Oleh: Indah Kartika Sari, SP

Dunia sedang berduka akibat wabah Covid-19. Wabah ini telah meluluhlantakkan seluruh sendi-sendi kehidupan 210 negara dan menginfeksi jutaan orang. Melansir Tirto, total jumlah kasus positif Corona di seluruh dunia berdasarkan data Worldometers, sampai jam 18.00 WIB, 14 April 2020, telah mencapai 1.936.700 orang. Amerika Serikat, Spanyol dan Italia masih menjadi 3 negara dengan angka kasus infeksi tertinggi di dunia.

Semestinya kejadian luar biasa ini disikapi dengan sikap introspeksi, sadar diri dan menjauhkan diri dari sikap sombong atau jumawa juga jauh dari menyalah-nyalahkan pihak lain. Namun kenyataannya tidak demikian. Justru di tengah pandemi yang tidak ketahui kapan berakhirnya, kelompok-kelompok Islamofobia terus ber-ulah memanfaatkan situasi sulit ini dengan terus menyerang Islam dan kaum muslimin.

Islam di berbagai negeri menjadi korban tindakan diskriminasi dan kebencian warga non muslim. Muslim dituduh menjadi sumber sebaran wabah dan sengaja menyebar virus untuk membunuh non muslim. Dilansir dari situs Republika, kelompok-kelompok sayap kanan telah mengambil keuntungan dari ketakutan orang-orang terhadap pandemi covid-19 (virus corona), melalui teori konspirasi dan disinformasi dengan menjelek-jelekkan kaum Muslim, dan menyebarkan propaganda Islamofobia.

Di Inggris, polisi kontraterorisme telah menyelidiki puluhan kelompok sayap kanan yang dituduh memicu insiden anti-Muslim selama beberapa pekan terakhir. Sementara di Amerika Serikat, situs website sayap kanan telah menyebarkan propaganda anti-Muslim secara daring. Mereka menyebarkan teori konspirasi palsu bahwa gereja-gereja di negara itu akan dipaksa untuk tutup selama pandemi, sementara masjid akan tetap terbuka untuk beribadah.

Begitu juga di India, para ekstrimis menyalahkan seluruh populasi Muslim di negara itu. Ekstrimis mengklaim muslim sengaja menyebarkan virus melalui “corona-jihad”. Akibat aksi Islamofobia, kerugian besar dialami oleh umat Islam. Seorang lelaki Muslim di India dilaporkan meninggal karena bunuh diri setelah masyarakat desanya mengucilkannya. Selain itu, pedagang buah Muslim dilarang dan dipaksa untuk menutup operasinya di Haldwani, sebuah kota di India yang dikenal dengan pasar perdagangannya.

Jika mau melihat dengan sudut pandang yang objektif, pandemi Corona bukanlah muncul dari wilayah muslim atau perilaku muslim. Pandemi Corona muncul karena perilaku abnormal orang China yang memakan hewan-hewan liar seperti kelelawar. Virus ini pertama kali muncul di Wuhan, salah satu kota di China. Dokter spesialis Erlina Burhan dari Pokja Infeksi Pengurus Pusat PDPI juga mengatakan, kasus Corona dengan indikasi pneumonia berat ini dimulai dari sebuah pasar ikan yang juga menjual unggas di Wuhan, Tiongkok. Dan saat ini, virus tersebut sudah menyebar hampir ke seluruh negara di dunia dan menginfeksi jutaan manusia, baik muslim dan non muslim.

Di New York, korban Covid-19 juga banyak menimpa umat Islam yang tinggal di sana. Tempat Pengurusan Jenazah Muslim “Muslim Funeral Home (MFH)” tiap hari terima banyak Jenazah Covid-19. Petugas MFH mengaku setiap hari menerima kiriman 50 Jenazah. Kondisi MFH sdh penuh dan sangat kewalahan karena petugas dan sarana terbatas.

Terlepas dari berbagai analisa, pandemi Covid-19 adalah bencana kemanusiaan yang menimpa siapapun dengan agama dan bangsa apa pun. Oleh karena itu, tuduhan bahwa umat Islam merupakan sumber penyebaran Covid-19 adalah tuduhan keji yang lahir dari kebencian yang mendarah daging. Kenapa orang-orang kafir selalu membenci, menyudutkan dan menyalahkan umat Islam? Kita tidak perlu heran ketika Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar telah menguak segalanya dan punya seluruh jawaban atas segala peristiwa di langit dan di bumi.

