Oleh: Arie Vatresia, PhD*

Bukannya bahagia, banyak orang tua yang stress melihat pengumuman diliburkannya siswa di seluruh tingkat sekolah di seluruh kota di Indonesia. Bukan hanya tumpukan tugas, tanggung jawab orang tua, terutama Ibu menjadi bentambah tambah dengan adanya kebijakan pemerintah saat ini.

Terlebih lagi banyak Ibu yang merasa stress berat karena ternyata mendidik anak tidak seperti yang dibayangkan selama ini. Apalagi, biasanya para Ibu sudah menyerahkan kepercayaan seutuhnya penanganan dan Pendidikan anak kepada sekolah yang sudah dipilih dengan banyak pertimbangan. Lebih lebih, para orang tua juga sudah merogoh kocek lebih dalam untuk membayar uang sekolah yang tidak murah untuk mendapatkan kualitas yang di atas rata-rata.

Namun sungguhkah anak-anak adalah beban tambahan atau memang Ibu yang tidak siap?

Dalam sebuah keluarga, kehidupan anak bermula. Di sinilah ia mendapatkan pendidikan yang pertama dan utama. Di sini ia mendapatkan penanaman akidah sejak dini, pembiasaan pelaksanaan hukum Islam, keteladanan dan penguasaan tsaqâfah dasar. Gurunya adalah orangtua. Karena ayah terbebani kewajiban untuk mencari nafkah, maka tugas ini lebih banyak jatuh di tangan ibu. Sayang, saat ini fungsi ibu sebagai pendidik anak telah bergeser. Para ibu disibukkan dengan upaya mencari nafkah.

Sebagian karena dorongan kebutuhan ekonomi. Sebagian lagi termakan propaganda kesetaraan gender. Akibatnya, pendidikan anak dalam keluarga tidak berjalan sempurna. Orangtua mencukup-kan pendidikan agama anak hanya dari sekolah yang jauh dari memadai. Tidak heran bila kemudian kerusakan anak justru berlangsung di keluarga. Penanaman nilai-nilai liberalisme dan sekularisme lebih
banyak berlangsung dari televisi dan internet di rumah. Merokok, narkoba dan seks bebas, sebagian besar ternyata juga dilakukan di rumah.

Beban ini pun bertambah dengan adanya slogan para feminis dan kesetaraan gender tentang pemberdayaan wanita yang diukur dengan uang. Kemuliaan seorang ibu berubah menjadi kesempatan
wanita untuk dapat bekerja dan berkarya di luar rumah. Segala layanan tersedia untuk mengalihkan peran Ibu yang sesungguhnya di dalam rumah. Akibatnya, pada masa pendemi, para Ibu kewalahan dalam mencari solusi kegiatan anak yang ada di dalam rumah.

Lebih jauh lagi, anak-anak pun menjadi stress dan merasa belajar di rumah tidak semenyenangkan belajar di sekolah. Padahal, seorang Ibu haruslah menuntut ilmu yang banyak bukan untuk eksistensi di luar namun lebih kepada pemberdayaan
anak untuk menjadi generasi unggul di masa depan.

Tidak hanya pada Ibu yang bekerja, fungsi ibu yang tidak berjalan juga terjadi di kalangan ibu-ibu tidak bekerja. Hal ini karena tidak adanya gambaran yang mereka miliki tentang fungsi keibuan yang mereka sandang. Mereka menikah dan punya anak seolah sebagai sebuah skenario yang mesti mereka jalani seperti air mengalir. Tidak ada target dalam mendidik anak. Tidak pula merasa kelak akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Malahan kita dapat menemui ibu-ibu yang justru menjerumuskan anaknya dalam kerusakan. Ibu yang mengajak anak kecilnya untuk menonton sinetron, infotainment, tayangan mistik dan sebagainya. Ibu yang menuruti semua keinginan anak, tidak memberikan batasan benar salah, baik buruk dan abai terhadap agama dan akhlak anak. Masih banyak di antara kita, para ibu, yang gamang dengan persoalan mendidik anak.

Kita menginginkan anak menjadi pemimpin, pejuang, dan pengemban dakwah, tetapi tidak sungguh-sungguh meraih keinginan tersebut, atau tidak tahu harus berbuat apa dalam mewujudkannya. Kita tidak menyusun target-target yang jelas dan terukur. Kita tidak merumuskan langkah-langkah yang jelas. Kita tidak mengevaluasi perkembangan kemampuan anak dalam berpikir, berakidah, tsaqâfah dan sebagainya. Kita tidak melibatkan mereka dalam perjuangan dakwah, bahkan
tidak mengentalkan ruh perjuangan dalam jiwa mereka. Kita membiarkan anak apa adanya.

Tumbuh dalam pengaruh budaya kapitalis-liberalis yang membuat jiwa mereka lemah, terjangkiti oleh penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Dalam kondisi seperti saat ini, kita, para ibu, selayaknya menoleh kembali sejarah para ibu hebat pada
masa lalu. Meneladani upaya mereka. Mengambil semangat perjuangan mereka. Mengikuti langkah mereka dalam mencetak generasi emas, khayru ummah ukhrijat linnâs, umat terbaik yang dilahirkan
bagi manusia. Saatnya kita bangkit sekarang. Kita coba untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri agar sanggup menjadi seorang ibu pejuang. Ibu tangguh yang melahirkan anak-anak yang tangguh.

Wallahualam bis sowab…