JAKARTA, PB – Deputi Bidang koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK, Sujatmiko, sangat mendukung gerakan positif yang dilakukan oleh warga jember dalam melindungi anak-anak dengan menggiatkan perlindungan anak berbasis masyarakat.

Program perlindungan anak berbasis komunitas tersebut merupakan rangkaian kegiatan Festival Egrang yang dilaksanakan setiap tahun bagi anak-anak buruh migran di Kabupaten Jember, Selasa (22/9/2017).

Digagasnya program tersebut karena melihat fenomana bahwa kabupaten Jember adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dan termasuk 10 besar pengiriman tenaga kerja keluar negeri. Menurut catatan dari BNP2TKI pada tahun 2013 Kebupaten Jember mengirim tenaga kerja sebanyak 10.617 orang.

Tingginya pengiriman tenaga kerja mengakibatkan anak-anak yang ditinggal oleh orang tuanya rentan terhadap perlakuan yang salah, baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

Hal ini pun disadari oleh Sujatmiko bahwa ancaman bagi anak-anak paling utama adalah; serangan narkoba, radikalisme, dan pornografi. Selain itu anak juga rentan terhadap ancaman kekerasan, baik kdrt, fisik, seksual, dan minuman beralkohol. Untuk mencegah hal itu, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama mengatasi hal ini.

“Melalui program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan berbasis Komunitas merupakan terobosan untuk memberikan perlindungan terhadap anak-anak rentan khususnya anak-anak buruh migran,” jelas Sujatmiko.

“Tanoker (Kepompong dalam bahasa Madura) adalah Komunitas di Kabupaten Jember yang bergerak dalam memberikan pengasuhan alternatif dan pengembangan kreatifitas Anak Buruh Migran (ABM),” tambah sujatmiko. [***]