Rr. Imamul MuttakhidahRR. Imamul Muttakhidah, 
Mahasiswi Pascasarjana Pendidikan Matematika

Dengan atau tanpa peringatan Hari pendidikan nasional (Hardiknas), penulis percaya bahwa pendidikan adalah pilar penting akan keberlanjutan sebuah bangsa. Yang perlu dipikirkan kemudian adalah kemajuan masa depan sebuah bangsa bukan hanya mengikuti paralel inteleknya, namun juga karakter manusianya justru diutamakan. Bagaimanapun kita harus turut berbesar hati bahwa pendidikan karakter kini mendapatkan haknya, setelah beberapa dekade diremehkan.

Ditengah dekadensi moralitas yang tengah terjadi dimasyarakat akhir-akhir ini. Mengembangkan nilai karakter dan mentransformasikannya dalam pendidikan formal memang bukan hal yang mudah. Karakter seseorang berkembang dari waktu ke waktu, dan dibentuk dengan berbagai cara. Salah satu cara adalah melalui paparan tindakan dan sikap orang lain (model figure), terutama orang-orang yang telah datang atas nama kepedulian dan kepercayaan. Selanjutnya melalui keterlibatan anak dalam tindakan moral, seperti kegiatan sosial. Cara ketiga melalui dialog terbuka atau diskusi yang mengangkat kompleksitas situasi moral dan tanggapan alternatif untuk situasi tersebut. Sebab hanya ada sedikit bukti bahwa moralitas anak-anak dengan memberi mereka penjejalan teori tentang prinsip-prinsip moral (akhlak/kesusilaan) memiliki pengaruh besar pada praktiknya.

Peranan Lembaga Formal

Tantangan bagi pendidik adalah untuk membantu anak tumbuh sebagai makhluk yang bermoral, dan melengkapi mereka dengan sumber daya internal untuk bertindak secara efektif pada keinginan itu. Ini tidak cukup untuk meminta anak untuk menjadi sopan dan taat hukum. Pendidik juga perlu membantu mereka mengembangkan hal yang mendalam bagi dirinya dan bagi orang lain, komitmen taat kepada nilai-nilai inti dari keadilan dan kepedulian, dan tekad untuk hidup dengan dan berbicara untuk apa yang mereka percaya juga mendengar, memahami, dan menampung kepercayaan dari orang lain.

Sayangnya, terlalu banyak program yang disebut sebagai “pendidikan karakter” ditujukan terutama untuk mempromosikan perilaku yang baik dan sesuai dengan aturan, tidak mengembangkan anak karakter yang kuat, dan independen. Program pendidikan karakter umumnya bermasalah dari varietas ‘Formalitas memaksa’ yang diikuti dengan adanya berbagai pujian dan penghargaan, teoritis dan hafalan, serta dalam berbagai perayaan (seperti peringatan hari besar, kata-kata bijak dsb). Seringkali pendekatan ini digunakan dalam kombinasi dengan satu sama lain. Poster warna-warni, kata-kata bijak di media sosial menampilkan nilai atau keutamaan bulan atau publik figur; acara motivasi; dan mungkin acara pengumpulan dana merupakan pendekatan yang dilakukan melalui perayaan. Pemikiran yang mendasari tindakan tersebut tampaknya ideal namun tidak semuanya mampu menyampaikan pesan karakter optimis dan pelajaran sejarah yang sesuai, sehingga anak mempunyai komitmen untuk melakukan yang benar dan mengambil sikap baik dengan stabil.

Pendekatan melalui pujian dan penghargaan berusaha untuk membuat nilai kebajikan menjadi kebiasaan dalam cara yang sama, seperti penelitian B.F. Skinner yang menggunakan pelet makanan untuk membentuk perilaku tikus dan merpati. Penguatan positif sebagai andalan, sering dalam bentuk “menangkap anak  yang baik” dan memuji mereka atau memberi mereka penghargaan yang dapat ditukar dengan hak istimewa atau hadiah. Ciri lain adalah dengan adanya kegiatan penghargaan atau lomba-lomba, di mana beberapa anak yang dipilih publik, yang dipandang memenuhi indikator perlombaan dan representatif dengan nilai yang ditentukan oleh penyelenggara. Dalam pendekatan ini, makna sebenarnya dari tindakan anak menjadi hilang, karena imbalan atau penghargaan menjadi fokus utama.

