BPS1BENGKULU, PB – Berdasarkan pemantauan Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu (BPS) dari 82 Kota di Indonesia, Kota Bengkulu mengalami inflasi yang cukup tinggi hingga 1,35 persen atau naik lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Kepala BPS Provinsi Aden Gultom mengatakan inflasi tertinggi terjadi pada Juni 2016, dimana inflasi tertinggi dialami Pangkal Pinang sebesar 2,14 persen dan Kota Padang terendah sebesar 0,10 persen.

Inflasi di Kota Bengkulu terjadi pada semua kelompok, khususnya transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Lalu sandang 1,61 persen, bahan makanan 1,31 persen , makan jadi minuman dan rokok 1,05 persen. Untuk perumahan air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,24 persen.

“Namun sektor pendidikan, rekreasi dan olahraga yang tidak mengalami perubahan indeks atau tidak mengalami inflasi,” ungkap Aden

Proses inflasi yang cukup tinggi ini berjalan wajar karena memsuki momentum bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Penggunaan transportasi baik antar kota atau udara juga meningkat.

“Dilihat dari perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi pada bulan Juni 2016 maka perkembangan dari Januari-Juni 2016 menjadi 1,85 persen  dan inflasi tahunan mencapai 5,74 persen,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, sambungnya, Kota Bengkulu berada pada level 12 besar dari 82 kota yang ada di indonesia. Artinya indeks harga konsumen kita berkembang, dan memang inflasi tertinggi terjadi pada transportasi yang sangat tinggi terutama antar kota dan udara.

“Tak dapat kita pungkiri masalah ini terjadi berkaitan juga kegiatan pemerintah daerah Bengkulu yang mampu mendatangkan menteri dan pejabat pusat melalui transportasi udara. Ya, efeknya inflasi meningkat namun antar kota juga meningkat akibat adanya libur panjang ini, nah kalau soal inflasi pangan kita perkirakan karena kebutuhan bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan puasa” ungkap Aden Gultom

Selain itu Aden Gultom juga berharap terjadinya inflasi di Kota Bengkulu pada bulan juni ini dapat terus meningkat agar pertumbuhan ekonomi Kota Bengkulu dapat terus berkembang dan tidak hanya akibat libur panjang, serta bulan puasa.

Inflasi, sambungnya, menjadi indikator pertumbuhan ekonomi atau tolak ukur dalam perkembangan sebuah daerah. “Yah, kita berharap inflasi ini terus terjadi bukan hanya juni saja, jadi kalau terus meningkat bisa terlihat bahwa perekonomian masyarakat berkembang, sedangkan potensi kita bisa memadai dan dapat terus meningkat” jelasnya [NS]