PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batu Bara Teluk Sepang terus menjadi polemik. Disebut sebagai energi kotor, adanya PLTU tersebut dinilai menyiksa warga Teluk Sepang.

Melihat polemik PLTU Batu Bara yang kian menyiksa masyarakat Teluk Sepang tersebut, Aliansi Tolak PLTU Batubara Teluk Sepang mengajak seluruh Mahasiswa Universitas Bengkulu turun ke jalan dalam 90 tahun momentum sumpah pemuda dan menggelar Aksi Demonstrasi didepan Kantor Gubernur Provinsi Bengkulu, Senin (29/10/2018).

“Penggunaan listrik dari batu bara melalui proyek pembangkit listrik PLTU secara nyata memperburuk kualitas hidup serta menjadi salah satu penyebab kematian bagi mahluk hidup. Penelitian menyebut polusi PLTU batu bara menjadi penyebab kematian dini 6.500 orang per tahun di Indonesia,” kata Jon Kenedi, Koordinator Lapangan.

Dijelaskan Jon Kenedi, polusi dan pembakaran batu bara juga telah menyumbang tidak kurang dari 40 persen emisi gas rumah kaca dan menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Namun pemerintah saat ini semakin masif mendirikan PLTU batu bara diseluruh Indonesia khususnya Pulau Sumatera sebagai pusat pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dimana 70.004 MW listrik dari PLTU batu bara akan ditambah lewat program ambisius penambahan 35.000 MW daya listrik dan salah satu proyek ini berdiri di Bengkulu dengan kapasitas 2 x 100 MW di Teluk Sepang.

“Berdasarkan Amdal PLTU ini akan membakar 27.324 ton batu bara per hari atau 11.385 ton/jam yang menghasilkan abu sebanyak 3.985 ton/jam (30 persen dari bahan bakar) yang terdiri dari fly ash (abu terbang) 14,23 ton/jam (12,5 persen) dan botom ash (abu bawah/abu yang mengendap) 25,61 ton/jam (22,5 persen) pembakaran batu bara akan memancarkan sejumlah Polutan seperti NOx SO2 dan PM 25 serta bahan kimia berbahaya dan mematikan seperti merkuri dan arsen dampak dari polutan tersebut mengakibatkan kematian dini stroke penyakit jantung kanker paru-paru serta penyakit pernapasan,” kata Jon Kenedi.

Sambung Jon Kenedi, sementara potensi energi bersih di Bengkulu tercatat 73.048 MW yang berasal dari air angin dan panas bumi yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik potensi energi bersih yang besar ini Seharusnya dikembangkan oleh pemerintah daerah maupun pusat Bengkulu tidak membutuhkan pembangkit energi kotor yang jelas merugikan kehidupan rakyat dan makhluk hidup lainnya.

“Aksi tolak PLTU batubara Teluk Sepang ini adalah rangka panjang untuk melakukan penolakan PLTU batubara Teluk Sepang dengan tuntutan mencabut izin lingkungan PT tenaga listrik Bengkulu oleh Plt Gubernur. Dasar dari pencabutan izin tersebut lantaran ada beberapa kejanggalan dalam proses pemberian PLTU termasuk persetujuan warga yang sejak awal menolak proyek ini. Namun Pemerintah terus saja abai pada rakyat yang sudah paham dan mengambil keputusan proyek sejak awal kami juga mengkaji bahwa ada tindakan cacat hukum dalam proses pembangunan PLTU salah satunya melanggar dokumen tata ruang provinsi dan kota,” jelas Jon Kenedi.

Sementara warga Teluk Sepang, Hamidi, mengatakan sejak awal tegas menolak proyek PLTU batubara di Kelurahan Teluk Sepang aspirasi itu telah mereka sampaikan dengan aksi unjuk rasa saat peletakan batu pertama proyek pada tahun 2016 namun suara masyarakat diabaikan dan saat ini penolakan terhadap proyek ini terus diperjuangkan oleh warga lokal

“Kami tidak akan pernah berhenti berjuang karena masa depan anak cucu kami di Teluk Sepang dipertaruhkan,” ungkapnya. [Ardiyanto]