UNTUK memenangkan Revolusi Indonesia kita harus dapat membangkitkan kekuatan-kekuatan revolusioner dalam masyarakat Indonesia. Dalam Manifesto Politik dikatakan, bahwa “modal pokok bagi tiap-tiap revolusi nasional, menentang imperialisme-kolonialisme ialah Konsentrasi kekuatan nasional, dan bukan perpecahan kekuatan nasional” dan bahwa Revolusi kita adalah satu Revolusi nasional.

Dengan ini jelaslah bahwa kekuatan sosial yang mendukung Revolusi Indonesia adalah kekuatan seluruh rakyat Indonesia kekuatan seluruh bangsa yang menentang imperialisme-kolonialisme. Orang-orang Indonesia yang tidak mendukung Revolusi Indonesia adalah perkecualian, dan jumlah orang-orang yang aneh ini tidak banyak.

Untuk “konsentrasi kekuatan nasional” dan agar kekuatan Rakyat dapat dipersatukan maka segala pertentangan yang terdapat didalam “bangsa” dan didalam “Rakyat” Indonesia harus diselesaikan sebagai menyelesaikan pertentangan antara “kita sama kita”, antara Rakyat dengan Rakyat, antara sesama bangsa yang menentang imperialisme-kolonialisme.

Dengan tidak mengurangi arti dari klas-klas dan golongan-golongan lain, sebagaimana sudah sering ditekan-tekankan oleh Presiden Sukarno kaum buruh dan kaum tani, baik baik karena vitalnya maupun karena sangat banyak jumlahnya, harus menjadi kekuatan pokok dalam revolusi dan harus menjadi soko-guru masyarakat adil dan makmur di Indonesia.

Dalam menghitung kekuatan-kekuatan revolusi harus juga dihitung apa yang sekarang sudah menjadi milik Rakyat Indonesia, yaitu:

Pertama: Undang-undang Dasar 1945 dan jiwa Revolusi 1945. Jiwa ini tidak lahir kembali begitu saja dengan Dekrit 5 Juli, tetapi masih harus kita pupuk terus dan kita perkembangkan terus, kita kobar-kobarkan terus dan kita gempa-gelorakan terus, terutama sekali dengan intensifikasi jiwa berkorban, baik mental maupun materiil.

Kedua: Hasil daripada segala fikiran dan keringat Rakyat sejak 1945 hingga sekarang yang berupa hasil-hasil materiil, maupun yang berupa tenaga-tenaga baru, kader-kader baru, dan lain sebagainya dalam segala lapangan.

Ketiga: Makin bertumbuhnya kekuatan ekonomi yang menjadi milik nasional atau dibawah pengawasan nasional, yang pada ini waktu sudah meliputi kurang-lebih 70% daripada seluruh kekuatan yang berada di Indonesia.

Keempat: Angkatan Perang yang makin lama makin kuat administrasi pemerintahan yang makin lama makin baik.

Kelima: Wilayah kekuasaan Republik Indonesia yang kompak unitaristis dan amat luas, dan yang letaknya amat strategis dalam politik dan ekonomi dunia serta jumlah Rakyatnya (manpower) yang kini sudah 88.000.000, tetapi terus bertambah pesat, sehingga dalam waktu singkat Indonesia akan mempunyai manpower yang 100.000.000, 120.000.000, 150.000.000 orang.

Keenam: Kepercayaan kepada kemampuan dan keuletan bangsa sendiri, yang sudah dibuktikan di zaman yang lampau, juga jika dibandingkan dengan revolusi-revolusi bangsa lain yang sedang berjalan sekarang, juga jika dibandingkan dengan revolusi-revolusi dinegeri-negeri luaran yang sekarang sudah selesai.

Ketujuh: Kekayaan alam, kekayaan diatas dan kekayaan didalam bumi, yang sungguh tidak omong kosong tak ada bandingannya diseluruh dunia ini, tak ada tandingannya didelapan penjuru angin.

Jadi jelaslah bahwa kekuatan-kekuatan sosial Revolusi Indonesia yaitu seluruh Rakyat Indonesia dengan kaum buruh dan kaum tani sebagai kekuatan pokoknya tanpa melupakan peranan penting dari golongan-golongan lain adalah sangat besar dan menyakinkan akan menangnya Revolusi Indonesia. [Eva De]