Indikator lain yang menunjukkan mengalirnya kekayaan kita ke luar negeri dalam jumlah yang keterlaluan adalah berkenaan simpanan di bank-bank luar negeri.

Jumlahnya dalam persentase memang relatif sedikit, hanya sekian persen dari uang yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Namun jumlahnya dalam angka rill cukup besar, dan data ini telah kita ketahui karena telah diungkap Pemerintah.

Menurut pemerintah, pada akhir 2016 ada Rp11.000 triliun kekayaan orang Indonesia yang disimpan di bank-bank di luar negeri. Mengingat APBN atau anggran belanja negara kita saat ini hanya Rp2.000 triliun, jumlah ini lebih dari 5 kali APBN Indonesia.

Padahal, jumlah yang lebih dari 5 kali lipat anggaran negara kita ada diluar negeri ini, jika ada di dalam negeri, bisa disalurkan oleh bank-bank Indonesia untuk membiayai usaha-usaha Indonesia. Bisa disalurkan untuk membangun infrastruktur, dan menjadikan BUMN Indonesia perusahaan-perusahaan kelas dunia.

“Indikator lain yang cukup miris bagi saya, adalah besarnya aset bank-bank di negeri tetangga, sebagai contoh di Singapura, dibandingkan dengan bank-bank terbesar Indonesia,” ungkap Prabowo Subianto dalam buku Paradoks Indonesia.

Jumlah penduduk Singapura 50 kali lebih sedikit dari Indonesia. Besar ekonomi Singapura yang hanya $300 miliar juga 3 kali lebih kecil dari ekonomi Indonesia. Namun bank terbesar mereka bisa 5 kali lebih besar dari bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri.

Selain itu, jumlah aset di tiga bank terbesar Singapura hampir 6 kali lebih besar dari apa yang dikuasai oleh tiga bank terbesar Indonesia.

Negara dengan jumlah penduduk hanya 5 juta orang, jumlah simpanan di bank-bank nya 6 kali lebih besar dari jumlah simpanan di bank-bank Indonesia, negara dengan penduduk sebanyak 250 juta orang, jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Secara sistematik, hal ini sebenarnya tidak mungkin. Kita patut bertanya, siapakah pemilik uang yang tersimpan di bank-bank Singapura itu? Dari mana asalnya uang simpanan itu?

Indikator ini, ditambah indikator neraca ekspor-impor dan cadangan devisa, mengindikasi bahwa kekayaan Indonesia tidak tinggal di Republik Indonesia.

Artinya, sekarang hanya menjadi pesuruh bangsa lain. Indonesia hanya menjadi bangsa kacung. Ini belum bicara mengenai uang yang dikuasai oleh perusahaan asing, warga negara asing, dari hasil berusaha di Indonesia yang di simpan di luar negeri. Dari produk-produk asing, yang Indonesia impor dan yang setiap hari dibeli dan digunakan oleh ratusan juta rakyat Indonesia.

“Mohon maaf, saya harus bicara keras. Menjadi bangsa kacung buka cita-cita kita. Bukan juga cita-cita pendiri-pendiri bangsa kita. Untuk apa kita punya negara, kalau kita hanya jadi bangsa kacung orang lain? Hanya untuk memperkaya bangsa lain?” demikian Prabowo Subianto. [Mey Borjun]