Seperti disebutkan dalam karangan J.L ada ulama-ulama yang terus terang mengharamkan rente yang tidak memberi kebebasan, sehingga timbul praktek bank orang muslim yang tidak menyenangkan. Rente itu sendiri merupakan rentetan modal yang dibayarkan/diterima pada setiap jangka waktu tertentu yang tetap besarnya. Ada pula ulama yang mengatakan, bahwa memungut rente itu pekerjaan yang tidak baik, tetapi apabila kemajuan masyarakat menghendaki rente itu dibolehkan.

Selanjutnya ada pula ulama yang mengatakan, bahwa memungut rente itu dibolehkan, apabila dikerjakan dengan terang-terangan dan dinyatakan tarif nya, sehingga orang yang akan meminjam dapat menimbang sendiri, apakah pinjaman itu menguntungkan kepadanya atau tidak. Yakni mengharamkan rente yang merupakan buah kapitalisme, karena segala agama, dalam keadaannya yang suci dan murni, memang bertentangan dengan kapitalisme.

Dirangkum dari buku Beberapa Fasal Ekonomi Dr Mohammad Hatta terbitan Balai Pustaka Jakarta, menyatakan bahwa, kata rente tidak ada disebut dalam Quran, yang ada hanya fasal riba. Ada dua kali dikemukakan dengan nyata, dalam surat Al-Baqarah (ayat 275 dan 276) dan surat Ali-Imran(ayat 139). Dalam surat Al-Baqarah sebelum membicarakan fasal itu, disebut pahala bersedekah. Ayat 274 menyebutkan, mereka yang menyedekahkan hartanya siang dan malam dengan berdiam-diam atau terang-terangan, akan diberi Allah pahala. Dan sebagai nasihat kepada orang yang beriman (Surat Ali-Imran ayat 130) diperingatkan juga kejahatan riba itu, janganlah engkau memakan riba yang berlipat ganda dan takutlah engkau kepada Allah, supaya engkau beroleh bahagia.

Dalam semuanya itu nyata dipertentangkan pahala bersedekah dengan kejahatan riba, dipertentangkan yang baik dan yang buruk. Yang pertama berbuat baik kepada sesama manusia yang dalam kesusahan. Yang kedua menganiaya akan sesama manusia yang lagi dalam susah. Bersedekah memperluas sifat dan budi kejalan tolong menolong. Riba menyatakan fi’il suka menindas dan mengisap darah orang. Sebat riba itu haram.

Sebagai kunci soal pertentangan antara baik dan buruk itu terhadap harta dan milik boleh dipandang sebagian dari pada isi surat, Waulu’ilikuli humazati’llumazah, yang mengancam mereka yang mengumpul-ngumpulkan harta dan mengitung-hitungkannya, yang mengira bahwa hartanya itu akan kekal hidup nya didunia. Semua itu menyatakan betapa kerasnya larangan terhadap mempergunakan harta untuk menindas akan sesama manusia. Tak heran jika ayat ini sering dikemukakan oleh orang yang berdarah sosial untuk menentang kapitalisme.

Jadi rente itu sama sifatnya dengan riba, sudah tentu rente itu juga haram. Pada lahirnya memang sama rupanya, kedua-duanya banyak bunga daripada harta yang dipinjamkan, tetapi sifatnya dalam kemajuan masyarakat sampai sekarang ada bedanya. Riba sifanya semata-mata konsumtif, semata-mata dipungut dari orang yang miskin, yang meminjam uang untuk keperluan hidupnya, dengan tiada berfikir panjang tentang melaratnya dikemudian hari.

Bunga uang yang dibayar bagi pinjaman uang untuk membuka perusahaan, disebut rente produktif. Rente itu adalah sebagian dari pada keuntungan, yang diperoleh dengan bantuan uang orang lain. Berlainan dengan riba, rente adalah produktif hasil dari pada kapital yang berbuah. Kapital itu boleh jadi berupa uang, tanah, rumah dan lain-lain. Rumah dan tanah itu menghasilkan rente juga, sama sifatnya dengan kapital uang. Riba adalah hasil dari uang yang tidak berubah.

Dalam masyarakat sosialisme atau koperasi pendek kata masyarakat kolektif tidak ada riba dan tidak mungkin adanya. Dalam masyarakat semacam itu hartanya hanya dibolehkan sebagai harta pakaian sendiri dan harta buat usaha atau alat penghasilan, yang mengikat pekerjaan.

Tentang rente, tetap ada dalam masyarakat kolektif. Juga perusahaan yang dipimpin oleh anggota atau penguasa masyarakat sewaktu-waktu perlu aman kapital usaha, dan perlu juga tambahan kapital tetap. Sebagian besar dari kapital itu bakal tandas dalam perusahaan, menjadi uang dan habis tenaganya.

Bedanya dengan masyarakat induvidualisme, dalam masyarakat kolektif, rente jatuh kepada umum, dipungut oleh pengurus masyarakat, misalnya negara dan dipakai untuk keperluan orang banyak pula. Dalam masyarakat sekarang, rente jatuh ketangan orang-orang yang mempunyai harta, yang dapat dipinjamkan atau dilekatkan kepada rumah dan tanah.

Dan sekarang, jika dalam paham agama harta uang itu boleh dilekatkan ketanah dan rumah, yang menghasilkan rente, maka tidak pula dapat agama melarang pemungutan rente itu daru kapital yang dipinjamkan buat perusahaan produktif. Mengambil rente produktif sifatnya berbagi keuntunga dengan orang yang menjalankan uang itu, dengan menetapkan bagia yang empunya kapital lebih dahulu.

Selagi ada masyarakat induvidualisme, yang berdasarkan pertukaran barang dan jasa atara seorang dengan seorang dan diantara badan-badan partikulir, selalu ada pembayaran. Jadinya jasa kapital dibayar dengan rente, sebagaimana orang membayar jasa buruh dengan upah. Sementara agama islam dengan didikannya, belum dapat menimbulkan masyarakat yang berdasatkan tolong-menolong dan usaha bersama, tidak dapat melarang kepulangan rente produktif kepada orang seorang yang mempunyai harta. Sebab pemungutan rente oleh orang partikular yang mempunyai harta itu terbawa dan ditentukan duduknya oleh bangun masyarakat kita sekarang.

Jika perjalanan masyarakat sampai jauh kelak hingga tercapai dasar sosial yang sempurna, sifat rente produktif itu akan berubah pula jadi sosial. [Mey Borjun]