BOGOR, PB – Pelestarian mengandung makna pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan sedangkan pengelolaan meliputi perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan pengendalian.

Oleh karena menyangkut dimensi yang sangat luas, maka Warisan Budaya perlu menjadi perhatian semua pihak baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemangku kebudayaan serta masyarakat luas.

Demikian pengantar Plh. Deputi bidang Koordinasi Kebudayaan, Haswan Yunaz, seperti dikutip dari situs Kemenko PMK, saat membuka sekaligus menyampaikan arahannya dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pelestarian dan Pengelolaan Warisan Budaya di Kota Bogor, Jawa Barat.

Rakornas dihadiri oleh Walikota Sawahlunto, Sumsel; Asisten Deputi Warisan Budaya Kemenko PMK, Pamudji Lestari; para pejabat eselon II dari K/L; Para Kepala Dinas Provinsi yang menangani Kebudayaan; Para kepala dinas kabupaten/kota yang menangani kebudayaan; Para kepala balai besar dan kepala balai taman nasional; dan para kepala balai pelestarian cagar budaya; serta para nara sumber lainnya.

Haswan mengingatkan bahwa pada tanggal 2 September 2016, Menko PMK, Puan Maharani, telah menandatangani Surat Keputusan Menko PMK No 20 Tahun 2016 tentang Tim Koordinasi Pelestarian dan Pengelolaan Warisan Budaya dan Alam Indonesia yang beranggotakan 12 Kementerian/Lembaga. Salahsatu tugas utama dari Tim Koordinasi ini adalah menyusun Pedoman Umum dan Roadmas Warisan Budaya dan Alam Indonesia.

“Ke depan, kita juga perlu melakukan evaluasi tentang Rencana Induk Pembangunan Kebudayaan (Tahun 2013) dan Indeks Pembangunan Kebudayaan (Tahun 2016) yang telah disusun oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar dapat diimplentasikan dan diukur perkembangannya berdasarkan indikator yang telah ada dan apabila diperlukan dapat dilakukan revisi Dalam Rencana Induk Pembangunan Kebudayaan berikutnya,” papar Haswan.

Terdapat tujuh pilar kebudayaan yang menurut Haswan seharusnya menjadi pedoman bagi pemerintah, pemerintah daerah, akademisi dan masyarakat dalam memajukan kebudayaan Indonesia, antara lain Pelestarian Hak Kebudyaan; Pembangunan Jati Diri dan Karakter Bangsa dan Multikulturalisme; Pelestarian Sejarah dan Warisan Budaya; Pengembangan Industri Budaya; Penguatan Diplomasi Budaya; Pengembangan Pranata Kebudayaan dan SDM Kebudayaan; dan Pengembangan Sarana dan Prasarana Kebudayaan. Sementara tantangan yang dihadapi Indonesia dalam memelihara dan melindungi warisan budayanya adalah berbagai kondisi baik karena faktor alam maupun pencurian akibat tidak dilindungi dengan baik.

“Kurang optimalnya pelestarian dan pengelolaan Warisan Budaya akan berdampak pada hilangnya identitas jati diri sebagai bangsa yang berkepribadian dalam berkebudayaan sebagaimana dicetuskan oleh Presiden Soekarno dalam Trisakti. Untuk itu, sebagai salah satu upaya untuk menjaga kelestarian warisan budaya bangsa adalah melalui rakornas ini untuk mendiskusikan berbagai isu, permasalahan dan tantangan serta roadmap dan rencana aksi dalam pelestarian dan pengelolaan warisan budaya saat ini dan ke depan” tambah Haswan lagi.

Selain upaya pelestarian dan pengelolaan warisan dunia, maka revitalisasi Cagar Budaya juga diperlukan mengingat Indonesia beriklim tropis lembab, maka sebagian dari cagar budaya terutama yang terletak di udara terbuka cepat mengalami kerusakan dan pelapukan yang disebabkan oleh faktor alam, hayati, dan manusia.

“Agar tetap lestari, maka cagar budaya tersebut harus dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujar Haswan.

Terakhir, Haswan juga menyoroti keberadaan museum sebagai jendela informasi peradaban masyarakat dan memiliki fungsi yang sangat strategis sebagai obyek kajian dan pembelajaran pada generasi muda, selain sebagai salah satu obyek wisata yang edukatif.

Namun sampai saat ini, fungsi museum semacam itu belum dapat dioptimalkan karena belum dikelola secara optimal.

“Untuk itu, Museum perlu didorong agar menjadi lebih dinamis serta dapat melayani masyarakat dengan maksimal,” tutup Haswan dalam sambutannya. (anr /ram)