Foto Tribunnews/Herudin

MESKI Pemilihan Walikota (Pilwakot) tahun 2018 masih satu tahun lagi, namun tensi politik di Bengkulu mulai memanas. Sejumlah sosok telah mendeklarasikan diri siap untuk mencalonkan diri sebagai calon walikota. Sebagian bahkan telah membentangkan spanduk besar di sejumlah titik-titik strategis di Kota Bengkulu.

Poling-poling di media massa dan media sosial bermunculan. Kandidat saling berkejaran untuk menjadi yang teratas. Tim sukses mulai dibentuk. Komunikasi politik antar partai dengan kandidat dan antara kandidat dengan calon konsituen, mulai berjalan.

Sayangnya, hingga saat ini, belum ada kandidat yang muncul dengan sejumlah program seperti APBD untuk Rakyat ala Helmi Hasan atau Tiga Pilar Pembangunan ala Ahmad Kenedi. Belum ada kandidat yang mampu secara tajam menganalisa berbagai persoalan sosial dan ekonomi di Kota Bengkulu serta merumuskan formula yang tepat untuk mengatasinya.

Padahal program-program itu sedemikian penting. Program itu sangat dibutuhkan untuk merangkul beragam sektor, seperti agamawan, budayawan, perempuan, dan intelektual. Sebab, kekuasaan haruslah dibangun dalam kerangka menyelesaikan problem bersama.

Program itu harusnya lebih sering dikampanyekan ketimbang kata-kata kosong yang fokusnya hanya untuk menonjolkan diri pribadi. Bahkan program itu harus bisa diperjuangkan dan diwujudkan. Sebab, sebagus apapun program, kalau tidak bisa diwujudkan, dia akan menjadi dokomen kertas semata.

Pertarungan Pilwakot sendiri tampaknya akan berjalan dinamis mengingat Walikota Helmi Hasan menyatakan tidak akan mencalonkan diri kembali dan akan berdomisi di Jakarta, menyusul istrinya. Namun apa yang dilakukan Helmi selama masa kepemimpinannya patut dicontoh oleh mereka yang telah mendeklarasikan diri sebagai calon walikota.

Ketika mencalonkan diri Helmi Hasan aktif mengkampanyekan program APBD untuk Rakyat. Program itu berisi, pertama, infrastruktur jalan, listrik dan air bersih untuk semua. Kedua, pembangunan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Ketiga, bantuan modal usaha satu miliar satu kelurahan. Keempat, tes CPNS bersih melibatkan perguruan tinggi lokal. Kelima, penciptaan 50 ribu lapangan kerja baru.

Ketika dirumuskan, program-program tersebut dia gali dengan mendatangi rakyat langsung dari rumah ke rumah. Ketika ia menjabat sebagai pemimpin, kecuali pelaksanaan tes CPNS, semua dilaksanakan dengan konsisten dan konsekwen.

Ke depan, tentu tantangan untuk membangun Kota Bengkulu jauh lebih berat, mengingat tuntutan dan keinginan rakyat semakin tinggi. Apalagi rakyat yang tinggal di Kota Bengkulu mayoritas merupakan pemilih rasional, hanya sedikit yang tergiur dengan politik uang.

Sejatinya, politik adalah seni mengorganisasikan kekuasaan untuk kepentingan seluruh warga yang tinggal di daerah kekuasaan tersebut. Rakyat sudah semakin cerdas untuk memilah dan memilih mana pemimpin yang berpolitik untuk kepentingan pribadi, mencari nafkah, memperkaya diri, melancarkan bisnis, menaikkan status sosial, dan lain-lain dan mana yang berpolitik untuk kepentingan rakyat.