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya :
“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, apakah kalian sangat membenci kami, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?’.” (QS. Al-Maidah: 59)

Demikianlah Islamofobia merupakan penyakit akut masyarakat sekuler yang selama ini dikenal sebagai masyarakat yang mengusung anti diskriminasi dan kesetaraan. Faktanya mereka menjadikan issu Corona sebagai alat untuk menyerang Islam dan pemeluknya. Artinya anti diskriminasi hanyalah slogan kosong yang digembar gemborkan sebagai topeng untuk menutupi kejahatan mereka. Selain itu, Islamofobia hanyalah makar barat untuk mengkekalkan hegemoni mereka di dunia Islam. Tidak hanya menanamkan kebencian kepada umat Islam namun kebencian itu juga diiringi dengan keberanian mereka untuk menghapus hukum-hukum Islam yang dianggap diskriminatif. Tentu saja dengan bekerja sama dengan komprador-komprador mereka.

Dalam masyarakat sekuler yang menyingkirkan agama dalam kehidupan, tidak dikenal aspek moral dan kemanusiaan. Jadi bukan hal yang aneh, dalam masyarakat sekuler, tuding menuding, tuduh menuduh, saling curiga, yang kuat mengalahkan yang lemah, merupakan perilaku yang sudah menjadi kebiasaan. Jadi tidak ada ketenangan, kedamaian dan keamanan hidup di tengah-tengah masyarakat sekuler. Sekalipun ada kebaikan yang ditunjukkan, namun kebaikan itu hanya lip service untuk menaikkan image positif serta pencitraan sebagai ajang kampanye para politisi sekuler. Semua ini menjadi bukti kerusakan masyarakat sekuler serta kegagalan sistem sekuler menciptakan kehidupan hamonis dalam masyarakat.

Berbeda halnya dalam masyarakat Islam, kehidupannya dilandasi dengan ketaqwaan kepada Allah dan keterikatan kepada hukum-hukumNya. Sekalipun dalam masyarakat Islam diterapkan hukum yang bersumber dari Al-Quran dan Assunnah, orang-orang non muslim dipersilahkan hidup aman dan damai serta memperoleh hak-haknya sama dengan warga negara muslim. Teladan pemimpin atau Khalifah menjadi faktor kuat bagi terciptanya kehidupan harmoni di antara rakyatnya.

Tidak pernah ada konflik laten yang mencetuskan permusuhan dan disharmonisasi di kalangan rakyat baik antara muslim dan non muslim, apatah lagi di antara sesama muslim. Bahkan ketika terjadi wabah penyakit, pelayanan negara berupa jaminan kesehatan gratis dan berkualitas, jaminan pangan bergizi selama wabah diberikan cuma-cuma kepada seluruh rakyat tanpa pandang bulu. Dengan adanya kekuasaan berwujud negara Khilafah, rakyat non muslim akan melihat dengan nyata bahwa Islam adalah agama yang merahmati seluruh alam. Kedamaian, ketentraman dalam kesejahteraan dalam negara Khilafah bukan isapan jempol. Jadi dalam negara Khilafah, Islamofobia bukan penyakit yang mewabahi rakyat non muslim.

Sungguh malang umat Islam yang hidup tanpa Khilafah. Wabah Corona telah membuat kehidupan mereka yang sulit kian bertambah sulit. Juga selalu dihantui ketakutan akan kematian akibat pandemi. Belum lagi hilang rasa aman karena menghadapi kebencian dan permusuhan dari orang kafir berkedok Islamopobia. Wabah corona semakin menyadarkan umat Islam tentang urgensi kekuasaan yang akan menjadi junnah/perisai pelindungi mereka. Sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT dalam firmanNya :

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 55)

Ayat ini menjelaskan tentang janji Allah SWT tentang kekuasaan yang dijanjikanNya kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholih. Dengan kekuasaan tersebut akan tercapai banyak kebaikan. Satu di antara kebaikan tersebut adalah kembalinya rasa aman pada umat Islam setelah sebelumnya mereka diliputi oleh ketakutan. Kekuasaan tersebut berwujud dengan hadirnya adidaya Khilafah sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam.