Alkisah di zaman dahulu kala di sebuah desa yang terletak di kota Garut, Jawa Barat Hiduplah seseorang perempuan yang sangat kaya raya yang bernama nyai Bagendit, kekayaan yang melimpah ruah ini tak lain ia dapatkan dari warisan suami nya yang telah meninggal dunia.

Dengan kekayaan yang melimpah menyebabkan nyai bagendit menjadi kikir, sombong dan semena-mena dengan rakyat kecil.

Karena merasa ia paling kaya di desa tersebut maka ia pun sering kali mengadakan pesta besar-besaran, pesta ini dilakukan tak lain untuk memamerkan harta benda dan perhiasan yang ia miliki kepada warga sekitar.

Walaupun ia begitu kaya raya namun ia tak pernah mau membantu warga sekitar apabila warga sekitar mengalami kesusahan ataupun kesulitan.

Ia selalu menolak dengan angkuh apabila ada warga yang ingin meminta bantuan dari nya. Warga sekitar tidak ada yang menyukai dengan perangai nyai bagendit. Namun mereka tidak bisa apa-apa karrna hanya warga biasa.

Suatu hari ketika pesta besar-besaran berlangsung, datanglah seorang pengemis dengan pakaian compang camping, celana lusuh. Ia pun berkata “Nyai, tolong beri hamba makanan sedikit saja,hamba lapar sudah beberapa hari belum makan” kata pengemis tersebut.

Karena merasa terganggu dengan pengemis itu Nyai Bagendit pun sangat marah dan mengusir pengemis itu dengan kasar, “Pergilah kau dari rumahku, pengemis kotor!!!” Pengemis itu pun pergi dengan perasaan sangat sedih.

Suatu hari ada kejadian yang aneh di desa tersebut dimana di jalan ada tertancap sebuah tongkat, karena merasa penasaran warga pun mencoba untuk mencabut tongkat iti, namun tidak bisa.

Mereka berfikir untuk mencabut nya beramai-ramai maka mereka pun mencabut dengan beramai-ramai namun tetap saja tongkat tersebut tidak bisa tercabut.

Sampai datanglah pengemis yang diusi oleh nyai gendit kala itu, ia mencoba mencabut tongkat tersebut alhasil tongkat tersebut tercabut dan mengeluarkan air, tanpa di sadari air pun keluar semakin deras karena warga takut tenggelam sehinhga mereka mencari tempat yang lebih tinggi agar aman.

Kareba ketamakan nyai bagendit itu ia tidak mau sama sekali meninggalkan rumah nya berisi banyak harta benda dan perhiasan. Sampai akhir nya ia pun tenggelam dengan harta,rumah beserta isi nya.

Pada akhir nya Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’.

Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata nyai bagendit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai bagendit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air. [Mitha]