Ilustrasi

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Setiap akhir bulan, BMKG selalu membuat evaluasi aktivitas gempa bumi tektonik selama sebulan di wilayah Indonesia.

Aktivitas gempa bumi selama sebulan dipetakan menjadi produk peta aktivitas gempa bulanan atau peta seismisitas bulanan.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono S.Si., M.Si mengungkapkan, peta semacam ini perlu disampaikan kepada masyarakat, agar kita semua dapat mengetahui aktivitas gempa yang terjadi setiap bulan di wilayahnya.

“Dari peta ini akan tampak sebaran aktivitas gempa dalam sebulan. Kita juga dapat mengetahui adanya kluster atau grombolan sebaran pusat-pusat gempa tektonik di beberapa wilayah,” ungkapnya beberapa hari lalu.

Menurutnya, kluster-kluster aktivitas gempa kecil ini disebut sebagai zona aktif. Sekalipun aktivitas gempa hanya magnitudo kecil kurang dari 5,0 tetap perlu kita monitoring pergerakannya.

“Sebagai contoh kluster aktivitas gempa-gempa kecil atau zona aktif yang ada pada bulan Januari 2020 ini bisa jadi sampai bulan Februari masih ada, tetapi bisa jadi ada kluster yang berubah tidak aktif atau bergeser ke zona lain,” jelasnya.

Pergeseran zona aktif dari waktu ke waktu adalah dinamika aktivitas gempa tektonik di Indonesia.

“Ini wajar karena wilayah kita memiliki sumber gempa yang banyak,” ungkapnya.

Adapun klaster gempa kecil pada Januari 2020 ini ada 8 tampak ada di (1) Nias, Simeulue, (2) Bengkulu, Jawa Barat, (3) Bali, Lombok, Sumba, (4) Gorontalo, (5) Laut Maluku, (6) Ambon, (7) Banda dan (8) Mamberamo Papua.

Lanjutnya, dari klaster aktivitas gempa ini kita dapat mengetahui adanya zona aktif yang masih bertahan seperti yang ada di Lombok, Ambon, dan Mamberamo namun demikian ada zona aktif yang  cepat berakhir tanpa terjadi gempa kuat.

Peta zona aktif adalah laporan aktivitas gempa bulanan, dimana BMKG melakukan tugasnya melakukan monitoring gempa di wilayah Indonesia.

“Ini menjadi bagian dari tugas BMKG dalam memberikan informasi gempabumi serta mengedukasi masyarakat terkait aktivitas gempa bumi di Indonesia. Dan peta zona aktif bukanlah prediksi gempa sehingga masyarakat tidak perlu takut dan khawatir,” ungkapnya.

Sementara, Kepala BMKG Bengkulu Kukuh menyarankan kepada masyarakat untuk tetap memperhatikan info dari pemerintah.

“Masyarakat harap tetap tenang dan memperhatikan info pemerintah bila terjadi gempa, serta diharapkan tidak terpengaruh berita hoaks,” ungkapnya, Senin (3/2/2020). [Medi Muamar]