Ilustrasi sistem pendidikan ala Jepang

JEPANG masuk ke Bengkulu pada tahun 1942. Dan ketika sepenuhnya menguasai daerah Bengkulu, Jepang banyak mengubah sistem yang ada, tak hanya di bidang pemerintahan, sosial-ekonomi saja melainkan bidang pendidikan juga terdapat perubahan.

Dalam buku karangan Achmaddin Dalip dkk, yang berjudul Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialisme di Daerah Bengkulu, menyebutkan dalam ranah pendidikan, Jepang memerintah semua sekolah yang sudah dibuka. Dan setiap penduduk dianjurkan menyerahkan anaknya untuk bersekolah tanpa dipungut bayaran.

Begitupun dengan semua guru, mereka dipanggil dan diangkat sebagai guru pada sekolah rendah dan sekolah lanjutan. Guru tersebut dipanggil dengan julukan ‘Sensei’.

Perubahan dan perkembangan dalam ranah pendidikan meliputi:

1. Sekolah Desa (Volk School) yang ada pada setiap ibukota marga, diganti namanya menjadi ‘Gun Ritsu Sho Gako’ dengan masa belajar tiga tahun.

2. Sekolah sambungan (Voorvolk School) dengan masa belajar 5 tahun dijadikan 6 tahun. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama ‘Suritsu Sho Gako’ (SSG).

3. Tahun ajaran sekolah dimulai bukan di bulan Agustus, melainkan di bulan April.

4. Struktur aparatur pendidikan yang dikenal adalah tiap-tiap Sekolah Rakyat (SSG) akan diawasi oleh seorang yang disebut Singaku. Pengawas sekolah itu bertanggung jawab kepada seorang inspektur pendidikan yang bergelar Singakukang. Kedua jabatan ini dipegang oleh orang Indonesia. Salah seorang Singakukang yang terkenal adalah Ibrahim.

5. Mata pelajaran yang diutamakan adalah Bahasa Jepang, Senam, dan Bernyanyi, selebihnya seperti biasa. Namun, mata pelajaran sejarah tidak diajarkan dan penggunaan Bahasa Belanda sangat dilarang.

6. Sebagai pengembangan lanjutan sekolah rendah, pemerintah Jepang mendirikan masing-masing sebuah sekolah yaitu:
a. Cu Gako di kota Bengkulu atau Sekolah Menengah Pertama dengan lama belajar 3 tahun.
b. Shi Hang Gako atau Sekolah Guru, dengan lama belajar 1 tahun di Pasar Kepahiang.
c. Ta Kunang Ku Renjo atau Sekolah Pertanian, dengan lama belajar 1 tahun, bertempat di Kabawetan.
d. Sekolah Perkapalan di Bengkulu dengan lama belajar 1 tahun.

7. Semua sekolah yang berbau Belanda ditutup.

Dan bagi sekolah-sekolah yang sudah berdiri seperti Taman Siswa, Muhammadiyah, dan lain-lain tetap berjalan hanya saja diwajibkan untuk belajar Bahasa dan Sejarah Jepang.

Setiap pagi sebelum memulai pelajaran di kelas, setiap sekolah mengadakan upacara dengan menaikkan bendera Jepang dan menyanyikan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo seraya membungkukkan badan ke arah Matahari Terbit sebagai penghormatan kepada leluhur mereka.

Kepada rakyat, Jepang menanamkan semboyan ‘Sedikit Bicara, Banyak Bekerja.’ sebab mereka sangat senang pada orang yang pekerja keras dan disiplin. Para pemuda yang tengah bersekolah ataupun yang putus sekolah, sangat menjadi incaran sebab mereka dilirik untuk kepentingan militer Jepang.

Semua pemuda diusahakan masuk organisasi pemuda yang bernama Seinendan. Sementara bagi kaum remaja putri dan Ibu-ibu juga tak luput dari perhatian. Mereka dimasukkan dalam organisasi Fujinkai. [Eva De]