PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Kasus dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan Maulana, seorang perwira polisi yang terakhir bertugas di Polres Bengkulu Utara proses persidangannya dilanjutkan, setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bengkulu menolak Eksepsi yang diajukan kuasa hukum terdakwa Maulana dari Bidkum Polda Bengkulu.

Dalam hal ini, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bengkulu meminta kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) tetap melanjutkan perkara dan membuktikan dakwaannya.

Dalam dakwaan JPU aksi KDRT itu dimulai 2 bulan pasca pernikahan terdakwa dengan korban pada tahun 2018 lalu. KDRT itu diawali dengan cekcok mulut saat keduanya tinggal di asrama Polisi.

Selama setahun melakukan penganiayaan korban mengaku selalu dipukul dan ditendang, dan untuk membuktikan dakwaan, JPU akan menghadirkan 10 orang saksi, mulai dari korban, orang yang melihat peristiwa tersebut dan empat orang saksi ahli.

Akibat perbuatan terdakwa Maulana, korban mengalami luka berat di bagian tubuh termasuk rahangnya yang bergeser dan mata yang menjadi rabun. Tidak hanya itu, korban mengalami trauma psikis yang sangat berat akibat dianiaya oleh terdakwa.

Andri Hendrajaya JPU saat diwawancarai, Rabu (22/4/2020) mengatakan, terkait perkara kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Maulana seoranh perwira polisi waktu itu tanggal 7 April 2020 sidang dakwaan, kemudian pada 9 April 2020 Eksepsi dari kuasa hukum terdakwa. Selanjutnya pada 14 April 2020 tanggapan dari JPU terhadap Eksepsi terdakwa dan pada 21 April 2020 putusan sela dari hakim yang memutuskan sidang dilanjutkan dan eksepsi dari kuasa hukum terdakwa ditolak.

“Kita nanti akan menghadirkan 10 saksi dulu, yaitu saksi korban, saksi yang melihat kejadian dan saksi ahli,” kata Andi Hendrajaya.

Andi Hendrajaya menjelaskan, KDRT terhadap korban pada April 2018 dan Januari 2019, bertepatan di asrama Polsek Maje dan Batik Nau dan ada juga di sepanjang jalan penurunan yang masih dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Bengkuku. Terdakwa melakukan pemukulan terhadap istrinya sehingga mengakibatkan luka berat di tubuh korban.

“Kita ada empat saksi ahli, yaitu saksi ahli mata karena mata korban agak rabun, saksi ahli psikisnya dan saksi ahli untuk batang tenggorokan yang retak didalamnya,” terang Andi Hendrajaya.

Andi Hendrajaya menyebutkan, ketika itu dari pihak kepolisian terdakwa di tahan, waktu itu selama 12 hari mulai dari tanggal 30 Februari 2020 sampai 12 Februari 2020 kemudian penahanannya ditangguhkan.

“Kemudian oleh JPU terdakwa ditahan namun tahanan Kota selanjutnya di Pengadilan juga ditahan tahanan Kota,” jelas Andi Hendrajaya. [Anto]