Sosialisasi Penyalahgunaan Narkoba dan MirasBENGKULU, PB – Anggota Komisi III DPR RI Annarulita Muchtar mengatakan peredaran lem dan obat batuk saat ini banyak salah digunakan. Karena itu, penjualannya harus dibatasi dan diatur.

“Nanti akan kami bicarakan terus di Komisi III sampai zat-zat tertentu itu harus dibuat payung hukumnya,” kata Anna, Kamis (12/5/2016).

Dia pun mendorong agar pemerintah daerah untuk pro aktif membuat pergub, perbup atau juga perwal. Sehingga penyalahgunaannya bisa diawasi. “Nanti baru dimasukkan ke Banleg agar diterbitkan perda,” imbuhnya.

Dia menilai narkoba ini telah menjadi problema besar di Indonesia. Sudah banyak juga contoh kasus generasi bangsa rusak karena penyalahgunaan narkoba. “Mungkin nanti akan kita revisi UU dan ditambah zat yang memabukkan juga agar dilarang,” janjinya.

Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Edi Sunandar mengatakan saat ini sebenarnya sudah ada peraturan daerah yang mengatur tentang minuman keras. Namun saat ini perda itu banyak yang tidak jalan.

“Perda miras harus dijaga terus dan dilaksanakan. Jangan cuma sekedar jadi target tapi tidak ada imbas,” ungkapnya. (Baca: Bengkulu Darurat Miras dan Kemendagri Dukung Penerbitan Perda Miras)

Sebelumnya, Ketua Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba dan Tawuran Anarkis (Gepenta) Provinsi Bengkulu, Iryanka Aditya, menyampaikan penyalahgunaan obat batuk dan lem ini cukup mengkhawatirkan di Bengkulu. Karena itu, peredaran barang ini harus diatur.

“Saat ini belum ada aturan baik itu dalam bentuk UU maupun yang lainnya. Kami minta ini harus diperjuangkan oleh DPR RI, karena ini sangat meresahkan dan merusak generasi kita,” kata dia. [IC]