JAKARTA, PB – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyambut baik atas diperingatinya Hari Inovasi Nasional pada hari Rabu, 1 November. Pasalnya, pemerintah saat ini terus mendorong lemabaga-lemabaga pendidikan agar mampu menciptakan terobosan invoasi-inovasi baru.

“Perubahan tidak pernah menunggu bulan, bisa setiap hari, menit bahkan detik. Jika seseorang atau negara sekalipun tidak menerima perkembangan zaman dipastikan negara akan mengalami keterpurukan. Inovasi akan menjamin keberlanjutan kehidupan manusia,” ucap Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Prof. Agus Sartono, MA. di Kantor Kemenko PMK, jakarta Siang (1/11/2017).

Agus menjelaskan inovasi menjadi alat bersaing di level mikro (perusahan) dan makro (negara). Kuncinya untuk menjadi negara yang maju seperti China, Korea atau Jepang, maka negara harus investasisupaya inovasi yang berkelanjutan bisa terwujud.

Dalam menciptakan sebuah inovasi, Agus mengutip falsafah jawa yakni, Niteni (mengamati), Nirokke (meniru), dan Nambahi (memodifikasi).

“Sekarang ini kemampuan inovasi menjadi lebih cepat dan inovasi menjadi satu-satunya alat untuk membunuh pesaing, kalau kita tidak investasi untuk kemampuan inovasi maka kita akan kalah,” tutur Agus.

Sebagai pengawal isu pendidikan di Kemenko PMK, Agus melihat bahwa Indonesia membutuhkan grand design dalam pengembangan Ristek. Karena itu, Agus menambahkan, Menko PMK Puan Maharanipernah menyampaikan gagasannya di Rakernas Iptek tahun 2015 tentang perlunya Indonesia menyusun Grand Design atau rencana induk research nasional.

“Gagasan ibu Menko ini sudah difollowup oleh Kemenristek Dikti, yang kemudian tertuang dalam Rencana Induk Riset Nasional 2015-2045 di berbagai bidang,” ucapnya.

Dilaporkan sebelumnya dari Global Innovation Index 2017, yang menyebutkan, Indonesia berada di 87 dari 127 negara. Peringkat tersebut bahkan masih kalah dengan negara tetangga seperti Malaysia di peringkat 37 dan Vietnam di peringkat 47.

Karena hal inilah Kemenko PMK terus mendorong agar kemudian pengembangan inovasi dan riset bisa dilakukan oleh lembaga pendidikan secara makmimal. Dalam hal ini, Kemenko PMK telah melakukan langkah koordinasi dengan Kementerian dan Lembaga terkait, khususnya dengan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dan Kementerian Agama.

Pemerintah ingin membuat Endowment Fund (dana abadi) bagi pendidikan yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan digunakan untuk dua kepentingnan yakni beasiswa dan research ” Pemerintah pada tahun 2018 telah mengalokasikan dana APBN untuk Kemenristek Dikti sebesar 41.3 triliun rupiah. Tentu ini diharapkan bisa mendorong inovasi baru.

Selain hal itu, Agus memandang Sarana dan prasarana dibidang riset membutuhkan dana dana yang besar. Apabila ini tidak didukung oleh kegiatan riset yang kuat maka inovasi tidak muncul.
Inovasi dan riset ini bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda.

“Riset kuat inovasi kuat, tetapi kalau riset tidak kuat maka jangan harap ada inovasi.” Tegasnya.

Agus mengharapkan dengan diperingatinya hari inovasi nasional pada 1 November ini kondisi ekonomi dalam negeri bisa stabil, karena dengan hal tersebut pertumbuhan ekonomi bisa tinggi dan kemampuan negara untuk pembiayaan berbagai macam kegiatan riset pun akan terus didorong.

“Ini seperti lingkaran setan, kalau pertumbuhan ekonomi bisa stabil maka kita bisa membangun dengan baik, keuntungan ekonomi akan baik, pendapatan juga akan naik, dan kemampuan pembiayaan riset akan naik dan terus seperti itu,” kata Agus lagi. [AM]