kepada kader adalah jangan meninggalkan dasar ke-HMI-an. Baik HMI sebagai organisasi kader, HMI sebagai organisasi mahasiswa dan HMI sebagai organisasi perjuangan.

“Kalau tiga hal itu dipegang teguh, insya Allah HMI bisa kembali diminati. Nanti hasil-hasil lokakarya ini akan kami jadikan sebagai makalah dan akan dijadikan sebagai buku panduan untuk adik-adik dalam menjalankan roda organisasi,” ujarnya.

Sementara mantan Ketua Umum HMI Cabang Bengkulu M A Prihatno, memaparkan, pengkaderan merupakan faktor yang sangat menentukan keberlangsungan eksistensi organisasi HMI. Menurut dia, yang paling menentukan dalam pengkaderan tersebut adalah petinggi struktur organisasi.

Ia menjelaskan, petinggi struktur organisasi harus selalu menjadi teladan bagi kader sehingga pengaruhnya bukan hanya berada pada sistem, tetapi juga pada kultur perkaderan. Dikatakannya, penguatan sistem perkaderan tidak mungkin dilakukan apabila indikator dinamisasi tersebut tidak mampu disusun dan diidentifikasi dengan baik. Sebab, penguatan pengkaderan secara sistemik seperti itu membutuhkan analisa mendalam dengan menggunakan pendekatan multi-perspektif.

“Sebuah keunikan yang dapat bersensasionalisasi sehingga menjadi daya tarik. Ketertarikan inilah yang akan membuat sistem pengkaderan HMI menjadi sebuah pengkaderan yang inklusif. Ketika berbicara sistem adalah bahwa di dalamnya memuat sub-sistem yang saling berhubungan sehingga terbentuklah sebuah sistem pengkaderan dan salah satu sub-sistem adalah nilai-nilai. Nilai-nilai ini akan saling berkaitan dengan sub-sistem lain seperti pola training dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Sistem pengkaderan HMI, sambungnya, tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah HMI, konstitusi dan pedoman-pedoman dasar organisasi. Dia berujar, nilai-nilai selain sebagai pembalut juga sebagai isi dari sosok kader. Proses menjadikan nilai-nilai sebagai isi inilah yang dia maksudkan dengan internalisasi, atau usaha prosesif menjadikan nilai sebagai bagian terdalam dari diri kader.

Lebih lanjut Prihatno mengatakan, ada empat koridor di dalam HMI. Yakni, Organisatorian, Ke-Inetelektualan, Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan. Dari keempat hal ini elaborasi nilai-nilai dapat dilakukan. Rancangan bangunannya bernama sistem pengkaderan dan arsiteknya adalah institusi HMI sementara tukang bangunnya adalah lembaga-lembaga atau person yang ditunjuk atau yang memiliki kapabilitas.

“Secara umum internalisasi nilai-nilai dengan langkah-langkah simpati, empati, asimilasi, pembauran sempurna, aplikasi trial-error. Dalam penguatan kader membutuhkan kejujuran intelektual sehingga kelemahan diri tidak akan tertutupi oleh kebohongan. Keinginan untuk berbuat kebaikan dengan menafikan resiko tidak enak bagi diri dalam berkebaikan. Perjuangan para Nabi dalam hal ini dapat menjadi contoh bagi para ‘penikmat proses pengkaderan’. Salah satu cara Nabi membentuk kader adalah dengan menjadikan diri pribadi sebagai obyek pengkaderan sehingga beliau mampu menjadikan dirinya sebagai tauladan dan akhirnya ketauladanan dengan sendirinya akan menjadi dampak dan bukan tujuan,” tutupnya.

Dalam lokakarya ini terungkap, organisasi hanya bisa hidup bila dibangun dengan dasar kesadaran. Organisasi merupakan persiapan bagi orang-orang di dalamnya untuk menjadi pemimpin di masa depan. Setiap kader harus memiliki jiwa haus akan ilmu pengetahuan dan memiliki wawasan yang luas.

Lokakarya ini merupakan rangkaian Muswil KAHMI Bengkulu yang akan digelar di Gedung Daerah, Sabtu (30/4/2016). Kemudian pada Minggu (1/5/2016), pukul 06.00 WIB, digelar acara terbuka berupa Jalan Sehat, Donor Darah dan Pemeriksaan Gigi Gratis. Banyak hadiah menarik yang disediakan panitia bagi setiap peserta yang mengikuti kegiatan ini dengan motor sebagai hadiah utamanya. [Zefpron]

Pengkaderan HMI I Pengkaderan HMI