MALUKU TENGGARA, PB – Tim Ekspedisi Bhakti PMK bersama KRI Banjarmasin 592 menyandar di dermaga Tual. Kedatangan Tim ekspedisi ini disambut jajaran Pemerintah Kota Tual, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dan masyarakat. Tarian daerah menyambut seluruh peserta saat turun dari KRI Banjarmasin.

Dikutip dari situs Kemenko PMK, Ilham Karim selaku Koordinator saat memberikan sambutan dalam upacara penyerahan secara simbolis ke Pemkot Tual dan Pemkab Maltra menyampaikan bahwa kedatangan tim Ekspedisi Bhakti PMK ini membawa amanah dari Menko PMK untuk menyampaikan salam kepada seluruh masyarakat yang ada di Tual dan Maltra.

“Saya menyampaikan salam dari Bu Menko PMK, salam sehangat-hangatnya untuk masyarakat Tual dan Matra. Kami sangat bangga bisa sampai di Tual dan Langgur,” ungkapnya di dermaga Tual, belum lama ini.

Ekspedisi yang dilakukan saat ini, terang Ilham, ada dua jenis yakni ekspedisi NKRI yang dilaksanakan di Papua bagian Selatan sedangkan untuk ekspedisi Bhakti PMK dilaksanakan dengan mengunjungi Saudara sebangsa dan setanah air di pulau-pulau terpencil. Agenda kegiatan pertama telah dilaksanakan di Pulau Muna dan saat ini akan dilaksanakan di Tual. kepulauan Aru, Asmat, dan Merauke akan menjadi tujuan selanjutnya.

“Puncak dari kegiatan ekspedisi NKRI ini akan bergabung pada puncaknya pada 28 Oktober yang diselenggarakan di Merauke, bertepatan dengan peringatan sumpah pemuda,” jelasnya.

Tim ekspedisi Bhakti PMK hadir di Tual tentu sembari membawa oleh-oleh berupa bantuan sosial. Bantuan yang ada berupa barang kebutuhan, pendampingan, sharing pengetahuan dan perberdayaan masyarakat, serta kajian akan potensi yang ada. Namun-oleh yang dibawa ini, tegas Ilham, tentu bukan hal yang paling penting. Justru rasa persaudaraan dan persahabatan sebagai saudara sebangsa jauh lebih dibutuhkan untuk membangun kebersamaan dan kejayaan bangsa Indonesia.

“Seluruh tim Ekspedisi Bhakti PMK bisa sampai di sini, yang diberikan adalah rasa persahabatan yang baik sesama manusia indonesia,” tegasnya.

Sementara itu Wakil Walikota Tual, Adam Rahayaan, dalam sambutannya memaparkan gambaran dan potensi yang ada di Kota Tual. Kota Tual merupakan sebuah kota di Provinsi Maluku, Indonesia. Kota Tual pernah menjadi bagian dari Kabupaten Maluku Tenggara sebelum Undang-Undang Republik Indonesia No.31/2007 disahkan.

“Kota Tual mempunyai akar budaya dan adat istiadat yang sama dengan Kabupaten induknya Maluku Tenggara yaitu filosofi adat hukum Larvul Ngabal,” ungkap Adam.

Nilai-nilai yang terkandung di dalam hukum Larvul Ngabal, terangnya, mampu memelihara ketertiban hubungan keakraban antar penduduk, menanamkan rasa gotong royong ( Budaya Maren), serta memupuk kesadaran masyarakat untuk menjaga keharmonisan alam melalui sistem “Hawear” yang mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijak dan berkelanjutan.

“Faktor budaya dan istiadat dapat diandalkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang mendukung adanya suatu keadaan yang kondusif dan harmonis,” ujarnya.

Secara demografi, jumlah penduduk Kota Tual hingga Juni 2010 berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Tual adalah sebesar 70.367 jiwa dan tingkat kepadatan penduduk sebesar 15 jiwa/Km2 dengan perincian sebaran penduduk terbesar berada di Kecamatan Pulau Dullah Selatan dan sebaran penduduk terkecil berada di Kecamatan Pp. Kur. Penduduk asli di wilayah ini adalah suku Kei, di samping orang-orang asal daerah lain yang menetap di wilayah ini, misalnya orang asal Jawa, Bugis dan Makasar serta Buton dan Ambon yang menetap sebagai pedagang.

Lebih lanjut Adam mengungkapkan bahwa potensi keindahan alam di wilayahnya sangat luar biasa. Alam Tual mendapat predikat sebagai surga yang tersembunyi di timur Nusantara. Kehadiran tim ekspedisi Bhakti PMK menjadi sebuah kehormatan bagi masyarakat Tual. Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian yang serius.

“Kedatangan tim Ekspedisi ini memiliki tujuan yang sangat mulia. Ini bisa dilihat dari nilai-nilai tujuan yg ada. Semoga ini bisa jadi memotifasi untuk meningkatkan partisipasi para generasi muda,” harapnya.

Di sisi lain, Adam berharap adanya bantuan yang berupa penelitian, kajian dan pendampingan yang dilakukan para peserta Ekspedisi Bhakti PMK mampu diimplementasikan dalam program dan kebijakan pembangunan. Sehingga mampu membangun masyarakat yang berkemajuan dan berdaya guna.

“Inisiatif dan kreatif menjadi kunci masyarakat dalam upaya pemberdayaan. Di sinilah peran tim ekspedisi Bhakti PMK dibutuhkan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Maluku Tengara, Yunus Serang, juga menyampaikan penghargaan atas kehadiran tim ekspedisi Bhakti PMK yang memilih kabupaten Maltra sebagai tujuan kegiatan. Ini menjadi bukti dan wujud perhatian pemerintah pusat dalam hal ini khususnya Kemenko PMK.

Wilayah Maltra memiliki destinasi wisata yang sangat tersohor baik di tingkat Nasional maupun internasional. Destinasi pantai di Maltra bahkan sudah menjadi destinasi dunia. Di sisi wisata budaya, Maltra juga sangat kaya akan keragaman budaya. Salah satunya ditunjukkan pada Gelaran Festival Pesona Meti Kei Tahun 2017 yang puncaknya pada tanggal 22 Oktober 2017.

“Objek wisata alam di Maltra potensinya sangat luar biasa. Bahkan pantainya menjadi pantai yang terhalus di dunia,” ujarnya.

Di sisi lain, tambah Yunus, permasalahan yang masih dihadapi masyarakat kepulauan yakni kemiskinan dan konektifitasnya antar wilayah. Kondisi ini tentu butuh perhatian dari semua stakeholder dalam upaya membangun masyarakat lebih sejahtera. Untuk itu, perhatian dan kepedulian pemerintah pusat sangat dibutuhkan.

“Pembangunan akan dapat teratasi dengan perhatian lebih dari pemerintah pusat,” tegasnya. [anr/ram]

Foto Istimewa