Berwisata merupakan salah satu alternatif pilihan untuk berekreasi bersama Keluarga. Tak jarang banyak orang memilih untuk berwisata sejarah dibandingkan dengan wisata yang lainnya. Di Bengkulu banyak wisata sejarah yang kita temukan disana, mulai dari Benteng Malborough, Pemakaman Sentot Ali Basyah, Pemakaman Raja Inggris Stamford Raffless, Rumah Ibu Fatmawati, Rumah Pengasingan Bung Karno dan masih banyak yang lainnya.

Namun wisata bersejarah ini tidak mungkin kita kunjungi dalam waktu singkat, karena di Kota Bengkulu memiliki Museum Negeri yang berdiri sejak tahun 1978 yang berlokasi di Jalan Pembangunan No.8 Padang Harapan Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu.

Kami mengunjungi Museum Negeri pada hari Rabu ketika Pelajaran Sejarah setahun yang lalu. Pada waktu itu, kelompok belajar kami mengamati kebudayaan masyarakat Bengkulu pada masa lampau, seperti koleksi Pakaian Adat, Kain tenun dengan motif Kain Besurek, Rumah Adat Tradisional, Senjata Tradisional, dan Naskah tulisan huruf Ka Ga Nga yang berasal dari Suku Enggano.

Banyak sekali keunikan sejarah di Kota Bengkulu yang telah dikumpulkan di Museum. Salah satunya yaitu banyaknya temuan Arkeologis Kebudayaan Bengkulu telah berkembang sejak zaman Megalitikum seperti Menhir, Nekara, dan Kapak Persegi yang ditemukan di Kabupaten Bengkulu Selatan. Serta ditemukan Guci yang berasal dari Tiongkok ditemukan di Kabupaten Rejang Lebong.

Keunikan yang lainnya juga ditemukan dari sebuah Miniatur Rumah Adat Tradisional yang dibangun dengan gaya rumah panggung yang mirip dengan rumah adat di Provinsi Jambi. Namun, sebagian besar Rumah Adat Tradisional Bengkulu berhadapan dengan Jalan dengan bagian belakang yang menghadap matahari terbit. Hal ini dikonstruksikan agar cahaya matahari pagi dapat dengan mudah masuk ke dalam rumah sehingga udara di dalam rumah menjadi segar.

Selain itu konstruksi rumah adat dibuat miring dengan bangunan dibuat besar keatas sehingga rumah adat dapat menahan terpaan angin serta rumah adat dapat berdiri kokoh dan tahan lama. Salah satu contoh Rumah Adat Tradisional yang menjadi salah satu Koleksi di Museum Negeri yaitu Rumah Yup Kadie berasal dari Suku Enggano, Rumah Bubungan Lima berasal dari Suku Melayu, dan Rumah Berugau berasal dari Suku Serawai. Hal ini diungkapakan oleh salah satu Pegawai di museum yang menjadi Pemandu kami pada saat itu.

Ada satu lagi Koleksi Museum Negeri Bengkulu yang tidak asing bagi kita yaitu Batik Besurek. Kain tenun Batik Besurek yang berasal dari suku enggano merupakan salah satu koleksi di Museum Negeri Bengkulu. Kain besurek memiliki motif seperti huruf Kaligrafi Arab yang tidak bisa dibaca karena jika huruf Kaligrafi Arab bisa dibaca, maka kain besurek ini tidak bisa digunakan atau dipakai karena menurut ajaran islam Kaligrafi Arab yang merupakan ayat suci Al-Qur’an tidak boleh diletakkan di sembarang tempat apalagi digunakan sebagai pakaian. Sehingga motif kain besurek yang digunakan yaitu Kaligrafi Arab yang tidak bisa dibaca agar tidak menimbulkan pertentangan antara umat islam serta dijadikan sebagai unsur keindahan.

Dari sekian banyak keunikan budaya di Kota Bengkulu yang telah menjadi Koleksi di Museum Negeri Bengkulu, maka kita sebagai warga Bengkulu hendaknya mencintai Warisan Budaya kita serta menambah wawasan Ilmu Pengetahuan kita mengenai tempat-tempat yang mengandung nilai sejarah yang merupakan warisan nenek moyang kita. Warisan budaya inilah yang menjadi perjalanan sejarah daerah kita untuk bekal anak dan cucu kita di masa depan.

Wahyuni Cahnia Sari, Siswi MAN 2 Kota Bengkulu