Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa dan perjuangan pendahulu dan pahlawan/pejuang.

Tampaknya, bangsa kita bukan termasuk bangsa yang besar. Karena sudah sering kita dengar, banyak pejuang, veteran yang dengan taruhan jiwa dan raga mempertahankan kemerdekaan harus menderita di masa tuanya, menjadi gelandangan, pengemis, penjaja koran, terlantar hingga akhir hayatnya.

Untuk di Bengkulu, simbol-simbol perjuangan sudah hancur atau tak terawat. Dulu kita punya Tugu Kemerdekaan atau tugu perjuangan yang letaknya tepat di depan Rumah Dinas Gubernur di Kampung Cina. Namun di masa pemerintahan Gubernur Agusrin, Tugu itu ditumbangkan, diratakan dengan tanah, diganti dengan View Tower, yang saat ini, benar-benar tidak terawat dan entahlah apa gunanya. Hanyalah bau pesing air seni manusia yang tercium ketika kita berdiri di bawahnya.

Kemudian tepat di depan kantor Bank Indonesia, dipersimpangan yang mengarah ke Kampus Unihaz dan Kebun Roos akan kita temui sebuah taman. Taman itu adalah Monumen Perjuangan yang diresmikan oleh Gubernur Bengkulu, Haji Razie Yahya pada tanggal 1 Mei 1994. Gubernur Razie Yahya merupakan Tentara Pelajar saat jaman revolusi. Ikut berjuang melawan Belanda yang melancarkan agresi Militer pertama dan ke dua di Bengkulu.

Pada awalnya, di lokasi taman itu berdiri sebuah bangunan yang cukup bersejarah. Sebuah bangunan dengan arsitektur lama. Pada jaman penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang bangunan itu berfungsi sebagai gedung pertunjukan dan gedung hiburan. Istilahnya untuk zaman dahulu adalah “Kamar Bola”. Ya, karena di ruangan dalam gedung itu ada beberapa bola Kristas yang digantung, bila kena cahaya lampu akan berkelap-kelip, seperti lampu disco.

Memang gedung itu adalah tempat Dunia Gemerlap (Dugem) bagi kaum bangsawan Belanda atau pribumi. Mereka berpesta, berdansa dan menari di gedung itu. Dengan hiasan kemerlap cahaya bola kristal yang ada di atas mereka. Pada zaman jepang juga begitu. Gedung itu dijadikan tempat dugem mereka. Jangan salah, orang jaman dahulu juga mengenal dugem. Serdadu juga manusia. Butuh dugem.

Kemudin saat jepang meninggalkan Bengkulu, gedung itu menjadi markas /kantor KNI atau Komite Nasional Indonesia, pada tahun 1945-1946. Komite ini bertugas menyusun pemerintahan atau pamong praja, dari peralihan jaman Jepang ke Pemerintahan di bawah Republik Indonesia. Kemudian menjadi salah satu markas TKR atau Tentara Keamanan Rakyat. Dan sempat jatuh ke Tangan Belanda saat agresi militer ke dua dan tentara yang berada di Bengkulu mundur ke Front Jenggalu dan Taba Lagan.

Kemudian bangunan itu menjadi markas Detasemen Polisi Militer (PM) hingga tahun 1992. Pada tahun 1993 bangunan bersejarah itu dirobohkan sebagai korban pelebaran jalan. Sebagai gantinya dibangunlah sebuah taman sekaligus Monumen Perjuangan Rakyat Bengkulu 1945-1950.

Namun sayang, saat ini monument itu sangat memprihatinkan. Papan namanya sudah tak jelas dan tidak bisa dibaca. Di dalam taman itu penuh dengan sampah. Dan mayoritas sampah yang ada di taman itu adalah bekas bungkus obat batuk sachet “Komix”. Ratusan bahkan ribuan bungkus. Berserakan di mana-mana. Rupanya tempat itu menjadi markas anak-anak dan remaja. Mereka meneruskan perjuangan dengan gigih. Berjuang memberi keuntungan besar bagi perusahaan obat Batuk Komix. Mereka rela Teler dan siap mati. Seperti pejuang dan veteran di masa revolusi.

Dan sampah lainnya adalah bekas kaleng lem. Rupanya mereka menjalin koalisi dengan pejuang Komix. Ratusan bekas kaleng lem berserakan. Meninggalkan jejak dan perjuangan mereka, merenungi dan menghayati perjuangan pendahulu. Dan lokasi itu hanya berjarak 200 meter dari Polres Bengkulu. Dan sudah pasti di Polres itu ada satuan Bimas.

Mari kita songsong Wonderful Bengkulu 2020.

Evi Ansori, Ketua Komunitas Ayo Menulis Bengkulu