JAKARTA, PB – Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengatakan pemblokiran pada situs-situs pornografi harus terus dilakukan.

“Ini bertujuan agar fikiran, moral dan karakter anak-anak tidak dikotori dengan hal-hal yang merusak,” ucap Dr. Sujatmiko saat melakukan Rapat Koordinasi Pencegahan dan Penanganan Pornografi Tahun 2017 di Kantor Kementerian Agama, Jakarta Senin (11/12).

Menurut Sujatmiko, kasus pornografi itu muncul dikarenakan oleh berbagai macam pola dan cara. Selain berkaitan situs yang bermuatan pornografi, saat ini seringkali muncul tayangan-tayangan iklan berkonten pornografi di sebuah situs toko online.

“Pemerintah akan serius menangani persoalan terkait pornografi,” terangnya.

Disisi lain, sebagai pengawal isu perlindungan anak dan perempuan di Kemenko PMK, Sujatmiko melihat bahwa perlunya penanaman nilai agama dan pemberian pendidikan karakter supaya bisa mencegah dan menangani pornografi.

“Demi menjaga aset bangsa ini, kita perlu sekali menanamkan nilai-nilai agama kepada anak, memberikan pendidikan karakter, dan ketahanan keluarga untuk pencegahan pornografi, jelas Sujatmiko.

Kemenko PMK dalam hal ini telah melakukan langkah-langkah koordinasi dengan Kementerian dan Lembaga terkait, khsusnya dengan Kementerian Agama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Polri, dan beberapa K/L lainnya.

Terakhir, Sujatmiko berharap demi tercapainya tujuan pembangunan, maka K/L terkait  harus lebih pro aktif dalam mengkoordinasikan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi (GTP3) dan hal-hal yang berkaitan dengan pornografi yang saat ini sudah bukan berbentuk fisik lagi melainkan digitalisasi melalui situs-situs online atau penggunaan media sosial yang berkaitan dengan pornografi.

“Saat ini kita harus melakukan segala macam upaya untuk melindungu anak terhadap tindakan orang dewasa yang seharusnya belum layak dikonsumsi apalagi diaplikasikan,” ujar Sujatmiko. [anr/ram]