Lia Lastaria

Pedomanbengkulu.com – Seluruh dunia baru saja memasuki tahun yang baru 2019. Setiap orang tentu memiliki banyak harapan dan target baru yang mesti dicapai di tahun ini. Ini menjadi penting untuk dilakukan oleh, khususnya, kaum milenial.

Dokter cantik Lia Lastaria mengungkapkan, anak muda alias milenial Bengkulu wajib memiliki harapan dan target di tahun ini.

“Sekarang tahun udah berganti. Yang namanya anak muda ya harus punya target baru, harapan baru, dan wajib optimis. Nah, optimisme ini yang mungkin susah untuk dijaga, tapi bukan berarti mustahil, saatnya move on dari kegagalan”, ungkap dara cantik yang akrab disapa Lia ini, Rabu petang (2/1).

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini pun menilai pentingnya melakukan evaluasi atas capaian-capain milenial Bengkulu di tahun yang telah berlalu. Menurutnya, tanpa evaluasi dan introspeksi diri, tentu sulit untuk membuat perencanaan yang matang.

“Umumnya, kita lalai dan abai. Tidak mau flashback ke belakang. Padahal, evaluasi dan introspeksi diri itu kan penting banget. Biar kita tahu, apa aja sih kelemahan kita di tahun sebelumnya. Apa saja sih target yang belum tercapai. Gimana mau membuat inovasi kalo kita tidak punya perencanaan yang matang? Anak muda harus mampu membuat inovasi, mulai dari perencanaan yang matang sampai dengan realisasinya yang terukur”, ujarnya.

Keponakan kandung Gubernur Bengkulu Dua Periode Agusrin M. Najamudin ini juga mengajak kaum milenial untuk terus mengasah kemampuan diri.

“Jangan pernah berhenti belajar dan terus belajar. Kemampuan diri harus terus diasah. Penting untuk kita mengetahui, sebenarnya bakat kita di bidang apa, karena jangan-jangan di bakat itulah jalan kesuksesan dan kebahagiaan kita nantinya. Jangan malu juga untuk bertanya pada yang lebih mengerti. Kadang-kadang kita suka gengsi, nah, ini yang harus dihindari,” papar Lia.

“Intinya, harus punya target, harapan, dan optimisme yang kuat. Kalo berusaha tapi tidak optimis, kan aneh juga jadinya. Jadi, menurutku, semuanya harus selaras dan serasi”, sambungnya.

Lia pun mengilustrasikan dengan perjuangannya untuk dapat menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia beberapa tahun silam.

“Mungkin, jika dulu aku nggak optimis, rasanya mustahil aku bisa menyelesaikan kuliah di kedokteran UI. Tapi, alhamdulillah, berkat optimisme dan usaha yang keras, tentu juga disupport oleh keluarga dan sahabat, akhirnya bisa selesai. Sekarang saatnya mengabdikan diri ke masyarakat. Sia-sia donk ilmu pengetahuan yang kudapat kalo ga bermanfaat bagi masyarakat”, tutup Lia.

Ary, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Bengkulu sependapat dengan apa yang disampaikan oleh dokter Lia. Menurutnya, selain kecerdasan, anak muda juga harus punya optimisme yang kuat.

“Saya sependapat dengan yang disampaikan mbak Lia. Anak muda itu memang harus cerdas. Tapi, juga harus punya optimisme yang kuat. Masa depan mana mungkin sesuai rencana kalo tidak optimis”, kata Ary.

Selain Ary, Mujiyono, yang juga berstatus mahasiswa juga menyatakan sikap setujunya meski dengan bahasa yang berbeda.

“Anak muda itu harus punya keyakinan tentang mimpi-mimpinya di masa depan. Seperti kata mbak Lia, mana mungkin bisa selesai kuliah kalo nggak punya optimisme. Tahun baru ini yang harus diperbarui juga optimismenya, rencana-rencananya, dan juga targetnya”, tutur Mujiyono. (**)