Virus Corona. ALFRED PASIEKA/SCIENCE PHOTO LIBRARY.

Dunia digemparkan oleh merebaknya Novel Corona Virus (nCov-2019) di akhir tahun lalu dan semakin berkembang pada pertengahan Januari 2020. Jumlah korbanpun terus bertambah, bukan hanya di Negara tempat munculnya virus ini, Corona Virus juga telah menyebar ke berbagai benua di dunia.

Dikutip dari Kompas.com, data per Kamis 27 Februari 2020 Virus Corona telah memakan korban jiwa sebanyak 2.770, dengan jumlah yang terinfeksi 81.260, dan sebanyak 30.006 orang berhasil sembuh.
Semakin tingginya jumlah korban manjadikan masyarakat meningkatkan kewaspadaan akan penularan virus mematikan ini.

Salah satu bentuk kewaspadaan masyarakat salah satunya dengan cara dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan berada di tempat keramaian mengingat virus ini penularan utamanya adalah melalui udara. Hal ini mengakibatkan permintaan maskerpun meningkat tajam hingga timbulnya kelangkaan masker di beberapa wilayah. Bahkan di negara – negara dengan jumlah infeksi virus corona yang tinggi seperti di China dan Korea Selatan sulit sekali menemukan toko yang masih menyediakan masker. Seperti yang dilaporkan seorang WNI di Korea Selatan melalui video vlog nya di instagram mengatakan bahwa sebagian besar toko kehabisan stok masker.

Walaupun belum ada laporan korban terinfeksi di Indonesia, permintaan masker di dalam negeripun ikut meningkat. Bahkan Rumah Sakit pun ikut merasakan dampak kelangkaan masker ini, seperti di RSUP DR Rivai Abdullah Palembang yang awalnya jumlah masker melimpah kini stoknya berkurang. Peningkatan permintaan akan masker ini dimanfaatkan oleh sebagian besar produsen untuk menaikkan harga jual masker, bahkan di beberapa toko online harga masker dapat meningkat sampai dua kali lipat. Lalu apakah masker yang kita gunakan sudah memenuhi kriteria sebagai perlindungan diri dari virus?

Ada banyak jenis masker yang digunakan di masyarakat, misalnya masker berbahan jenis kain, masker bedah (surgical mask), masker N95, masker N99, masker N100, masker P95 dll. Namun yang paling umum digunakan adalah jenis masker bedah (surgical mask). Masker jenis ini memiliki 3 lapisan, lapisan pertama yang berwarna hijau atau biru bersifat anti air, lapisan kedua berfungsi sebagai filtrate atau penyaring, dan lapisan dalam berwarna putih berfungsi sebagai penyerap air. Surgical mask ini sering dipakai para petugas medis, namun seiring merebaknya virus di masyarakat umumpun banyak yang menggunakan masker ini.

Walaupun masker ini tidak dapat menyaring virus dan bakteri seperti jenis N95 dan jenis masker respiratory lainnya namun surgical mask ini sudah dinilai cukup untuk melindungi diri dari paparan percikan ludah dari batuk dan bersin pada orang yang terinfeksi virus atau bakteri. Namun di masyarakat terdapat kebiasaan yang salah dalam menggunakn masker, yaitu menggunkan masker dengan cara dibalik.

Dengan menempatkan sisi yang serharusnya di luar menjadi di dalam jelas merupakan cara yang salah. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa sisi bagian dalam masker berfungsi untuk menyerap cairan dari pernafasan, dengan menempatkannya di sisi bagian luar menjadikan masker tersebut malah ‘menangkap’ dan menyerap cairan yang ada di udara, jelas ini akan mengundang penyakit menempel pada masker.

Kebiasaan yang salah juga dengan menyimpan surgical mask ini setelah digunakan, padahal masker jenis ini seharusnya dibuang setelah digunakan.

Gambar 1 : Contoh Masker Bedah (Surgical Mask)

 

Gambar 2 : Contoh Masker Respiratory Jenis N95

Jenis masker lain yaitu masker respiratory, contohnya yang umum digunakan yaitu masker N95. Masker respiratory biasanya digunakan oleh tenaga medis yang kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi virus atau bakteri yang penularannya melalui udara, karena masker jenis ini dapat menyaring partikel yang lebih kecil di udara dibandingkan dengan surgical mask dan masker berbahan dasar kain. Masker N95 dapat menyaring udara hingga 95%.

Masker ini juga sering digunakan pada oleh petugas yang kontak dengan asap yang tebal. Namun selain harganya yang mahal, Masker respiratory ini dapat mengakibatkan kesulitan bernafas jika digunakan dalam waktu yang lama, sehingga untuk orang yang mepunyai penyakit asma disarankan untuk tidak mamakai masker ini dalam waktu yang lama. Hal ini disebabkan karena masker ini berbahan tebal dan menutup dengan rapat hidung dan mulut serta mempunyai kawat pada bagian hidungnya.

Semua jenis masker bertujuan untuk melindungi diri dari penyakit dan melindungi orang lain dari tertular penyakit. Tetapi perlu menggunakan masker sesuai dengan tempat dan kondisinya.

Pemakaian masker pun harus diperhatikan agar fungsi masker itu dapat efektif melindungi, pastikan masker menutupi bagian hidung dan mulut serta jangan memakai masker dengan cara terbalik, jangan sampai masker yang kita gunakan tidak sesuai dengan fungsinya bahkan malah dapat mengundang panyakit.

Perlu juga diingat bahwa pemakaian masker saja tidak cukup melindungi diri dari virus, terlebih dengan semakin merebaknya virus corona yang dengan cepat menyebar luas, daya tahan tubuh juga penting untuk dijaga dan ditingkatkan dengan cara mengkonsumsi makan makanan yang bergizi seimbang serta rutin berolahraga.

Ira Septia Sari, AM.Kep, Perawat Pelaksana RSUP DR Rivai Abdullah Palembang