PedomanBengkulu.com, Bengkulu РSambal Lema, sambal warisan leluhur dari daerah Rejang Lebong, dibuat dari rebung yang di fermentasi secara alami dan tradisional.

Penduduk suku Rejang gemar menyantap lema untuk mendampingi nasi. Lema merupakan makanan asli Rejang Lebong di Provinsi Bengkulu. Baunya terbilang unik dan mungkin saja banyak orang menganggapnya tidak sedap karena kuliner ini merupakan efek dari fermentasi atau pembusukkan. Meskipun demikian, lema merupakan santapan lezat masyarakat setempat.

Bahan yang digunakan untuk membuat lema antara lain rebung muda, ikan, dan campuran nasi. Umumnya ikan yang digunakan adalah mujair atau sepat, serta terkadang ikan-ikan kecil yang hidup di air tawar.

“Sambal lema itu makanan tradisional masyarakat rejang,¬† terbuat dari bahan rebung yang di fermentasikan dengan ikan sungai”ungkap Sekertaris Sambal lema Istianti Ida.

Untuk membuatnya, rebung dicincang dan dicampur dengan ikan, kemudian adonan disimpan di atas wadah yang telah dilapisi daun pisang dan tutuplah rapat-rapat. Proses pengeraman seperti ini membutuhkan waktu tiga hari hingga seminggu agar ikan menjadi hancur. Setelah itu lema siap dimakan langsung dengan nasi, diolah lagi menjadi gulai, atau dimakan bersama lalapan seperti kabau, jering atau petai.

Warga rejang yang suka pedas juga sering meracik lema menjadi sambal khas. Caranya, tumis cabai, bawang merah dan bawang putih yang telah dihaluskan. Setelah harum masukkan lema dan beri sedikit air, kemudian bubuhkan garam dan gula pasir secukupnya. Tidak lama maka sambal bercitarasa asam, pedas, dan segar siap menyempurnakan santapan Anda.

“Sambal Lema kini dikemas secara modern di dalam botol kaca, jadi wisatawan bisa membawanya sebagai oleh-oleh. Alamat kami di Gg Seroja Curup, untuk harga 250g Rp 25.000. Dalam satu bulan kami bisa produsi 100 botol sambal lema,” tandasnya.

Setiap warga di Kabupaten Rejang Lebong pasti tau cara membuat lema dan mudah mendapatkannya di pasar-pasar tradisional atau di toko oleh-oleh, dan biasanya dijajakan bersama manisan modern lainnya. [Mey Borjun]