Dalam pendekatan teoritis dan hafalan, anak  diminta untuk menghafal teori dan definisi masing-masing. Dan yang menjadi pertanyaan guru di sekolah adalah “apa yang kita maksud dengan Integritas?” dengan cara yang sama mereka bertanya, “berapakah delapan kali tujuh? Empat kali sembilan?”. Jenis pertanyaan tersebut bahkan tidak membentuk karakter berpikir ilmiah, meskipun pencanangan kontruktifis sudah diterapkan.. Menghafal adalah metode sederhana bagi anak, jika demikian diteruskan hafalan tampaknya disamakan dengan perkembangan anak yang mempunyai kapasitas jauh lebih kompleks dan disposisi untuk melakukan yang jauh lebih baik.

Sedangkan pada pendekatan formalitas-memaksa, di sekolah atau institusi formal memfokuskan upaya pendidikan karakter pada ketat, kepatuhan seragam dengan aturan khusus dalam berperilaku. Misalnya, pakaian seragam, berjalan berbaris, bentuk sapaan formal bahkan menyadur bahasa asing seperti sapaan ibu diganti dengan mom (red. Mem) atau prosedur lain yang dianggap untuk mempromosikan rasa hormat (berdiri ketika setiap orang dewasa memasuki ruangan).

Dalam penilaian suatu pembelajaran misalnya, umumnya karakter didaftar aspek-aspeknya kemudian penilai mengambil satu rentang antara baik/tidak baik sebagai sebuah kesimpulan penilaian. Demikian itu menjadikan anak dipandang sebagai objek pasif, mungkin dalam suatu situasi seorang anak menjadi penurut untuk memperoleh penilaian yang baik sesuai aturan. Padahal perilaku tersebut tidak muncul dari dalam diri sehingga mematikan daya kritis, akibatnya mustahil dapat menggali lebih dalam tentang karakter anak itu sendiri. Selain itu, kebijakan pendidikan formal yang rigid mengenai ‘karakter’ tanpa pendampingan terhadap lingkungan masyarakat (informal) dapat dengan mudah mengalihkan perhatian kita dari apa yang sebenarnya penting untuk menumbuhkan kepedulian anak terhadap sesama, berprinsip, bertanggung jawab dan tumbuh menjadi manusia yang utuh.

Keempat pendekatan yang diuraikan diatas mungkin menghasilkan manfaat tertentu yang terbatas, seperti meminta perhatian pada hal-hal karakter atau membawa beberapa untuk lingkungan kacau. Tapi mereka tidak akan menghasilkan efek yang mendalam dan abadi pada karakter. Mereka bertujuan untuk memperoleh hasil perilaku yang cepat, daripada membantu anak  lebih memahami dan berkomitmen untuk nilai-nilai yang inti masyarakat kita, atau membantu mereka mengembangkan keterampilan untuk menempatkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan dalam situasi kehidupan yang kompleks.

Yang paling mendasar, lembaga formal pendidikan khususnya harus melibatkan dan menginspirasi hati anak serta pikiran mereka. Hal ini mensyaratkan bahwa sekolah pendidikan karakter dimulai dari pendidikan dasar anak, kebutuhan-kebutuhan mereka mengenai moralitas, hak dan kewajiban, kompetensi, dan otonomi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa cara anak melakukan afiliasi dengan orang-orang yang memenuhi kebutuhan dasar mereka, ikatan anak dengan sekolah yang dilengkapi teman-teman satu visi, antara bayi dengan ibu yang cakap menyediakan keperluan bagi mereka dan sejenisnya. Dengan kata lain, anak akan peduli tentang tujuan dan nilai-nilai sekolah ketika sekolah yang efektif peduli dengan kondisi mereka. Selain itu, ketika mereka merasa terhubung ke sekolah dan orang-orang di dalamnya, mereka dapat belajar lebih baik.

Dan bentuk terbaik dari pendidikan karakter adalah membangun sistem yang mendukung keaktifan anak, anak berpengaruh dalam menciptakan lingkungan yang peduli, meskipun hanya di dalam lokal kelas dan di sekolah pada umumnya. tantangannya untuk sekolah menjadi mikrokosmos di mana anak berlatih sesuai dengan usia dari peran mereka harus menghadapi kehidupan dan menangani masalah-masalah terkait. Tujuannya adalah budaya sekolah keseluruhan di mana semua orang di sekolah, termasuk guru, administrator, dan staf pendukung serta individu anak, memperlakukan satu sama lain dengan kebaikan dan rasa hormat. Bentuk terbaik dari pendidikan karakter juga melibatkan anak untuk jujur, diskusi bijaksana dan refleksi tentang implikasi moral dari apa yang mereka lihat di sekitar mereka, apa yang mereka ketahui, dan apa yang mereka secara pribadi alami. Ketika dipandu oleh orang dewasa, peluang untuk berbicara dan berpikir tentang hal-hal sosial dan etika memungkinkan setiap anak  untuk lebih jelas, menguatkan rasa dari “apa yang sebenarnya penting” dan “yang saya inginkan.”

Sementara ada kebingungan antara pendidikan moral yang cenderung berbasis teori, sedangkan pendidikan karakter cenderung dijadikan objek teoretis dalam sistem pendidikan. Piaget dkk (1976) menganggap Pendidikan moral sangat dipengaruhi oleh dan berasal dari kognitif model struktural dari tahap perkembangan penalaran moral.

Oleh karena itu pendidikan karakter mencakup keragaman yang lebih besar daripada metode pembelajaran, tetapi juga mencakup dua metode yang paling khas dalam suatu sistem pendidikan (pembelajaran dan layanan belajar). Meskipun beberapa dari stereotip representasi pendidikan karakter (misalnya Davies, Gorard, & McGuinn, 2005; Halstead & Pike, 2006), jelas bahwa pendidikan karakter mencakup metode yang kompatibel dan perlu untuk mempromosikan otonomi pemikir kritis (Halstead & Pike, 2006) yang merasa mempunyai kewajiban moral untuk melayani kepentingan umum (Bull, 2006).

Disposisi pendidikan karakter yang telah digagas dalam kurikulum 2013 meliputi menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianut, rasa ingin tahu, kepercayaan diri, ketertarikan pada objek pengetahuan, dll. Menurut penulis, masih ada beberapa disposisi karakter yang kurang berpusat pada kealamiahan berpikir, namun lebih kepada pembentukan sikap keilmiahan berpikir. Jika anak-anak dituntut berpikir kritis dalam belajar, mereka pun harus menjadi agen moral yang independen dan kuat, Anak-anak harus menjadi peserta aktif dalam keputusan moral sehingga mereka memahami posisi sebagai pemilik moralitas mereka sendiri. Dan mengingat kompleksitas ini, penentuan otoritas moral ditujukan untuk menggambarkan tingkat kewenangan yang dapat membantu siapapun yang terlibat dalam pendidikan mencoba untuk mencocokkan derajat otoritas mereka terhadap anak  atau lingkungannya.

Hemat penulis, bangunan karakter yang ideal merupakan orientasi pendidikan yang sebenarnya. Etika ilmiah dan moral yang baik akan menghasilkan produk pendidikan akan lebih bemanfaat bagi kemanusiaan demi mewujudkan cita-cita akan peradaban bangsa yang bermartabat. Ungkapan Prof. Soetandyo (2013) yang getir mengingatkan bahwa ‘Pendidikan itu educating the heart, namun di negeriku educating the brain yang cakap, cerdas, berpengetahuan tinggi namun siap bekerja dan dipekerjakan sebagai ahli bayaran’. Dalam situasi kemerdekaan berpikir sekarang ini, tentu kita tidak berharap demikian.*